Lemhanas: Pariwisata Indonesia Tak Mampu Bersaing dengan Negara ASEAN

1
1051
Wisata budaya Bali sudah dikenal wisatawan mancanegara (foto: http://www.crownbaliholiday.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Hasil studi Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) ke-54 Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) menyebutkan meski Indonesia memiliki keanekaragaman, keunikan budaya dan keindahan alam luar biasa, ternyata industri pariwisata di Indonesia belum mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

“Industri pariwisata Indonesia baru mampu menyerap 0,8% jumlah Wisman di tingkat global, 3% di negara Asia Pasifik, dan hanya 9% di kawasan ASEAN. Jika Indonesia menargetkan 20 juta Wisman tahun 2019, ternyata tahun 2014 saja Malaysia datangkan 27,4 juta Wisman, Thailand sudah 24,8 juta Wisman,” ungkap Laksda TNI dr. Amarullah Octavian, pemapar hasil studi saat seminar pariwisata budaya guna meningkatkan masyarakat dalam rangka ketahanan nasional di Gedung Lemhanas Jakarta Pusat, Senin(26/9/2016).

Dilanjutkan, seiring trend positif yang ditunjukkan pariwisata dunia, baik dari sisi jumlah pergerakan wisatawan maupun kontribusinya dalam perekonomian global, maka pariwisata Indonesia juga mengalami trend yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Di dalam negeri, pariwisata selalu berada dalam peringkat keempat kontribusi terbesar kepada kinerja perekonomian nasional.

Tahun 2014 industri pariwisata menyumbang 9% terhadap capaian PDB Indonesia dengan kontribusi sebesar Rp 140 triliun bagi pendapatan devisa. Industri ini juga berhasil membuka 11 juta lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dengan kunjungan 9 juta wisatawan di tahun 2014, industri pariwisata pada tahun 2019 ditargetkan mampu memberi sumbangan sebesar 15% terhadap PDB, Rp 280 triliun devisa, dan membuka 13 juta lapangan pekerjaan melalui 20 juta kunjungan Wisman.

Mencapai target itu, kata dia, peluang pengembangan pariwisata budaya sangat terbuka untuk memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. “Portofolio pariwisata dengan komposisi wisata budaya (60%), wisata alam (35%) dan wisata buatan (5%) menjadikan potensi pariwisata nasional yang ada sangat tepat dengan permintaan dan kebutuhan pasar pariwisata global. Pasalnya, porsi terbesar motivasi (40%) penduduk dunia berwisata karena faktor budaya yang dimiliki suatu negara,”.

Peluang lainnya, adalah tumbuhnya kelompok kelas menengah di beberapa negara berkembang. Besarnya kelas menengah dunia ini merupakan ceruk pasar baru yang sangat potensial karena kelompok ini memiliki gaya hidup yang senang berwisata dan melakukan perjalanan antarnegara, jelasnya.

Juga terjadi peningkatan pada jumlah turis muslim dunia yang melakukan perjalanan lintas negara, di mana secara statistik ditunjukkan tahun 2014 turis muslim mengeluarkan US$ 142 miliar untuk berwisata, di mana US$ 28 miliar merupakan wisata pantai saja. “Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, data dan fakta ini merupakan peluang emas untuk menarik para Wisman muslim berkunjung ke Indonesia,” tandas jenderal bintang dua.

Terkait wisata budaya, Hasil studi PPRA ke-54 mengidentifikasikan pengembangan wisata budaya menghadapi empat pokok persoalan yang menyelimutinya. Pertama, belum digunakannya kreteria sub-index TTCI (Travel and Tourism Competitiveness Index) untuk menyusun kebijakan nasional pengembangan wisata budaya. “Pariwisata Indonesia masih belum berbasiskan lima pilar utama yakni environmental sustainability, health and hygine, tourist service infrastructure, ICT readness serta safety and security,” ungkapnya.

Kedua, Pariwisata budaya di Indonesia masih belum berkembang maksimal karena adanya peraturan perundang-undangan terkait dengan kepariwisataan yang tumpang tindih atau bertentangan antara Kementrian/lembaga dan antara Pemerintah pusat dan daerah.

Ketiga, masih terbatasnya insfrastruktur perhubungan, dan sarana prasarana pada destinasi pariwisata budaya yang belum memadai, sehingga belum mendorong peningkatan lama tinggal serta kunjungan ulang bagi wisatawan.

Keempat, belum sinerginya masyarakat, swasta dan pemerintah dalam pengembangan pariwisata budaya sehingga masyarakat belum tumbuh rasa memiliki, memperlakukan objek pariwisata secara eksploratif dan belum semua destinasi pariwisata didukung oleh berbagai jenis usaha kepariwisataan, sekaligus sinergi yang baik dalam menciptakan produk dan layanan yang berkualitas bagi wisatawan. (endy)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here