Keluhan Pelayanan KRL: Semrawut, Amburadul, Pelayanan Rendah

0
1265
KRL diprotes penumpang, pelayanan amburadul (foto: sinarharapan)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek meningkat, sayangnya pelayanan dan fasilitas bagi penumpang masih sering dikeluhkan. Salah satunya, tempat duduk penumpang di setiap stasiun. Selain tidak terdapat penyangga, kursi di stasiun terbatas. Kondisi itu ditambah lagi dengan atap bagi penumpang yang menunggu kereta. Antrean pengembalian uang jaminan tiket harian pun membuat stasiun semrawut, amburadul, pelayanan rendah juga tidak profesional.

PT KAI Commuter Line Jabodetabek pada Februari 2015 menyebutkan, jumlah penumpang kereta menembus angka 200 juta. Tercatat, sebanyak 206.783.321 orang menggunakan jasa Commuter Line selama 2014. Rata-rata, pengguna layanan kereta ini per hari mencapai 700.000 penumpang.

Di Stasiun Kranji, Bekasi, Selasa (10/11) siang, tempat duduk penumpang di sana sangat minim. Kalaupun ada, tempat duduk tidak dilengkapi penyangga. Kursi juga terbatas. Kondisi itu diperparah dengan kondisi atapnya. Rangkaian kereta Bekasi-Jakarta Kota paling belakang tidak mendapatkan atap. Hal ini kerap dikeluhkan di musim hujan.

Bentuk atap yang membentuk huruf V dikeluhkan salah satu penumpang, Deti Mega (26). Ia mengatakan, saat musim hujan yang disertai angin, air langsung mengenai penumpang yang ada di tempat tunggu. “Semalam (Senin, 9/11), itu pas angin, semua ke penumpang. Tempat duduk juga kena, nggak ada penopang untuk air hujannya,” tuturnya.

Di Stasiun Bekasi, Kranji, Cakung, Klender Baru, Buaran hingga Jatinegara, tempat duduk sangat minim. Bahkan, di jalur 3, 4, dan 5 Stasiun Jatinegara, tidak terlihat tempat duduk. Akibatnya, penumpang terpaksa berdiri. Bagi mereka yang tidak kuat berdiri, ada yang duduk di lantai peron.

Tidak hanya masalah tempat duduk dan atap stasiun, Budi (45), penumpang lain tujuan Depok menilai, seharusnya fasilitas lain ditambahkan. Salah satunya, fasilitas air minum gratis karena di gedung-gedung pemerintah sudah tersedia fasilitas tersebut.

Annisa Putri (23), penumpang lain, meminta agar fasilitas ibadah diupayakan berada di dalam stasiun sehingga penumpang yang mengejar waktu salat tidak harus keluar stasiun terlebih dahulu. “Di Depok, tempat salat ada di luar stasiun. Jadi, kalau mau salat, tapi mau lanjut naik kereta, harus izin sama petugas. Kalau-kalau lupa nge-tap kartu, kena pinalti,” ujarnya seperti dikutip laman SH.com, Rabu (11/11/2015).

Kondisi berbeda ditemukan di sejumlah stasiun di Jakarta Barat. Loket stasiun dipenuhi antrean pengembalian uang jaminan tiket harian, seperti di Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat. Padahal, sebagai salah satu stasiun paling ujung, pengembalian yang cepat dapat memudahkan masyakarat untuk beraktivitas kembali.

Antrean pengembalian uang jaminan tiket harian Commuter Line sering kali terjadi di Stasiun Jakarta Kota pada jam-jam sibukm, seperti pagi-sore hari. Antrean mengular dan mengganggu pintu keluar selatan stasiun. Itu karena keberadaan loket pengembalian uang jaminan tiket harian Commuter Line berada di ruangan yang sama. Padahal, pintu keluar selatan ini menghubungkan banyak pusat perniagaan di kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Fasilitas di ruang tunggu Stasiun Bogor juga sangat minim. Di ruang tunggu yang tertutup itu, hanya ada dua bangku panjang dengan kapasitas empat orang per bangku. Di peron terbuka, ada beberapa bangku yang terbuat dari besi, namun jarang digunakan calon penumpang karena tidak ada pelindung dari terik matahari maupun hujan.

Akibat minimnya fasilitas kursi maupun bangku, calon penumpang terkadang harus duduk di tangga saat menunggu kereta api. Rasa miris kerap timbul saat melihat lansia yang harus duduk di lantai emplasment stasiun karena tidak kebagian tempat duduk.

“Pihak pengelola Stasiun Bogor kurang memperhatikan kenyamanan penumpang, terutama fasilitas buat manula (manusia lanjut usia-red) yang harus berdiri menunggu kereta,” ujar Dodo, warga Bubulak, Kota Bogor.

Sejumlah stasiun di Tangerang Selatan masih belum berpihak kepada kepentingan penumpang, seperti diungkap Vera (23), warga Bintaro. Ia mengeluhkan atap peron stasiun Sudimara, Jombang, yang belum sepenuhnya tertutup untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan. “Atapnya sepotong begini, bagaimana kalau nunggu pas hujan? Ya, tetap kehujananlah. Pas matahari nyorot, juga tetep kepanasan, sama aja boong,” katanya.

Sejumlah stasiun di Kota Depok, seperti Stasiun Citayam, Depok, Depok Baru, Pondok Cina, dan Stasiun Universitas Indonesia (UI), justru banyak tempat duduk yang kosong. Sebagian besar penumpang lebih memilih berdiri, ketimbang duduk.

Memang, hampir semua stasiun yang ada di Kota Depok dibangun tempat duduk tunggu bagi calon penumpang. Tempat duduk yang terbuat dari besi itu, dibangun berlapis. Kondisi semua stasiun juga terlihat cukup rapi dan bersih.

Pengguna Commuter Line dari Bekasi-Jakarta Kota mengeluhkan minimnya tempat duduk di stasiun. Mestinya, peron dilengkapi tempat duduk yang cukup. Jadi, penumpang tidak berdiri sambil menunggu kereta yang tidak pasti kedatangannya. Sudah tidak ada tempat duduk di stasiun, di dalam kereta, juga berdiri, terlebih saat pagi dan sore hari. Ini sangat menyiksa.

Keluhan itu diungkapkan Marianto (21), seorang mahasiswa yang setiap hari berangkat dari Stasiun Bekasi menuju Depok. “Rasanya mau mati saja kalau berdiri terus. Sudah di stasiun berdesakan, di dalam kereta juga masih harus berdiri berjam-jam. Jangan mentang- mentang ongkosnya murah, lalu PT KAI tidak memedulikan keselamatan penumpang,” katanya (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.