Lestarikan Jajanan Tradisional dari Gempuran Fast Food

0
1005
kue Sikaporo - kuliner khas Bugis

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Ibu-ibu dari komunitas PKK Kecamatan Makassar, Jakarta Timur mendapat pelatihan jajanan tradisional, kue Sikaporo – kuliner khas Bugis. Langkah ini untuk meningkatkan potensi kuliner khas tradisional di tengah gempuran makanan cepat saji dari luar.

“Pemilihan kue Sikaporo karena makanan khas tradisional ini sangat mudah untuk dibuat,: papar Chef Yeni Ismayani sebagai pemandu dalam program “Jajanan Manis Bersama Gulaku” saat memberi pelatihan di Kantor Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, Selasa (24/5),

Dengan warna-warni yang khas serta rasanya yang manis, lembut, gurih dan kenyal, menjadi daya tarik kudapan khas nusantara ini. Terlebih, kue berbahan dasar tepung beras ini memiliki nilai budaya tinggi. Bahkan, selalu menjadi menu wajib untuk dihadirkan saat prosesi lamaran di masyarakat Bugis, Makassar.

“Apalagi sebentar lagi kan mau bulan puasa, kue ini bisa jadi pilihan. Karena sangat mudah untuk dibuat,” kata Chef Yeni.

Endang, anggota PKK dari Kelurahan Cipinang Melayu mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Menurutnya kuliner tradisional sangat menarik dan mudah untuk dibuat. Hanya saja popularitasnya yang tersaingi makanan internasional, membuat makanan khas lokal jadi kerap terlupakan.

Dia berharap acara seperti ini terus dilakukan agar pemahaman masyarakat, khususnya ibu-ibu tentang kuliner khas lokal semakin bertambah. “Dengan begitu bisa dibuat di rumah dan disajikan ke keluarga,” ujar Endang.

Communication Officer Gulaku, Fiter Cahyono mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk dukungan pihaknya dalam melestarikan warisan kuliner asli Indonesia dan mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menghargai kuliner nusantara.

Ia melihat belakangan kegiatan untuk mendukung jajanan Indonesia sangat kurang. “Gulaku sebagai produsen gula Indonesia merasa tergugah dan peduli untuk membuat sebuah kegiatan jajanan manis,” ujar Fiter.

Pemilihan ibu-ibu komunitas PKK dikatakan Fiter karena dianggap sebagai agen penggerak pelestari kuliner nusantara untuk lebih memperkenalkan jajanan manis khas Indonesia ke keluarga. “Kami melihat ibu-ibu merupakan influencers paling efektif dalam keluarga dan masyarakat sekitar. Sehingga kita berharap kuliner tradisional akan ada di rumah-rumah,” ujar Fiter. (*/RO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.