Keunikan Bangunan Maupun Kawasan Wisata Sedot Kunjungan Wisatawan

0
795

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata sinergikan potensi berbagai pihak untuk menghasilkan kawasan wisata yang memiliki keunikan dan daya saing unggul, kata Frans Teguh, Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, hari ini (27/11).

“Selama ini lemahnya daya saing kawasan wisata itu karena kurang optimalnya aspek perencanaan dan perancangan makanya kami berinisiatif mengumpulkan para arsitek, konsultan dan kepala-kepala daerah yang memiliki kawasan wisata supaya memiliki keontetikan budaya daerah, keunikan selain aspek keindahan dan kenyamanan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, “ ujarnya.

Berbicara di sela-sela kegiatan Tourism Planning Forum-Tourism Design and Prototype Conference yang berlangsung selama dua hari, Frans Teguh mengatakan peran planner dan designer kawasan untuk memberikan ‘rukh’  dalam suatu rancangan penting sehingga suatu bangunan resort atau bahkan kawasan wisata dapat menyedot kunjungan wisatawan.

“Lewat best practise kami jadi tahu bahwa ada resort hotel yang seluruhnya terbuat dari bambu dan ada tekhnologinya agar bambu bisa tahan lama masa pakainya. Hasilnya keunikan bangunannya saja sudah jadi daya tarik yang menyedot tamu. Designer dan planner memang kita harapkan bisa melestarikan kearifan dan budaya lokal serta membuat properti yang juga melestarikan lingkungan dan bagian dari konservasi alam,” tambahnya.

Dia berharap setelah  memfasilitasi pertemuan antar arsitek, ahli tata kelola kota dan ahli pariwisata untuk bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Bappeda Provinsi, konsultan pariwisata dan akademisi di Hotel Merlynn Park, Jakarta akan meningkatkan index daya saing pariwisata Indonesia.

“Dalam Travel and Tourism Competitiveness Report yang dikeluarkan Workd Economic Forum 2014, Indonesia menduduki peringkat 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya peringkat RI masih diurutan ke 70. Kalau di berbagai daerah ada keunikan kawasan wisata maka daya saing akan meningkat pula,” kata Frans Teguh.

Pembangunan kawasan pariwisata yang seimbang dan berkelanjutan yang meliputi aspek sosial, lingkungan, budaya dan ekonomi merupakan cita-cita yang ingin dicapai. Selain itu , tujuan dari konferensi ini adalah untuk memahami indikator-indikator pembangunan kawasan pariwisata di wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik beragam, baik aspek fisik dan non fisik.

Pembelajaran dapat dipetik dari pihak manapun dan pada tingkatan apapun yang dianggap telah berhasil dalam membangun kawasan. Seperti masyarakat yang memegang teguh local wisdom/ kearifan lokal, dan/atau dapat juga karena kebijakan/policy Pemerintah Daerah untuk menstimulasi pengembangan kawasan, atau investor yang berhasil menciptakan “nilai” dari suatu kawasan yang sebelumnya mungkin kurang atau tidak bernilai sama sekali.

Konferensi menghadirkan beberapa pengelola kawasan pariwisata, perencana/planner dan arsitek/designer yang telah berhasil mengembangkan sebuah destinasi pariwisata di Indonesia sebagai narasumber. Begitu pula beberapa pengulas/reviewer dari berbagai perguruan tinggi dan asosiasi yang berhubungan dengan kepariwisataan.

 

Sedangkan peserta yang diundang adalah stakeholder pariwisata yang meliputi  perwakilan dinas-dinas Pariwisata dari seluruh Indonesia, perwakilan asosiasi dan industrI pariwisata, para perencana dan perancang yang berkecimpung dibidang kepariwisataan dan tidak lupa para perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang telah memenangkan berbagai sayembara perencanaan-perancangan kawasaan/arsitektur di Indonesia. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.