Libur Lebaran, Jangan Maksa Masuk Obyek Wisata Jika Over Capasity

0
404
Wisnus melihat keindahan Danau Kelimutu NTT (Foto: www.vebma.com)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyarankan agar wisatawan domestik yang menikmati liburan lebaran hendaknya jangan memaksakan diri memasuki area destinasi wisata, jika sekiranya sudah over capacity.

“Pengelola wisata, jangan memaksakan menjual tiket masuk padahal lokasi wisata sudah over capacity. Over capacity bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga keamanan dan keselamatan konsumen sebagai pengguna jasa wisata,” papar Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Bisniswisata.co.id, di Jakarta, Jumat (23/06/2017).

Bahkan, tambah dia, jangan menggunakan sarana prasarana di lokasi wisata, jika terlihat sudah keropos dan tidak dirawat, atau tidak dilengkapi dengan sarana penunjang keselamatan.

Diakuinya, perayaan Idul Fitri bukan hanya untuk silarurahmi antar keluarga, saudara, handai taulan, dan teman sejawat. Namun juga dimanfaatkan untuk berwisata ke destinasi wisata. Memang selama liburan Lebaran hampir semua destinasi wisata penuh sesak oleh wisatatawan nusantara, biasanya mulai hari ke-3 setelah Lebaran.

“Ini fenomena positif, terutama untuk menumbuhkan perekonomian lokal juga membangkitkan semangat berwisata. Namun, disaat pengunjung mengalami lonjakan tajam, tak jarang mengakibatkan petaka bagi pengunjungnya. Ini yang harus diwaspadai,” sarannya.

Untuk YLKI mengharapkan ada Dinas Pariwisata setempat, seharusnya melakukan audit teknis terlebih dahulu terhadap sarana prasana di lokasi wisata, apakah masih layak atau tidak. Terutama untuk sarana prasarana yang berisiko tinggi. “Juga pengelola wisata harus punya standar kapasitas maksimum untuk lokasi wisata,” tandasnya serius.

Pengelola wisata harus mewajibkan adanya alat-alat penunjang keselamatan seperti pelampung/jaket keselamatan untuk wisata air yang berisiko tinggi, seperti danau, telaga dan atau pantai. Dan ada petugas penjaga pantai/danau sehingga ketika terjadi accident konsumen korban bisa cepat dievakuasi dan diselamatkan, tambahnya.

Menurutnya, Dinas Pariwisata juga pengelola wisata harus memonitor harga-harga makanan maupun minuman agar tidak nggetok konsumen. Pengelola warung, restauran harus mencantumkan daftar menu sekaligus dengan daftar harga yang transparan. Pengunjung wisata jangan dieksploitasi dengan harga makanan maupun minuman yang ugal-ugalan.

YLKI juga berharap agar pengelola menambah fasilitas toilet dengan toilet portable dan menjamin ketersediaan air. “Adanya jumlah antrian di toilet, khususnya toilet perempuan, menunjukkan kurangnya fasilitas. Jumlah toilet perempuan seharusnya lebih banyak daripada toilet laki-laki,” lontar Tulus.

Lokasi wisata juga seharusnya dilengkapi dengan klinik kesehatan dan petugas medis yang stand by selama lokasi wisata beroperasi. Ini sangat penting untuk melakukan pertolongan pertama dan bahkan menyelamatkan korban dari fatalitas, sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.