Lagi, Turis Inggris Dijambret di Medan

0
960
Ilustrasi aksi penJambretan

MEDAN, test.test.bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Medan masih tak aman bagi wisatawan. Keberadaan turis asing di Kota Medan menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan jalanan. Kasus penjambretan selalu menghantui para pelancong asing. Korban terus berjatuhan, sayangnya hingga kini belum satupun penjahat jalanan dengan sasaran wisatawan ditangkap polisi.

Kamis (13/8/2015), seorang turis asal Inggris kembali menjadi korban penjambretan di Medan. Pelaku merampas kalung emas seberat 15 gram dari lehernya. korban bernama Simerendeep Khuman (27), dijambret saat berjalan kaki di Jalan Kenanga, Kelurahan Aur, Medan Maimun. “Saya ditemani sepupu. Sebelumnya dari Jalan Palangkaraya mau ke rumah saudara di Jalan Kenanga,” kata laki-laki keturunan India ini.

Di Jalan Kenanga, dua orang pria mengendarai sepeda motor matik memepetnya. Seorang di antaranya menarik kalung emas seberat 15 gram yang melingkar di lehernya. Setelah kalung berpindah tangan, pelaku langsung kabur. Setelah menjadi korban penjambretan, Simerendeep Khuman membuat laporan di Mapolresta Medan. Dia menjalani pemeriksaan di ruang SPKT Polresta Medan.

Kasus penjambretan kali ini merupakan yang kesekian kali dialami turis di Medan. Sebelumnya, Kamis (6/8/2015) siang, sepasang turis asal Inggris, Elyot (25) dan Amaliye Smith (23) dijambret dua pria yang mengendarai sepeda motor. Kedua korban dijambret di Jalan Glugur, dekat Simpang Petisah. Akibatnya, tas sandang milik Amaliye, turis wanita, dibawa kabur pelaku. Beruntung, di dalam tas sandang tersebut hanya berisi kartu kredit dan sejumlah dokumen penting. Sementara uang berada di dalam tas ransel turis pria.

Semula kedua turis ini, tengah berjalan-jalan di Pasar Petisah. Keduanya didrop sebentar oleh pemandunya untuk berbelanja. Bukannya berbelanja kedua turis itu malah jalan-jalan hingga sampai di Jalan Glugur. Naas, ketika sedang menikmati berjalan kaki sembari melihat pemandangan Kota Medan, dua pelaku jambret yang telah mengintainya dari belakang mendekat. Pelaku yang duduk diboncengan merampas tas sandang milik Amaliye. Spontan, keduanya pun terpelongoh kebingungan karena tak fasih berbahasa Indonesia.

Senin (6/7/2015), Astra Taylor (27), warga asing asal Inggris juga menjadi korban penjambretan di Jalan Gatot Subroto, simpang Jalan Pinang Baris, Medan. Kawanan penjambret mengambil satu unit HP milik korban. Sementara, paspor dan barang berharga lainnya selamat. Korban yang merupakan sales mobil di Jerman, sedang menunggu angkutan untuk pergi ke Bandara Kualanamu Internasional Airport.

Saat sedang menunggu angkutan, dua pelaku yang mengendarai sepeda motor lalu merampas tas milik korban. Aksi tarik- tarikan antara pelaku dan korban terjadi. Takut dipergoki warga, pelaku lalu mengambil HP jenis I Phone 5 milik korban dan pergi.

Atas kejadian yang dialaminya, korban merasa takut untuk kembali ke Kota Medan. “Takutlah. Medan tak aman bagi kami (turis asing- red). Saya sudah 10 bulan sudah keliling Asia, seperti China, Thailand, Filipina, Singapore, tapi baru ini dijambret,” komentarnya serius.

Maraknya turis mancanegara yang menjadi korban rampok dan jambret di Medan, pernah mendapat perhatian serius dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut. PHRI meminta ada jaminan keamanan terhadap para wisatawan. PHRI sangat menyesalkan banyaknya turis yang jadi korban kejahatan. “Mereka harusnya mendapat jaminan keamanan kalau berkunjung ke sini. Sebab jika mereka sering jadi obyek kejahatan akan ada imej ke luar bahwa Medan tidak layak dikunjungi.” harap Denny S Wardhana, ketua PHRI Sumut.

Dilanjutkan, di tengah upaya pemerintah pusat dan daerah yang akan mendorong jumlah wisatawan di atas 10 juta kedatangan ke seluruh Indonesia, tentu akan menjadi persepsi negatif dengan kejadian penjambretan itu. “Jika mereka dirampok di sini, para turis itu akan cerita ke wisatawan di negaranya. Coba yang rugi akhirnya kita juga. Ya di sini peran penting aparat keamanan untuk memberi rasa aman kepada pendatang,” tuturnya.

Sebenarnya penduduk setempat pun harus mendapat jaminan rasa aman, namun tentu para turis yang datang pun berhak diperlakukan sama. “Coba kalau misalnya ada tamu datang ke rumah kita, terus kita kasari. Pasti dia tak mau datang lagi. Dan akan cerita ke yang lain agar jangan datang ke rumah kita. Melihat tingginya tingkat kriminalitas terhadap wisatawan ini harusnya sudah jadi warning,” lontarnya.

PHRI Sumut meminta jaminan keamanan terhadap warga Medan dan para pendatang. “Kalau ini tidak bisa kita perbaiki, citra Medan akan jatuh. Jangankan turis asing, kita yang di sini pun cemas kalau tingkat kriminalitas makin tinggi,” tuturnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.