Kepincut Pesona Wisata Garut

0
1940
Kampung wisata Sampireun Garut

GARUT, test.test.bisniswisata.co.id: Dikelilingi rangkaian gunung berapi aktif menjadikan Garut memiliki kekhasan bentang alam yang sulit ditandingi daerah lain. Berkah alam ini dan banyaknya daerah “perawan” belum digarap, menjadikan Garut sebagai surga bagi pengembangan pariwisata Indonesia. Komitmen pemerintah daerah yang mulai getol menggarap pariwisata di Garut, membuat daerah yang dikenal sebagai “Swiss van Java” ini layak dilirik investor baik dari dalam dan luar negeri.

Bupati Garut Rudy Gunawan bahkan menjanjikan akan membuka tangan lebar-lebar bagi investor yang berminat menginvestasikan dananya untuk mengembangkan potensi pariwisata Garut. “Kami menyadari betul arti pentingnya pariwisata bagi kabupaten Garut. Dan sejak beberapa tahun terakhir, pariwisata menjadi salah satu sektor prioritas yang akan kami kembangkan,” kata Rudy pada acara Dialog Bupati & Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut.

Garut setidaknya memiliki 3 kekuatan sebagai daerah potensial wisata, yakni keindahan alam, kuliner, dan budaya. Ketiganya mempunyai kekhasan masing-masing dan juga memiliki daya jual tinggi. “Kami juga punya kekhasan berupa sumber air panas dari gunung Guntur, salah satu dari 9 gunung yang memagari kabupaten Garut. Keunggulan ini bahkan sudah dikenal sejak zaman Belanda dulu,” ujar dia.

Komitmen pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata Garut, kata Rudy, diwujudkan dengan menggandeng Jepang, Kuwait, dan Qatar untuk bersama menggarap potensi wisata Garut. Meski demikian, dirinya masih enggan menyebut secara detail bentuk kerja sama tersebut. “Kami ingin ada hasilnya dulu. Baru setelah selesai, kami akan ungkapkan,” ujar dia.

Rudy menambahkan, investor-investor asing juga mulai melirik Garut. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengeksekusi niatannya. “Ada dari Korea Selatan, mereka berencana membuat tempat wisata yang melebihi Sampireun, dengan salah satu konsepnya adalah floating marketseperti yang di Lembang, Bandung,” ujar dia.

Saat ini, kata Rudy, prosesnya sudah sampai pembebasan lahan. “Itu berupa wisata alam yang memadukan antara wisata air dengan fasilitas modern. Mereka mintanya minimal 100 hektare di daerah Leuwigoong, Garut Utara. Targetnya, 2018 sudah selesai,” ujar dia.

Garut bakal memiliki destinasi wisata religi baru yang akan diresmikan dalam dua tahun mendatang. Berlokasi di Pangatikan, Garut tengah, destinasi yang dinamakan Kampung Santri tersebut akan dilengkapi dengan masjid di bawah air. “Orang Garut ini kan idenya banyak. Mereka melihat dengan konsep arsitek seperti ini, bisa jadi daya tarik. Ini di bawah air. Jadi kalau dilihat dari luar tidak ada bangunan, hanya kolam dengan luas sekitar 3 hektare. Tapi di bawah kolam itu akan ada bangunan masjid,” jelas dia.

Meski demikian, pengembangan pariwisata Garut bukan berarti tanpa kendala. Hal itu pun diamini Rudy Gunawan. “Kendala utama bagi pengembangan pariwisata Garut adalah infrastruktur, terutama jalan. Jalanannya sempit, sehingga berpotensi macet,” ujar dia.

Menyadari hal ini, kata Rudy, pemerintah daerah telah berkomitmen penuh untuk mengatasinya. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah Garut sudah berancang-ancang untuk menggelontorkan dana Rp 300 miliar bagi pembangunan infrastruktur Garut. “Jalan yang semula lebarnya 6 meter, akan kami tambah menjadi 11 meter. Selain akan memberi kenyamanan bagi wisatawan yang kesini, juga membantu masyarakat sekitar,” ujar dia.

Untuk urusan akomodasi, menurut Rudy, pihaknya juga akan terus berbenah. “Ada beberapa hotel bagus yang akan selesai pada 2018, diantaranya milik investor Jepang. Novotel dan Santika juga masuk ke sini. Aston akan tambah lagi,” ujar dia.

Saat ini, ada 21 hotel berbintang di Garut dengan total 1.800 kamar, dan semuanya bisa full book saat libur akhir pekan tiba. Sementara untuk hari biasa, tingkat okupansi sekitar 30 persen.
“Setiap bulannya, rata-rata ada 200.000 wisatawan yang berkunjung ke garut, dan 1.000 wisatawan mancanegara (wisman). Dengan berbagai pengembangan infrastruktur dan destinasi-destinasi baru, angka ini akan melonjak tajam dalam 2-3 tahun ke depan,” ucap Rudy penuh percaya diri.

Rudy menyebut, sebagian besar wisman berasal dari Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Tujuan mereka biasanya ke Cipanas, Limbangan, dan Papandayan. Khusus untuk Papandayan, wisata gunung berapi dengan daya tarik kawah bekas letusannya ini mampu menarik 40.000 wisatawan dan 1.000 pendaki per bulannya. “Nantinya, destinasi wisata Garut juga akan bertambah lagi, yaitu dengan kembalinya kereta api dari Cibatu ke Cikajang. Setelah itu kembali, pariwisata garut bakal berjaya,” kata dia.

Meski baru beberapa tahun terakhir pemerintah Garut fokus menggarap sektor pariwisata, menurut Rudy, hasilnya sudah mulai terlihat. “Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pajak restoran dan hotel naik dari Rp 6 miliar menjadi Rp 12 miliar pada 2014, dan sekarang sudah mencapai Rp 18 miliar,” kata dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut Mlenik Maumeriadi mengungkapkan, Garut juga memiliki sejumlah agenda tahunan yang bisa menjadi ajang untuk menarik wisatawan, seperti Garut Intan Karnaval dan Kawin Cai. Garut Intan Karnaval seperti parade Jember Fashion Carnaval, yang menunjukkan perpaduan budaya dan kreatifitas warga Garut.
“Sementara Kawin Cai merupakan ritual penyatuan air dari 9 komunitas kampung adat sebagai simbol silaturahmi dan bentuk kearifan lokal yang tetap dipertahankan warga Garut,” jelas Mlenik.

Garut, lanjut Mlenik, juga menjadi surga bagi penggemar kuliner dan produk kerajinan tangan. “Kalau menyebut sentra Jaket Kulit dan Akar Wangi, Garut pasti ada di urutan pertama. Dan semua orang tentu sudah tidak asing lagi dengan dodol Garut ataupun Chocodot,” tutur dia seperti dikutip laman beritasatu.com, Kamis (01/10/2015).

Dengan segala keistimewaannya, kata Mlenik, Garut bagai sebuah paket wisata lengkap yang mampu menjadi magnet bagi wisatawan. “Mulai dari keindahan alamnya yang khas, keragaman budayanya, hingga kuliner-kulinernya yang sudah terkenal seantero nusantara. Garut bagai intan kasar di industri pariwisata Indonesia, dan sekarang saatnya bagi kita untuk memolesnya,” kata Mlenik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.