Kolaborasi Seni Kontemporer Prancis-Indonesia Jelajah 11 Kota

0
1182

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Perhelatan festival budaya Prancis atau Printemps Francais, di Indonesia, kembali digelar. Memasuki dekade kedua, Printemps Francais menyuguhkan berbagai pertunjukan seni kontemporer, baik dari Prancis, Indonesia, maupun kolaborasi antardua negara.

Mulai konser musik jaz dan klasik, teater, tarian, seni visual, hingga sirkus kontemporer, akan hadir di 11 kota di Tanah Air pada 15 Mei-16 Juni. Jakarta, Bali, Bandung, Malang, Surabaya, dan Yogyakarta, adalah beberapa kota yang akan dikunjungi.

Menurut Direktur Institut Prancis Indonesia, Bertrand de Hartingh, Printemps Francais kali ini akan lebih menekankan kolaborasi antardua negara. “Sepuluh tahun pertama untuk seniman Prancis di Indonesia. Sekarang kami mau pergi lebih jauh dan berbagi dengan mitra, teman Indonesia kami,” kata Bertrand seperti dikutip laman Sinarharapan.co, Selasa (12/5).

Bentuk kolaborasi yang ditampilkan, pertunjukan musik Gran Kino, band indie-rock Prancis dengan Sarasvati, band Indie Indonesia. Petualangan artistik mereka sebenarnya sudah diawali sejak Printemps Francais 2013. “Setelah pertemuan pertama itu, lahirlah keinginan membuat sebuah kolaborasi seni, yang akhirnya terealisasi tahun ini,” ucap Risa Sarasvati.

Mereka akan mengeksplorasi sebuah naskah kuno Sunda, yang berusia 600 tahun berjudul Bujangga Manik. “Di sini kami nggak menjelaskan terlalu detail tentang Bujangga Manik, tapi dari persepsi kita sendiri,” ujar Risa menjelaskan.

Menurut Risa, ada enam judul lagu yang telah mereka ciptakan. Tiga lagu ciptaan Sarasvati dan tiga lagu lagi karya Gran Kino. Uniknya, karena digarap musikus dua negara, lagu-lagu yang dihasilkan menggunakan empat bahasa Indonesia, Prancis, Inggris, dan Sunda. Proses rekaman sudah sekitar 90 persen dan sedang masuk tahap mixing.

“Secara teknis, proses rekaman terbagi di dua tempat, Bandung dan Prancis. Hasil yang kami rekam dikirim ke Prancis untuk diisi Gran Kino, sesuai persepsi mereka. Begitu juga sebaliknya, mereka mengirimkan tiga lagu mentah hasil rekaman mereka kepada kami,” urai Risa.

Kolaborasi lainnya, wayang dari kedua negara. Printemps Francais mengundang Guignol si boneka Prancis ke tanah Jawa, untuk bertemu keempat Punakawan dan berbincang dalam suasana yang penuh canda, ragam komunikasi yang universal.

Guignol yang realistis memang tak memiliki kekuatan gaib seperti Semar, tapi ia punya bakat konyol yang aneh seperti Petruk. Apa jadinya bila Guignol yang konyol bertemu dengan para dewa supranatural dan ksatria-ksatria Jawa lainnya?

Bertrand mengatakan, festival ini tidak hanya mengomunikasikan tentang seni dan budaya Prancis kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga mengomunikasikan seni dan budaya Indonesia ke masyarakat Indonesia.

“Karena empat tahun saya di Indonesia, saya melihat masih banyak orang Indonesia belum mengenal dengan baik seni dan budayanya,” tuturnya. Karena itulah, festival musim seni kali ini akan menampilkan banyak seniman Tanah Air, mulai dari Frau yang beraliran klasik, Bonita & The Hus Band dengan musik jaz-nya, hingga sang maestro Sundari Soekotjo.(marcapada@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.