Level Gunung Agung Turun dari Awas Jadi Siaga

0
394
Gunung Agung

KARANGASEM, Bisniswisata.co.id: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM, akhirnya menurunkan status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Status Gunung Agung turun dari Awas (Level IV) menjadi Siaga (Level III).

“Perubahan status berdasarkan hasil pengamatan yang ada menunjukkan aktivitas kegempaan menurun cukup drastis selama sembilan hari terakhir,” ucap Kepala PVMBG Kasbani di Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Minggu (29/10/2017).

Selain itu, menurut Kasbani, manifestasi permukaan kawah juga menunjukkan penurunan. “Di mana asap mulai berkurang berdasarkan hasil verifikasi drone,” ujarnya.

Meski pada tiga hari pertama, 20-23 Oktober 2017, aktivitas Gunung Agung masih fluktuatif, praktis sejak 23 hingga 29 Oktober ini kegiatan vulkanik mengalami penurunan drastis. “Selanjutnya selama enam hari ke belakang, turunnya pelan dan cenderung turun,” kata Kasbani.

Jika pada masih berstatus Awas, tingkat kegempaan begitu tinggi mencapai angka 600 kali bahkan 800 kali hingga di atas 1.000. “Sejak beberapa hari terakhir, aktivitas gempa mengalami penurunan drastis hanya 200 hingga 300 kali dalam sehari,” ujar Kasbani.

Selain dari aktivitas kegempaan, Kasbani menegaskan, PVMBG juga mengamati data dari berbagai alat lainnya seperti global positioning system (GPS), tiltmeter (alat pengukur deformasi gunung), dan penginderaan jarak jauh.

Ternyata, dari data deformasi yang ditunjukkan oleh GPS dan tiltmeter memperlihatkan adanya pelambatan deformasi. “Data satelit juga ada penurunan termalnya. Kami melihat visual juga bahwa manifestasi aktivitas di kawah sedikit mengalami penurunan,” dia memaparkan

Sementara, zona bahaya dari sembilan kilometer dengan sektoral 12 kilometer saat status Awas, kini menjadi enam kilometer dengan sektoral 7,5 kilometer. Sudah satu bulan lebih Gunung Agung berstatus Awas sejak ditetapkan oleh PVMBG pada Jumat malam, 22 September 2017, pukul 20.30 Wita.

Ditempat terpisah, Pemerintah Provinsi Bali tetap memperpanjang status tanggap darurat. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika melalui surat edarannya menyebutkan tanggap darurat diperpanjang dari 27 Oktober hingga 9 November 2017. Ini adalah ketiga kalinya tanggap darurat diberlakukan setelah sebelumnya 13-26 Oktober 2017.

Perpanjangan ini bertujuan memberikan kemudahan akses dalam menangani ancaman letusan Gunung Agung. “Kenyataannya hingga saat ini masih ada sekitar 133.349 pengungsi di 383 titik pengungsian (data per Ahad, 29 Oktober 2017). Mereka masih memerlukan kebutuhan dasar di pengungsian,” kata Pastika, di Denpasar , Ahad (29/10).

Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten dan kota seluruh wilayah Bali terus melakukan penanganan darurat dibantu pemerintah pusat, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mendirikan pos pendampingan nasional di Karangasem.

Gunung suci umat Hindu Bali ini masih belum menunjukkan tanda-tanda erupsi hingga hari ke-39 berstatus awas. Pada hari ke-40, PVMBG akhirnya resmi menurunkan status bahayanya ke level tiga atau siaga. “Meski statusnya sudah diturunkan, masyarakat perlu memahami bersama aktivitas vulkaniknya belum reda sepenuhnya dan masih berpotensi meletus,” kata Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Kasbani.

Zona merah di Gunung Agung kini berada dalam radius enam kilometer (km) dari kawah puncak, ditambah perluasan sektoral 7,5 km. Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi, serta bisa diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.