Kembangkan Wisata Gunung Everest, China Gelontarkan US$20,4 Juta

0
772

SHANGHAI, bisniswisata.co.id: Gunung Everest termasuk tempat paling menarik di dunia untuk dikunjungi. Setiap tahun, puluhan ribu wisatawan melalui Nepal mencoba mencapai tempat penampungan pendaki di kawasan gunung itu.

Sementara, ribuan pendaki berusaha mencapai puncak Gunung Everest. Ini adalah peluang bisnis besar, dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi penduduk lokal. Namun, besarnya kunjungan wisatawan (pendaki), tidak disertai dengan panduan perjalanan berkualitas menuju puncak.

Di sisi lain, dibutuhkan biaya besar untuk memandu wisatawan demi mencapai puncak Everest. Selain biaya, kehadiran ribuan wisatawan itu juga menimbulkan masalah sampah. Para wisatawan meninggalkan banyak sampah di sekitar penampungan (base camp), khususnya saat musim panas.

Everest menjulang di antara perbatasan Nepal dan Tibet. Media lokal melaporkan, Pemerintah China berencana membangun pusat pengunjung berukuran besar di sisi Everest yang termasuk bagian wilayah China.

Untuk itu, Pemerintah China menggelontorkan dana sebesar US$20,4 juta. Investasi tersebut digunakan untuk membangun hotel, museum, serta toko-toko yang menjual peralatan mendaki gunung.

Seperti dilaporkan News.com.au, pembangunan itu akan dimulai tahun 2017, dan selesai pada tahun 2019. Sayangnya, Pembangunan fasilitas untuk para wisatawan di sekitar Everest itu menuai kritik. Pasalnya, Tibet dan China masih dalam tahap konflik. Wisatawan pun menghindari kunjungan melalui Tibet, selain karena infrastruktur yang kurang.

Selain membangun hotel, museum, toko, Pemerintah China juga membangun fasilitas kesehatan dan helipad di Gangkar. Pembangunan helipad ini ini, menurut wartawan Conde Nast Traveler, Lilit Marcus, akan membuat helikopter lebih mudah menyelematkan pendaki yang terluka, karena longsor atau badai salju di dekat puncak.

Sedangkan, bagi pengunjung berkantong tebal dan bukan pendaki, biasanya mereka berada di “base camp”. Di sini, para wisatawan biasanya ‘nongkrong’ menikmati suasana Everest.

Memang, Tak mudah untuk mencapai puncak Everest, seperti pada tahun 1996, terjadi bencana. Sebanyak 12 orang tewas ketika itu karena terperangkap di dekat puncak karena badai salju.

Satu dari 12 orang yang tewas adalah sosialita asal New York bernama Sandy Pittman. Kabarnya, sosialita ini mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk dipandu menuju puncak Everest, karena dia gagal mencapainya dalam dua perjalanan sebelumnya. Tapi, akhirnya dia terperangkap badai salju saat menuju puncak.

Penulis John Krakuer dalam bukunya berjudul “Into Thin Air” menyebut, bahwa praktik memandu turis yang ingin menuju Puncak Everest ini telah menimbulkan kemacetan, dan ini sangat berbahaya bila terjadi di gunung.

Sebenarnya, menurut John, pemandu tak perlu mengambil risiko yang tak perlu demi membawa wisatawan kaya ke puncak Everest.

Selain China, pihak Tibet juga membangun infrastruktur baru untuk meningkatkan perekonomian. Pembangunan infrastruktur ini sekaligus menambah penghasilan bagi kawasan miskin di sekitar Everest.

Proyek tersebut juga baik untuk stabilitas, karena ada juga wisatawan yang datang dari kawasan China menuju Everest. Fasilitas-fasilitas itu akan semakin menarik perhatian wisatawan dunia.

Para pendaki pun mengapresiasi pembangunan infrastruktur itu, dan bisa mengurangi risiko kecelakaan bagi pendaki yang belum profesional. (*/NCA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.