Lagu Ambon Tahuri Menang Lomba Cipta Lagu POP Daerah Nusantara (LCLPDN) 2016

0
742

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Lagu Tahuri menjadi pemenang Lomba Cipta Lagu POP Daerah Nusantara (LCLPDN) 2016. Seperti kebanyakan lagu dari Ambon, Tahuri bernada riang, sedikit menghentak, dan memprovokasi orang untuk bergoyang.

Lagu ciptaan Matakena WMJ, orang Ambon yang tinggal di Depok, Jawa Barat ini mengalahkan dua kandidat juara; Sao Flores dan Ingek Maninjau, serta tujuh finalis lainnya dalam malam grand final  di Kuningan City, Jakarta Selatan, Rabu (07/12) malam.

Tahuri adalah sejenis kerang besar yang ditiup saat upacara adat. Lewat lagu ini Matakena,menyampaikan rasa syukur masyarakat Maluku akan kekayaan dan keindahan alam yang diberikan Tuhan.

Rieka Roeslan, salah satu juri, mengatakan Tahuri bertutur tentang kekayaan budaya Ambon. Lagu itu, lanjutnya, benar-benar khas budaya pesisir Maluku. Dan sekuruh lirik menggunakan bahasa Ambon. “Liriknya sangat pas, dan nadanya enak didengar,” ujarnya.

Pada malam grand final tampil 10 Finalis LCLPDN 2016:

1. Gadis Melayu, Jambi (Geiskha Erwin)
2. Betawi Masa Kini Peduli Budaye, Jakarta (Sekar Khatulistiwa)
3. Ingek Maninjau, Sumatera Barat (Chikita Meidy)
4. Malioboro, Klaten-Jawa Tengah (Ezaumi “Umi Saudah”)
5. Paguntaka, Pulau Bunyu-Kalimantan Utara (Arief Mutataqien)
6. Sao Flores, Flores-Nusa Tenggara Timur (Ivan Nestorman)
7. Tahuri, Ambon-Maluku (Matakena)
8. Tanoh Meutuah, Aceh (Asrul Syarif)
9. Tao Toba, Banjarmasin-Kalimantan Selatan (Donny Evans Gultom)
10. Torang Bangga Indonesia, Manado-Sulawesi Utara (Stanly Teddy Landung)

Selain Rieka  Roeslan, tim juri lainnya adalah dari Nyak Ina Raseuki Ph.D (Etnomusikolog).Panitia Lomba Cipta Lagu POP Daerah Nusantara 2016 bersama dengan Ikatan Alumni SMA 6 Yogyakarta (NamChe).

“ Alhamdulikah dengan segala keterbatasan yang ada, Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara 2016 (LCLPDN) untuk ke-empat kalinya sejak tahun 2012, dapat terselenggara untuk menggugah kembali kecintaan masyarakat terhadap lagu-lagu berbahasa daerah sekaligus menggali potensi kreatif musisi-musisi daerah, kata Sapta Nirwandar, Ketua Penyelenggara.

Wakil Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif di era Presiden SBY mengatakan lagu berbahasa daerah kini mulai dilupakan generasi muda. tumbuhnya kreatifitas anak muda yang mempunyai kreatifitas luar biasa  jarang menggunakan bahasa daerah untuk karya ciptanya.

“ Sementara kebanyakan stasiun Televisi berjaringan Nasional yang berkedudukan di Jakarta, saling bersaing ketat merebut rating melalui program-program musik yang tak satupun bernuansa kedaerahan, berdampak surutnya karya cipta lagu pop daerah bersaing ditingkat nasional,” ungkapnya.

Oleh karena itu pihaknya menggugah kembali masyarakat atau kalangan remaja agar mencintai dan bangga akan lagu-lagu daerah annual event dalam bentuk lomba dan diadakan setahun sekali, sehingga tercipta karya karya baru lagu pop berbahasa daerah.

“Penyelenggaraannya harus konsisten apalagi lirik lagu-lagu daerah sebenarnya mengandung petuah ataupun ajakan yang menanamkan semangat patriotisme serta bercerita mengenai keindahan alam nusantara. Selayaknya kita dukung penyelenggaraan LCLPDN, ini menjadi langkah strategis mengurangi imbas semakin surutnya kecintaan kalangan remaja terhadap lagu-lagu yang berasal tanah kelahirannya,” tegas Sapta Nirwandar. (*/HAS)



 




 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.