Destinasi Wisata Bunaken Tercemar

0
770
Menyelam sampah di Bunaken (Foto: archive.kaskus.co.id)

MANADO, test.test.bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Taman Nasional Bunaken, kondisinya sangat menyedihkan. Akibat kemajuan industri wisata, Taman laut terkenal dengan terumbu karang kini tercemar sampah. Wisatawan pun mengeluhkan, dan bila tak ditangani serius dampaknya wisatawan bakal menjauhinya.

“Benar, kondisi Bunaken kini tak luput dari sorotan wisatawan yang berkunjung ke sana. Ini hendaknya menjadi perhatian bersama,” pinta Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey saat pencanangan “Save Bunaken” dan Bersih-Bersih Pantai di Manado.

Gubernur optimistis, melalui kegiatan bersih-bersih pantai akan semakin melengkapi semangat kebersamaan dan kecintaan lingkungan serta bertanggungjawab menjadikan kembali Bunaken menjadi bersih.

“Pencanangan Save Bunaken 2016 adalah komitmen kami gubernur dan wakil gubernur membangun Sulut melalui pariwisata Taman Nasional Bunaken,” katanya seperti dikutip laman Antara, Sabtu (30/04/2016).

Menurut mantan Ketua Komisi XI DPR, kawasan Taman Nasional Bunaken adalah kawasan pelestarian alam yang telah ditetapkan melalui SK Menterti Kehutanan RI No. 730/Kpts-II/1991 Tanggal 15 Oktober 1991 dengan luas 89.065 hektare.

Kawasan ini memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi dan memegang tiga fungsi strategis dalam konteks pembangunan daerah dan bangsa yakni sebagai fungsi pelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut, mendukung kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat serta pengembangan pariwisata alam.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sulawesi Utara Sanny Parengkuan, menyebut, pencanangan “Save Bunaken” dan Bersih-Bersih Pantai diikuti ASN Pemprov Sulut dan Kota Manado, TNI/Polri serta LSM peduli lingkungan.

“Kegiatan ini akan berlangsung setiap bulan. Nah diharapkan mendorong masyarakat berperan aktif mengurangi pencemaran dengan tidak membuang sampah dan menjaga wilayah pesisir,” katanya.

Taman Nasional Bunaken 10 tahun lalu sama seperti Raja Ampat di Papua yang bersih dan pesonanya menarik perhatian. Namun saat ini makin banyak kunjungan wisata ke Bunaken makin membawa dampak pada kondisi lingkungannya, sambung Boyke Toloh, anggota Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken (DPTNB).

Saat ini tidak bisa dikendalikan produksi sampah, yang dibawa wisatawan saat berkunjung Pulau Bunaken. Juga semakin banyak aktivitas snorkling yang tidak bisa dikontrol, sehingga banyak wisatawan yang menginjak terumbu karang hidup. “Prinsip-prinsip keberlanjutan mulai dilupakan pengunjung dan operator kapal yang membawa wisatawan,” lontarnya.

Operator kapal, sedari awal diberikan tanggung jawab mengkontrol dan memberitahukan kepada wisatawan untuk tidak menginjak karang pada saat snorkling. “Tapi hal itu mulai dilupakan. Padahal wisata ke Pulau Bunaken jualannya adalah keindahan terumbu karang,” ungkapnya.

Tahun 2015, jumlah wisatawan yang masuk ke Bunaken sekitar 13 ribu. Jumlah wisatawan terbagi atas wisatawan mancanegara sekitar 10 ribu orang dan sisanya lokal. Puncak kunjungan terbanyak terjadi di Mei hingga Juni saat liburan sekolah.

“Di waktu-waktu inilah puncak produksi sampah. Kita juga berharap pengunjung dapat memperhatikan kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang telah ditentukan,” ungkapnya sambil menambahkan wisatawan tidak menginjak karang turut menentukan hasil tangkapan ikan oleh nelayan. (*/AN)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.