Kemajuan Pariwisata Manado Belum Diimbangi dengan Kebersihan

0
836
Turia asing di Pulau Siladen Manado (Foto: .initempatwisata.com)

MANADO, test.test.bisniswisata.co.id: Pariwisata Manado Sulawesi Utara (Sulut) kini mengalami kemajuan yang luar biasa. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mengalami grafik kenaikan yang menggembirakan. Kemajuan ini berkat komitmen, concern dan kerja keras yang dilakukan CEO nomor satu di Provinsi Sulawesi Utara dalam mengembangkan Pariwisata demi kemajuan perekonomian daerah maupun warganya.

Tahun 2015, secara kumulatif, kunjungan wisman ke Sulut tercatat 19.465 orang melalui bandara Samratulangi. Setelah ada direct flight dari delapan kota China, diprediksi kunjungan wisman asal Tiongkok bisa menohok jumlah kunjungan hingga mencapai 30.000 orang hingga akhir tahun 2016.

Sejumlah obyek wisata di Manado yang kerap dikunjungi wisman antara lain Bunaken, Pulau Siladen, Taman Laut Tumbak dan Pulau Lembeh. Kawasan ini menawarkan wisata bahari dengan keindahan bawah laut yang memiliki terumbu karang serta beraneka ragam ikan laut , sehingga sangat tepat untuk diving, snorkling, maupun swimming.

Kenaikan kedatangan turis asing ini, berkat CEO atau pimpinan daerah yang concern, serius juga sebagai lokomotif penggerak dalam mengembangkan pariwisata dengan cepat, maju dan berkembang lebih baik lagi. Sebaliknya, jika CEO di setiap daerah di Indonesia tidak punya komitment, sehebat apapun potensi wisatanya, tidak akan tereksplorasi dengan baik.

Ada dua hal baru yang bakal hadir 1 September 2016. Pertama, direct flight Manado ke-6 kota di China itu akan berlanjut ke regular flight, terjadwal harian. Bukan lagi chartered flight.
“Ini adalah kemajuan di bidang akses yang sangat berarti bagi pariwisata di Manado dan Sulut untuk pasar China,” jelas Kadispar Sulawesi Utara Happy Korah, di Manado seperti dilansir laman Sindonews.com, Rabu (24/08/2016).

Pada 1 September 2016 juga ada rute Manado-Davao-Filipina pp yang siap menyusul. Diharapkan dengan adanya penerbangan langsung ini, jumlah turis yang datang ke Indonesia akan lebih meningkat. “Mulai 1 September ada penerbangan langsung Manado-Davao dengan Wings Air. Namun Lion Air Group belum menyurat terkait slot time (jadwal kedatangan dan keberangkatan, red),” papar Halendra Waworuntu, General Manager Angkasa Pura I Bandar Udara Sam Ratulangi.

Pembukaan rute Manado-Davao City PP diyakini bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan. Maklum, Manado dekat dengan Filipina tidak terlalu jauh. Tidak sampai 1.000 km atau sekitar 90 menit terbang dengan Boeing 737-800, Davao-Manado sudah bisa dijelajahi. Bila dikolaborasikan dengan wisata di Manado dan destinasi Pariwisata lain yang sudah berkelas dunia, hasilnya dinilai bisa dahsyat.

“Atraksinya sudah kelas dunia. Wisata baharinya kuat, baik ‘underwater’ maupun bentang pantai. Jadi pembukaan rute Manado-Davao ini sudah pas. Aksesnya dekat ke Pulau Cebu, Davao, Filipina. Turis di sana bisa ditarik juga ke Manado,” timpal Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey.

Bukan hanya Lion Group yang melirik rute Manado-Davao. Maskapai penerbangan Brunei, Korea Selatan dan Jepang mulai menjajaki penerbangan antarnegara ASEAN itu. “Memang sudah mulai banyak yang tertarik membuka rute penerbangan menuju Manado. Mudah-mudahan sampai Desember 2016 bisa bertambah 12 rute penerbangan per hari,” kata Olly.

Dan kini tengah dilakukan negosiasi pembukaan rute penerbangan Manado-Davao. Bahkan kelak dikembangkan lagi ke Cebu Island. “Turis Korea yang ke Cebu Island Filipina itu lebih 1 juta orang setahun. Sangat signifikan. Dua pesawat yang mengangkut ke sana, yakni Jeju Air dan Jin Air yang sudah bertemu dengan kami. Mereka juga minta mitra airline Indonesia, untuk terbang lanjutan ke Indonesia, dan Lion Group sangat cepat menangkap peluang ini,” ungkapnya.

Ditambah dengan akses Davao-Manado, Olly yakin kunjungan wisman ke Sulawesi Utara bisa menembus angka 2.500 orang per hari. “Perputaran uangnya besar kalau pariwisata. Saya targetkan untuk wisatawan asing yang datang membuang uang di Sulut minimal Rp15 juta per orang. Jadi kalau target kami tembus sampai 1 juta kunjungan, bisa dibayangkan dampaknya,” ujar Gubernur Olly pekan lalu.

Yang masih menjadi PR saat ini menurut Olly adalah infrastruktur penunjang pariwisata. Pelabuhan wisata masih belum memenuhi standar. Akses menuju ke beberapa tempat wisata juga masih belum maksimal. Kebersihan masih jauh dari harapan.

Persoalan sampah juga belum tuntas diselesaikan Data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulut menunjukkan, capaian realisasi investasi sektor pariwisata sendiri senilai Rp193,04 miliar. Jumlahnya masih jauh di bawah sektor industry dengan porsi 32,41 persen, realisasi investasi mencapai Rp983,76 miliar dan energi dan sumber daya mineral mencapai Rp251,32 miliar.

“Itu bukan kendala, tapi tantangan untuk memajukan pariwisata. Pelan-pelan sudah mulai dibenahi. Kami sudah menerima calon investor, baik perhotelan maupun yang lain. Kami mendorongnya untuk masuk,” ujarnya.

Sejumlah pengusaha pariwisata di Manado mengeluhkan sampah plastik di laut Bunaken karena merusak karang serta keindahan alam di tempat itu. Merea juga sering menerima keluhan dari para wisatawan yang menyelam di taman Bunaken, banyaknya sampah plastik di karang-karang.

“Sebenarnya dibandingkan dengan daerah lain seperti Wakatobi dan Raja Ampat, Bunaken lebih unggul, karena jarak tempuh yang singkat, sehingga memudahkan untuk sampai ke sini, namun sampah plastik menimbulkan kekhawatiran, akan menurunkan nilai jual Bunaken, sebab terumbu karang akan rusak. Kita harus bisa menyelesaikan masalah sampah di lokasi wisata tersebut,” ungkap pengusaha pariwisata Manado Christian Longdong.

Sementara Wali Kota Manado Vicky Lumentut mengatakan, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah sampah yang sampai ke laut Bunaken. Pemerintah sudah memasang jaring sampah di seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) di Manado, tetapi memang ini belum bisa menyelesaikan masalah tersebut sekaligus.

“Apalagi sampah yang sampai kelaut lewat sungai itu, bukan hanya dari Manado, juga dari Minahasa, Minahasa Utara dan Tomohon. Penyelesaianya tidak semudah yang dikatakan orang, namun bukan berarti tak diatasi,” tandasnya sambil menambahkan bukan hanya memasang jaring juga sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai intens dilakukan, sehingga bisa mengurangi volume sampah yang sampai ke laut. Ternyata sampah tetap banyak. (*/SIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.