Konsumsilah Gula dan Garam Sesuai Kebutuhan!

0
708
Diskusi Jakarta Food Editor's Club Gathering PT Unilever Indonesia,Tbk bersama media di Jakarta.

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Di Indonesia, makanan dan minuman berkadar gula dan garam tinggi masih banyak dikonsumsi masyarakat. Berdasarkan data Susenas 2011 konsumsi gula mencapai 1.416 kilogram (kg) per kap per minggu dan konsumsi garam sebesar 311 kg per kap per minggu.

“Tak heran, pola konsumsi tersebut meningkatkan prevalensi hipertensi sebesar 25,8 persen dan prevalensi diabetes sebesar 2,1 persen menurut data Riskesdas 2013,” ujar Maria D Dwianto, Head of Corporate Communications Unilever pada diskusi edukasi garam dan gula yang digelar Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) PT Unilever Indonesia Tbk di Jakarta, Kamis (4/12/14).

Konsumsi garam berdasarkan standar yang dibutuhkan tubuh dan direkomendasikan Kemkes adalah lima gram atau 2.000 miligram hingga 2.400 miligram atau setara dengan satu sendok teh per hari.
Sedangkan konsumsi gula sesuai standar internasional adalah maksimal 50 gram per hari atau setara dengan 3-5 sendok makan.

unilevergaram2Gula dan garam memiliki sisi positif dan negatif bagi tubuh. Disatu sisi gula dan garam diperlukan tapi di sisi lain akan memberikan efek yang buruk jika dikonsumsi berlebihan.

Ada penyebab orang menghindari gula atau garan , bumbu penyedap (season) itu dituding menjadi penyebab utama berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, jantung, dan stroke.

“Gula dan garam harus dihindari, itu tidak benar. Yang benar yaitu bagaimana kita makan dengan jumlah yang tepat,” ujar ahli nutrisi Emilia Achmadi, Clinical Dietitian-Food Nutrition Expert, Disease Prevention & Sport Nutrition pada kesempatan yang sama.

Menurut Emilia, tubuh manusia membutuhkan gula dan garam yang cukup. Gula merupakan senyawa turunan dari karbohidrat.
“Tubuh kita membutuhkan karbohirat sebanyak 45-60 persen dari total asupan kalori per hari, termasuk pati dan gula,” ungkapnya.

Menurut Emilia Gula yang diubah dari karbohidrat merupakan energi yang penting untuk aktivitas otak dan organ tubuh lainnya. Kalau tubuh kekurangan energi, maka otak menjadi lambat berpikir.

Sementara itu, garam atau sering juga disebut natrium atau juga sodium, berfungsi penting untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam sel darah dan menyampaikan informasi di dalam sistem saraf dan otot. Garam juga diperlukan untuk penyerapan beberapa zat gizi tertentu dari usus kecil.

Untuk menghindari kelebihan gula atau garam, Emilia menyarankan agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih makanan,

“Masyarakat dapat menghitung kandungan gula dan garam dari makanan kemasan yang mencantumkan label informasi kandungan gizi sesuai % AKG (Angka Kecakupan Gizi),” tambahKasubdit Standardisasi Pangan Khusus, Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Yusra Egayanti.

“Apalagi, saat ini, 25 persen belanja makanan masyarakat Indonesia dialokasikan pada makanan kemasan, jadi mudah menghitung berapa gula atau garam yang sudah kita konsumsi,” jelasnya.

Emilia menjelaskan, “Kalau kita nongkrong di kafe dan memesan ice cappuccino dan kue muffin, kandungan gulanya sudah melebihi batas maksimum. Sebab, segelas ice capucino mengandung 64 gram gula dan kue muffin blueberry 29 gr gula”.

Sedangkan Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemkes) Ekowati Rahajeng mengatakan, “Masyarakat perlu diedukasi agar tidak berlebihan mengonsumsi garam dan gula”.

Menurutnya saat ini penyakit degeneratif penyebab 60 persen kematian dan cenderung dialami usia muda.

Penyakit degeneratif seperti jantung, hipertensi, dan diabetes melitus terlihat semakin meningkat dan tidak lagi hanya diderita usia lanjut tapi juga anak-anak karena pola konsumsi yang salah.

Sejak usia dini anak sudah mengonsumsi gula dan garam secara berlebihan sehingga memicu penyakit-penyakit tersebut akibat pola hidup dan pola konsumsi yang serba instan.

Untuk itu menurutnya konsumsi garam dan gula harus diatur sesuai kebutuhan yang sudah ditentukan untuk mencegah penyakit degeneratif.

“Jadi sebenarnya garam dan gula bukan musuh, bukan sama sekali tidak dikonsumsi tapi harus sesuai ketentuan,” ujar Emilia menutup diskusi tersebut. (evi)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.