Komunitas Pusaka Saujana bahas filosofi kemakmuran motif batik

0
1373
Tiga sekawan pendiri komunitas Pusaka Saujana, Veve Safitri, Angelica Tengker dan Kusuma Prabandari

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Komunitas Pusaka Saujana yang peduli pada pelestarian nilai-nilai, karya seni, situs-situs bersejarah bangsa menyelenggarakan diskusi budaya dan peragaan busana batik untuk mengajak  generasi muda lebih mencintai aset bangsanya, kata Kusuma Prabandari, penyelenggara dan pendiri komunitas ini.

“Kegiatan berlangsung hari ini, Sabtu, 4 juli 2015 di Batik Chic Galleryi,  kawasan Kemang selatan, Jakarta Selatan  membahas Filosofi Kemakmuran Dalam Warisan Budaya bersama Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas. Juga ada peragaan busana karya Novita Yunus yang menggunakan batik dengan motif-motif lambang kemakmuran seperti batik motif kawung,” kata Kusuma, hari ini.

Menurut dia, Erbe Sentanu yang juga pendiri gerakan Save Our Culture melakukan riset sendiri mempelajari motif-motif yang ada dalam batik maupun media lainnya. Di Luar negri, motif-motif kemakmuran juga muncul sehingga menjadi semacam ‘bahasa’ universal yang menjadi tujuan hidup orang banyak yaitu mencapai kesejahteraan hidup.

Kusuma mengatakan, kegiatan yang berlangsung mulai jam 14.00 hingga 17.00 mengajak peserta untuk lebih memahami kekayaan seni budaya Indonesia terutama motif-motif yang menjadi lambang kemakmuran dalam motif-motif batik tradisional.

“Untuk melestarikannya kita dapat mengenakan kain batik menjadi gaun-gaun untuk kegiatan sehari-hari maupun hari istimewa sehingga kreativitas juga terangsang. Ke depan kami mengajak anggota komunitas ini  melakukan perjalanan ke sentra batik Solo, museum, situs-situs bersejarah sehingga menjadi tour yang penuh makna karena dibekali pengetahuan luas tentang nilai-nilai dan filosofi yang diwariskan para leluhur,” ungkapnya.

Pusaka Saujana sendiri, kata Kusuma, memiliki arti sejauh mata memandang dan gabungan pusaka alam dan pusaka budaya. Bersama Veve Safitri dan Angelica Tengker sebagai pendiri, tiga sekawan ini membentuk wadah tersebut untuk menjalankan gerakan pelestarian warisan Indonesia agar dapat didokumnetasikan dalam berbagai bentuk media dan kegiatan.

“Kami misalnya akan membantu perpustakaan Keraton Solo untuk digitalisasi koleksi bukunya karena format digital bukan hanya tuntutan tetapi menjaga pustaka lebih aman dari kerusakan, tahan lama dan dapat menghemat penyimpanan,”

“Gerakan pelestarian warisan Indonesia ini untuk dinikmati dan dimengerti oleh anak cucu kita dari generasi ke generasi agar tetap mengenal jati dirinya sebagai anak bangsa,” tandas Kusuma Prabandari. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here