Komodo – Labuan Bajo, Ikon Wisata Flores yang Mendunia

0
1017

LABUAN BAJO, test.test.bisniswisata.co.id: Nama Komodo – Labuan Bajo sudah mendunia. Mamalia langka yang oleh warga Flores sering dinamai “buaya darat” itu pernah masuk nominasi seven wonder world dan sukses merebut perhatian publik. Kini Labuan Bajo masuk dalam program percepatan 10 top destinasi Kemenpar.

Action awal, tim Pokja 10 Top Destinasi yang diketuai Hiramsyah Sambudhy Thaib itu adalah menggelar FGD (Focus Group Discussion) yang menghadirkan pemangku kepentingan dan stakeholder setempat. Shana Fatina, anggota tim 10 Top Destinasi itu mengkoordinasi FGD, di Sebayur Room, Luwansa Hotel, Labuhan Bajo.

Targetnya? “Integrated Planning untuk pengelolaan ekowisata Flores. Menajamkan komitmen Pemda, Taman Nasional, dan stakeholer untuk mendukung pembentukan single management, singlr destination, dalam mengelola destinasi wisata flores. Lalu, Pembentukan tim percepatan daerah,” jelas Shana Fatina, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi test.test.bisniswisata.co.id, Kamis (7/4/2016).

Drs. Yoseph Tote, M.Si, Bupati Manggarai Timur meyakinkan pariwisata harus digenjot agar menaikkan pertumbuhan ekonomi lokal. Harus tersistem, terukur, dan berkelanjutan. “Labuan Bajo sebagai pusat pengembangan destinasi Flores diharapkan dapat menghidupkan industri lokal dengan segera,” ucap Bupati Tote.

Tote juga menyebutkan, pariwisata Flores memiliki nuansa dan prinsip eko, melestarikan lingkungan. Sayang, Bupati Manggarai Barat berhalangan hadir di FGD itu. Tapi sebetulnya Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur memiliki akar budaya yang sama karena memang dulu satu kabupaten.

Frans Teguh, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar mengungkapkan pihaknya berkewajiban membangun ecosystem ekowisata Flores yang berkelanjutan. Lalu memperhitungkan carrying capacity dan distribusi wisatawan. “Atraksi pariwisata Flores itu sudah berkelas dunia, tapi Aksesibilitas dan Amenitas masih kelas lokal. Itulah yang akan kita carikan solusinya,” ungkap Frans.

Badan Otorita, kata dia, adalah akselerator pembangunan kawasan pariwisata Flores yang bersifat borderless, sehingga bisa saling terhubung antar kabupaten. Komitmen Pemda dibutuhkan dalam bentuk penyediaan lahan clean and clear dan membangun forum koordinasi untuk membuat Rule of Games bersama.

“Tentu untuk membangun budaya hospitality pariwisata, dibutuhkan SDM dari masyarakat Flores yang lebih banyak. Juga untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga. Karena itu, di sini akan segera dibangun Sekolah Tinggi Pariwisata Negeri untuk menyiapkan SDM lokal,” ungkap dia.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa – Kemenko Bidang Maritim, Tito Setyawan, menambahkan saat ini sudah resmi 169 negara yang bebas visa kunjungan ke RI. Dia mengingatkan untuk memperbaiki sistem keamanan turis yang masuk ke Indonesia. Dia yakin, kesadaran masyarakat Labuan Bajo dan Flores sudah sangat tinggi untuk bersama-sama menjaga keamanan.

Badan Otorita Pariwisata (BOP) ini, kata Tito, bersifat otoritatif dan koordinatif. Otoritatif terhadap kawasan yang ditangani BOP, sebagai pendorong kemajuan. Koordinatif dengan semua stakeholder, antarkabupaten, antardaerah, agar memiliki komitmen yang sama untuk tujuan percepatan dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Persyaratan utama BOP ini, kata dia, adalah ketersediaan lahan oleh Pemda. “Flores adalah pariwisata berbasis alam dan lingkungan, jadi perlu diperhitungkan carrying capacity,” jelasnya.

Sisi lain disampaikan Tachrir Fathoni, Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Menurut dia, perlu koordinasi dan sistem integrasi pengelolaan Taman Nasional Komodo dengan Kab Manggarai Barat, dan destinasi Flores lainnya.

Juga harus melibatkan lintas kementrian dengan peran yang beragam. “Flores memiliki potensi kearifan lokal yang berskala dunia, seperti puar (inti), pong (sumber air), dan lingko (sistem pembagian sawah sarang-laba-laba),” kata dia.

Tachrir berpendapat, saat ini perlu dilakukan riset berkelanjutan mengingat objek wisata TNK adalah vital. “Saya setuju, perlu diperhitungkan carrying capacity. Harus berwawasan pelestarian dan konservasi, untuk menjaga agar objek wisata ini terjamin juga masa depannya,” kata dia yang langsung mendukung lahirnya BOP itu. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.