Kereasi Tenoen Etnik Angkat Destinasi Wisata Indonesia

0
715

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kancah akbar Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 kembali dihelat. Seperti biasa ajang bergengsi bagi para desainer ini menampilkan beragam karya dan koleksi rancangan terbaru untuk jadi kiblat mode tahun ini.

Selain itu tak ketinggalan juga mengangkat kekayaaan kain daerah yang ada di Nusantara ini, sesuai dengan temanya Celbration of Culture. Ada tenun, batik, dan bordir serta kerancang, yang dimodifikasi menjadi busana indah dan menawan.

Melalui kereasi dengan mengangat kekayaan tenun Indonesia, diharapkan bisa makin dikenal dan dekat dengan masyarakat, dan tersohor hingga ke mancanegara, termasuk destinasi wisata Indonesia.

Acara yang digelar dari 1-5 Februari 2017 di Jakarta Convention Center ini,dilengkapi dengan pameran dari ratusan desainer yang tergabung dalam Asoasiasi Perancang Pngusaha Mode Indonesia (APPMI) dan peserta lainnya.

Dalam fashion show enam desainer yang disponsori oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), mereka mengusung tema Tenoen Etnik yang diambil dari beberapa daerah. Ada ulos Batak, kain NTT, dan tenun Donggala, Sulawesi Tengah.

Keenam desainer tersebut Ida Royani, Jenahara, Torang Sitorus, Jeny Tjahyawati, Anne Rufaidah, dan Nieta Handayani. Empat di antaranya (Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, dan Torang Sitorus) akan berkolaborasi menampilkan kreasi dari Ulos, kain khas adat Batak.

Hampir 15 tahun mempromosikan kain khas NTT, tahun ini Ida Royani membuat terobosan baru pada rancangan busana muslimnya dengan menggunakan kain khas Sumatera Utara, ulos.

Agar tidak monoton, Ida membagi tema untuk pagelaran busananya kali ini ke dalam dua jenis kain Ulos yang berbeda. Yaitu Pinuncaan dan Sadum. Dibandingkan ulos lainnya, Ulos Pinuncaan memiliki harga jual paling tinggi, karena Ulos ini dibuat dari 5 kain tenun yang telah disatukan.

Ida mengolah Ulos Pinuncaan ini dengan pilihan warna hitam dan putih. Aturan pemakaian Ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang menggunakannya. Dengan pilihan warna hitam, ungu, dan pink tua, Ida mengolahnya menjadi baju, sepatu dan tas. Seluruh Ulos ciptaannnya ini dapat digunakan baik untuk acara formal maupun informal.

Sementara Jenahara, anak Ida Royani, juga tampail dengan rancangan ulos. Melalui lini Jenahara Black Label, dia mengolah kain khas Batak dengan sentuhan edgy yang minimalis. Warna domina yang dipilinya adalah hitam dan merah maroon.

Lain lagi dengan Jeny Tjahyawati, tampil dengan rancangan bertajuk Rarigami Reconstruction. Terinspirasi dari Origami dan Ulos Radigub, dia menggabungkan keduanya dan munculah koleksi bergaya feminin elegan dengan siluet H-Line.

Ulos Ragidub merupakan salah satu jenis ulos dari Batak Toba, yang memiliki derajat paling tinggi dalam tradisi Batak Toba. Origami sendiri merupakan sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang dimulai sejak pertengahan 1900-an.

Jeny menuturkan penggabungkan dua budaya yang bertolak belakang ini menciptakan jenis etnik baru yang tetap khas Indonesia. Melalui kemahiran tangannya, origami ini digunakan sebagai detail hiasan yang memberikan efek 3D pada koleksinya, sehingga memberi kesan hidup. Warna-warna yang digunakan adalah putih gading, hitam, dan merah.

Torang Sitorus tampil dnegan koleksi bertema The Passamot. Karya ini memperlihatkan kesederhanaan dan kesakralan yang mengakar begitu dalam bagi kekayaan budaya, warna, dan tekstil Batak.

Dia menjelaskan penggunaan kain ini terinspirasi dari cerita haru nan bahagia dalam ritus perkawinan adat Batak. Momen saat orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Passamot kepada orang tua pengantin laki-laki sebagai wujud terima kasih telah merelakan anaknya untuk hidup berdampingan bersama putri kesayangannya, mengganti tugasnya untuk membimbing putrinya.

Puncak keharuan yang hanya tergambar oleh derai air mata kebahagiaan. Ulos Passamot adalah wujud berkat dan doa dalam suasana suka.

Koleksi The Passamot bermotif artistik dan didominasi oleh warna lembut dan tegas seperti beige, burgundy, dark grey dan maroon, yang diaplikasikan dalam sentuhan urban lifestyle berbahan katun.

Nieta Tjahyawati dan Anne Rufaidah tampil berbeda dalam koleksinya. Anne menampilkan 16 pakaian bertema etnik yang mengangkat kecantikan dan kekayaan alam dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Pakaian yang bertajuk Tenoen Etik ini dikombinasikan dengan tenun dari Tana Toraja, karena banyaknya kecocokan warna dari dua kain tersebut.

Anne menampilkan warna-warna cerah dalam koleksinya. Dia menuturkan pemilihan tenun dari Indonesia Timur karena ingin mendukung pariwisata nasiona,l yang saat ini sedang gencar dipromosikan. Ada 10 destinasi wisata yang dikenalkan, antara lain Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Menggunakan tenun khas Sulawesi Tengah, Nieta Handayani tampil dengan tema Nagaya Donggala. Nagaya merupakan bahasa Donggala yang berarti cantik.Tenun Donggala yang digunakan adalah tenun bomba dengan motif bunga-bunga untuk outfit rancangan Nieta. Dia mengaku ingin mempromosikan kain khas Sulawesi Tengah yang saat ini masih jarang dikenal oleh masyarakat. (bundayoely@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here