Kepala daerah antusias menerapkan City Branding untuk menjaring kunjungan wisatawan

0
1155
Seminar City Branding di Auditorium PT Garuda Indonesia di kawasan Bandara Soekarno Hatta menghadirkan Kevin B Murphy, chairman Pacific Asia Travel Association (PATA), kedua dari kiri, di dampingi SD Darmono, pendiri PT Banten West Java TDC, Dirut Garuda Indonesia, Arif Wibowo, I Gede Pitana, Kepala Badan Sumber Daya Kemenpar dan Sarwani sebagai moderator dari Harian Bisnis Indonesia. ( foto PATA Indonesia)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sejumlah kepala daerah semangat membuat City Branding agar daerahnya dikenal luas disertai persepsi baik sehingga menjadi destinasi wisata unggulan. Hal itu terungkap dalam seminar “City branding, Menjual Destinasi Pariwisata Daerah ke Pasar Dunia yang diselenggarakan oleh , PATA chapter Indonesia, Kementerian Pariwisata RI dan Garuda Indonesia, hari ini.

Seminar  menghadirkan nara sumber Dirut Garuda, Arif Wibowo, Setyono Djuandi Darmono,pendiri PT Banten West Java TDC (PT BWJ), I Gede Pitana, Kepala Badan Sumber Daya Kemenpar dan Kevin B Murphy, Chairman Pacific Asia Travel Associaton (PATA) dari Bangkok serta President & CEO PATA Indonesia Chapter, Purnomo Siswoprasetijo.

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa”aduddin Djamalmengatakan pihaknya sudah mencanangkan Banda Aceh sebagai World Islamic Tourism, destinasi Islami Dunia pada 31 Maret 2015 lalu bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya.

“Dari seminar ini kami mendapatkan masukan bahwa tagline Banda Aceh Serambi Mekah jangan dihilangkan karena agama Islam memang masuk pertama kali ke Indonesia lewat Aceh. Jadi nanti branding Banda Aceh Serambi Mekah lebih menguatkan sebagai destinasi islami dunia,” ujar Illiza pada seminar yang berlangsung di auditorium Garuda Indonesia di kawasan Bandara Soekarno Hatta.

Banda Aceh adalah kota yang memiliki sejarah konflik itu harus bebas dulu dari stigma tidak aman, tapi harus mencitrakan kota yang aman, damai tempat untuk melakukan wisata spiritual dengan pusat kegiatan di Mesjid Baiturahman yang bersejarah. Kawasan mesjid yang bersejarah termasuk saat terjadi tsunami Aceh 10 tahun lalu bisa menjadi alternatif bagi wisatawan domestik yang belum memiliki kesempatan umroh ke tanah suci.

“Kalau bisa pramugari Garuda Indonesia yang melayani rut eke Banda Aceh juga mengenakan hijab sehingga akan memperkuat branding yang sudah kita luncurkan. Saya optimistis sebagai anggota PATA kami bisa menjaring lebih banyak wisatawan ke Aceh,” kata Illiza.

Pentingnya City Branding juga dirasakan oleh Siti Masitha Soeparno, Walikota Tegal yang akan mendorong daerahnya memiliki City Branding sebagai tujuan wisata pula seperti pemerintah kota lainnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal bekerjasama dengan PT Pelindo III (Persero) akan mengembangkan Pelabuhan Kota Tegal, sebagai pusat industri perikanan.

“Jadi keinginan Presiden Jokowi agar kita mengembangkan maritim akan kita kembangkan pelabuhan Tegal bukan hanya sebagai pelabuhan peninggalan Belanda tetapi juga industri perikanan yang pertama di Indonesia,”ujar Walikota yang akrab dipanggil Sitha ini.

Sudah saatnya tidak memunggungi laut seperti harapan Presiden Jokowi juga membuat pihaknya akan memanfaatkan pesisir Pantai Martoloyo, Kelurahan Mintaragen dan Kelurahan Panggung Kecamatan Tegal Timur menjadi area olahraga sepeda Cross Country sekaligus mengembangkan paket wisata Pantai Alam Indah.

“Ada potensi yang dapat dikembangkan di Kota Tegal agar orang ingin berkunjung ke Kota Tegal. Salah satunya di bidang olahraga sepeda dengan lintasan cross country yang diintegrasikan dengan wisata alam PAI, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetap kita dapatkan,” ungkap Sitha yang juga putri dari mantan Dirut Garuda Soeparno.

Dia mengungkapkan bahwa untuk aksesibilitas turis ke Tegal pihaknya mengandalkan kereta api karena itu fungsi stasiun Tegal sebagai hub untuk ke tempat-tempat wisata spiritual dan wisata sejarah di kota Tegal juga akan dioptimalkan.

“ Setelah pulang dari seminar City Branding ini kami akan membahas dengan jajaran pemerintahan kota Tegal untuk menetapkan branding yang tepat sekaligus menggandeng PATA chapter Indonesia untuk menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak perekonomian masyarakat,” tuturnya.

Apalagi pelabuhan Tegal merupakan pelabuhan peninggalan jaman Belanda, diperkirakan dibangun pada abad ke 18. Pada masa itu Pelabuhan Tegal sudah berfungsi sebagai pusat kapal-kapal dagang, bahkan pada era abad itu, Pelabuhan Tegal sempat disebut sebagai “HAVEN ZUCKER” (Pelabuhan Gula), karena ekspor gula ke Negeri Belanda (Negeri Eropa) dilewatkan melalui Pelabuhan Tegal

President & CEO PATA Indonesia Chapter, Purnomo Siswoprasetijo menyatakan, “City Branding merupakan suatu strategi yang dilakukan negara atau daerah untuk membuat positioning yang kuat dalam target pasar mereka seperti layaknya positioning produk atau jasa sehingga negara atau daerah tersebut dapat dikenal secara luas di seluruh dunia,” ungkapnya.

Purnomo mengklaim sedikitnya 100 dari target 300 kepala daerah menghadiri seminar “City Branding” ini yang sekaligus menjadi ajang bertukar pikiran antara kepala daerah juga dengan sesama pelaku industri pariwisata Indonesia bersama para stakeholder pendukung lainnya.

Konsep branding dalam dunia bisnis,  sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Oleh  karena itu, banyak perusahaan mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk dapat mempromosikan brand-nya ke masyarakat luas. Begitupun dengan konsep brand pariwisata, dengan potensi penerapan otonomi daerah serta meluasnya tren globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berupaya untuk merebut pasar, khususnya para wisatawan dan investor kedaerah masing – masing.

“Secara definisi, City Branding adalah identitas, simbol, logo, atau merek yang melekat pada suatu daerah. Pemerintah daerah harus membangun brand untuk daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi target daerah tersebut.”kata Purnomo.

Berbagai benefit yang akan didapatkan dengan penerapan strategi “City Branding” tersebut, diantaranya adalah awareness, reputasi, serta persepsi yang baik mengenai sebuah destinasi wisata Selain itu, konsep “City Branding” dapat mendorong iklim investasi, maupun peningkatan kunjungan wisata destinasi wisata.

Sementara I Gede Pitana mengingatkan agar daerah yang telah memiliki City Branding mempunyai  pesan yang kuat dan jelas serta  mengintegrasikannya dengan branding nasional yaitu Wonderfull Indonesia ( WI) untuyk pasar mancanegara dan Pesona Indonesia (PI) untuk pasar domestik. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.