Keliling Krui, Kota Kecil Penggoda Pemburu Ombak dari Berbagai Belahan Dunia

1
2026

KRUI, Lampung, test.test.bisniswisata.co.id: Perjalanan 35 menit di atas pesawat Wings Air dari Bandara Halim Perdanakusumah ke Bandara Raden Inten II di Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung nyaris tidak terasa karena asyik mengobrol. Setelah transit maka kota Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat yang menjadi tujuan akhir perjalanan saya kali ini.

Begitu pesawat lepas landas dan usai berdoa,  saya sudah asyik mengobrol dengan  penumpang di sebelah saya, Monalisa atau akrab dipanggil Lisa,  pengusaha perhiasan yang juga pemilik hotel Monalisa di Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat, Lampung yang saya tuju. Bekas kota Kecamatan yang kini menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) ini baru berusia tiga tahun hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat yang dikenal sebagai tujuan wisata surfing dunia. Sejak 1967 Krui sudah masuk majalah di Swedia sebagai tujuan wisata surfing.

Oleh karena itulah sebagai tujuan wisata bahari dan adanya penerbangan langsung ke Bandara Serai di Krui langsung memicu saya untuk berkunjung ke Krui jelang awal Ramadhan ini. Selain memenuhi undangan juga napak tilas ke kampung ibundaku tercinta, alm hajjah Halimatussyadiah. Tiap Rabu Susi Air melayani rute Raden Inten II-Serai dengan pesawat Cesna C 212-200 kapasitas 18 orang penumpang termasuk crew.

Perjalanan udara dan kenikmatan bermain di pantai {foto: hss}
                  Perjalanan udara dan kenikmatan bermain di pantai {foto: hss}

Jalur udara jadi pilihan karena jarak tempuh Bandar Lampung-Krui melalui perjalanan darat cukup panjang memakan waktu 6 jam dengan jarak tempuh sekitar 250 km melalui  kota Agung , Kabupaten Tanggamus lalu menembus rangkaian dataran tinggi Taman Nasional Bukit Barisan. Meski perjalanan darat dijamin  sangat menarik dengan jalan yang berkelok kelok serta tanjakan yang cukup menantang, namun kali ini tekad saya sudah bulat menjajal penerbangan perintis itu.

Krui adalah kewedanaan di zaman penjajahan belanda yang sejak dulu sudah menjadi kota kecil karena menjadi jalur lintas barat Sumatra menuju provinsi lainnya seperti Bengkulu, Sumatra Barat hingga Aceh. Krui dulu kewedanan yang masuk provinsi Bengkulu dan konon Fatmawati Soekarno, Istri Presiden Soekarno, pendiri bangsa dan proklamator dilahirkan di kota ini bukan di kota Bengkulu.

Setelah menunggu transit di Bandara Raden Inten II selama 4 jam akhirnya tepat pukul 12.00 saat matahari sangat cerah, pesawat Susi Air tinggal landas. Rombongan  sebagian besar adalah para pengusaha wanita asal Krui termasuk artis dan anggota DPR-RI Arzetti Biblina dari Komisi VIII fraksi PKB bersama Komunitas Srikandi Krui dipimpin Dewi Nurani yang bekerjasama dengan Pemkab Pesisir Barat  membagikan waqaf 10001 Alquran.

Di dalam pesawat Cesna, selain membagikan snack, seorang crew juga memberikan  earplug, penutup telinga untuk perjalanan udara ini karena pesawat baling-baling ini suaranya cukup bising dan sempat membuat nyali saya jadi ciut. Saya memilih tempat duduk di bagian ekor alias bagian terakhir sehingga bisa melihat bebas ke depan saat tangan-tangan trampil pilot dan co pilot mengutak-atik peranti di ruang kemudi tanpa sekat yang langsung bisa dilihat penumpang.

Sepuluh menit kemudian saya sudah menikmati petualangan udara dan melintas diantara awan di ketinggian 9000 kaki. Baru kali ini saya bisa menikmati perjalanan begitu dekat  diapit awan putih di segala arah dan sejauh mata memandang terlihat bentuk-bentuk awan yang unik bahkan seperti gunung es Alaska.

Mulut yang mula-mula terus  berzikir menyebut kebesaran ciptaan Allah SWT tiba-tiba lalu berguman menyanyikan lagu Kulihat awan seputih kapas, arak berarak di langit luas…Andai kudapat kesana terbang, akan kuraih kubawa pulang.  Lagu ciptaan AT Mahmud itu mengalir karena rasa takjub dengan keindahan awan, apalagi  pemandangan hijau perbukitan di bawah juga memukau.

Perjalanan udara selama 30 menit akhirnya segera berakhir dengan terlihatnya garis pantai pesisir barat dengan buih-buih putih dari kejauhan. Pesawat melintas di atas Pulau Pisang, Krui yang konon kampung halaman pengacara Henry Yosodiningrat dan juga alm Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarno Putri dan ayahanda Menteri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia ke-16, Puan Maharani.

Sesuai dengan namanya, jika dilihat dari atas, daratan pulau ini  memiliki bentuk mirip buah pisang. Karena itulah pulau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia ini dikenal dengan sebutan Pulau Pisang. Cerita lain terkait nama pisang ini konon dulunya penduduk Krui pertama kali menyeberang ke Pulau Pisang menggunakan rakit dari batang buah pisang. Dari dulu hingga sekarang kaum wanita di Pulau Pisang dikenal sebagai perajin kain tenun emas atau tapis.

Pesawat mendarat di Bandar Udara Pekon ( Desa) Serai yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Maret 2014 untuk menjadikan jalur Krui-Liwa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di koridor Barat sekaligus pintu masuk bagi wisatawan asing ke kawasan pantai Tanjung Setia, yang selama ini jadi tujuan para peselancar (surfer).

Berada di lahan seluas 50 hektar, Pekon Serai sekarang punya landasan pacu sama seperti bandara perintis lainnya: panjang 974 meter dan lebar 23 meter. Landasan dan juga terminal bandara akan ditingkatkan menjadi 1.400 meter x 23 meter, agar bisa didarati pesawat sekelas Hercules C-130. Pada periode berikutnya, 2018-2027, akan ditingkatkan lagi menjadi 2.100 meter x 45 meter, agar bisa didarati pesawat sekelas Boeing 737.

Usai acara penyambutan, saya menjadi takjub karena perjalanan mobil selama 10 menit sudah membawa rombongan sampai di Cafe dan Resto Mulia, bangunan sederhana di pinggir pantai Labuhan Jukung. Semula saya mengira jarak bandara dengan pusat kota kabupaten harus ditempuh lebih dari satu jam tapi ternyata benar-benar dekat.

Usai makan rombongan berpisah dan menginap di rumah keluarga masing  maupun di hotel tepi pantai. Saya bersama dua tamu lainnya disediakan akomodasi di kawasan perbukitan Gunung Kemala jadi bisa melihat tanaman unggulan di daerah ini yaitu pohon damar mata kucing yang batangnya menjulang tinggi langsing dan baru dibagian atas ada ranting dan cabang-cabang pohon.

Pantai Tanjung Nyimbor, Tanjung Setia ( foto: hss)
                                              Pantai Tanjung Nyimbor, Tanjung Setia menjelang sunset ( foto: hss)

Ikan Tuhuk

Hari kedua di Krui praktis difokuskan untuk penyelenggaraan tablik akbar bersama ustad Solmed dan artis Arzetti di lapangan Merdeka sehingga baru hari ke tiga saya berkesempatan keliling kota Krui yang menjadi ibukota kabupaten. Blusukan di Pasar Krui, nama kelurahan yang juga sekaligus menjadi  pusat kota ini cukup mengasyikkan terutama melihat para pedagang berjualan ikan tuhuk atau blue marlin yang berukuran besar sibuk melayani pembeli meski hari telah menjelang siang.

Ikan blue marlin inilah yang menjadi andalan kuliner Krui karena daging ikan inilah yang diolah jadi jadi sate ataupun sup seperti halnya menu sate dan sop kambing di Pulau Jawa. Krui dikenal sebagai pemasok Ikan segar  ke berbagai daerah tetangga sedangkan sayuran banyak yang datang dari Liwa.

Patung ikan tuhuk serta damar yang menjadi komoditi  ekspor ini pula yang menjadi mascot patung kota di kawasan Pasar Krui. Dari hasil keliling sejenak itu pula saya mendapatkan buah tangan seperti kacang tojin pedas terbuat dari kacang merah yang di goreng. Ada juga kue Tat seperti kue apple pie tapi berukuran loyang kue bulat diameter  20 cm atau bentuk segi empat berisi selai nenas warisan kuliner dari jaman penjajahan Belanda dulu.

Ada juga abon ikan tuhuk, kopi dan makanan khas lainnya seperti pendap ikan  atau mirip  buntil di Jawa yang dibalut daun talas. Di Kota pesisir yang menghadap langsung pada Samudera Hindia ini juga ada tempat pelelangan ikan bernama Kuala Stabas sekaligus spot untuk menikmati sunset.

Dari sini saya bersama Dewi Nurani dan Umi Ratna mampir ke warung bakso ikan blue marlin depan Gedung Serba Guna. Gedung  milik Pemkab di tepi pantai itu kini berhias dengan jejeran huruf-huruf besar bertuliskan Labuhan Jukung tempat masyarakat atau wisatawan berfoto ria.

Sore hari di Labuhan Jukung ini banyak wisatawan mancanegara yang berselancar dan jadi tontonan warga.  Biasanya selama bulan April sampai Oktober gelombang pantai  dapat mencapai ketinggian 4 meter dan 200 meter panjangnya. Namun angin kencang yang ekstrim di Pesisir Barat belakangan ini membuat peselancar harus waspada dan tidak bebas berselancar.

Tempat berselancar (surfing) lainnya adalah Ujung Bocor dikenal sebagai spot surfing Left handed panjang paling konsisten di wilayah titik Tanjung Setia. Selama musim ini banyak wisatawan mancanegara ( wisman) dari seluruh dunia datang ke beberapa tempat surfing lainnya di Krui  seperti Way Jambu dan Mandiri Beach. Aktivitas selain berselancar cukup beragam seperti berenang, berjemur, body surfing atau bersepeda di sepanjang pantai dan berinteraksi dengan warga setempat.

Berburu ombak di sini memang tepat karena Kabupaten pesisir barat memiliki panjang pantai 210 Km dengan hamparan keindahan alamnya yang indah. Sebagian pantai berupa wilayah bebatuan dan karang yang terletak disebelah utara wilayah kabupaten pesisir barat . Sementara diwilayah selatan berupa pantai landai yang dihiasi dengan keberadaan pasir putih .

Mengakhiri perjalanan setengah hari itu, Dewi mengarahkan mobil ke pantai Karang Nyimbor, Tanjung Setia , Kecamatan Pesisir Selatan, 30 km dari Krui atau setengah jam dari pusat kota. Di perjalanan beberapa kali kami berpapasan dengan motor-motor  wisman yang berboncengan membawa papan selancar berburu ombak. Motor sewaan menjadi moda transportasi bagi turis-turis asing itu untuk mencapai pantai yang menjadi spot selancar.

Kami menunggu tenggelamnya matahari sambil menyeruput kopi Krui yang wangi menggoda, mengunyah kacang goreng dan makan mie instant. Piknik di pantai banyak dilakukan para turis lokal seperi kami setelah puas berfoto narsis dan hunting foto seputar pantai dari langit masih biru dan terang menderang  hingga kemerahan siap tenggelam.

Kawasan pantai dengan restoran dan pondok-pondok penginapan hadir di sepanjang pantai di Tanjung Setia maupun pantai lainnya menjadi  mutiara terpendam bagi wisatawan pemburu ombak.  Apalagi deburan ombaknya tidak kalah dengan yang ada di Bali dan Nias tempat selancar yang sudah lebih dulu mendunia. Selain itu, kondisi pasir pantai yang halus, putih bak mutiara serta kebersihan pantai masih terjaga

Sebenarnya bersama Dewi, kami berencana snorkeling di Pulau Pisang yang bisa ditempuh 20 menit dari Pelabuhan Tembata, Krui dan menjadwalkan menyebrang ke pulau jam tujuh pagi. Sayang hanya tinggal rencana karena cuaca tidak mendukung dan besok pagi kami sudah meninggalkan kota ini. Padahal cukup penasaran ke pulau yang konon keindahannya tak kalah  dengan Bali atau Lombok, dan juga ada kapal tanker tua tertambat di pinggir pantainya.

Keinginan untuk menyambangi pantai Mandiri di Dusun Mandiri Heni di ujung kota Krui dekat sungai Way Mahenay kecamatan Krui Selatan Kabupaten Pesisir Barat juga tak terpenuhi meski  pantai ini hanya berjarak sekitar 14 Km atau 20 menit perjalanan darat dari pusat Kota Krui.
Rasa penasaran tinggi karena di Pantai Mandiri berpasir hitam dan  tidak mempunyai terumbu karang. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan pantai Krui lainnya yang berpasir putih dan halus.  Menurut Dewi, ombak di pantai ini pecah dan  berwarna coklat kehitaman. Namun pada bagian agak ke tengah, air lautnya bersih bening, tidak terkena polusi apa pun.

Memang masih banyak obyek wisata lainnya di seputar Krui dengan waktu tempuh 1-2 jam  seperti tempat penangkaran penyu muara Tembulih terletak di Pekon (Desa) Muara Tembulih Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat. Berjarak sekitar 59 Km atau 1,5 jam perjalanan darat dari pusat Kota Krui.

Aktifitas yang dapat dilakukan adalah menyaksikan Penyu Bertelur dan melepas Tukik (Anak Penyu), menikmati ekologi pantai, sunset dan huntimg foto lagi. Obyek lainnya adalah Keramat Manula, makam Syekh Aminullah atau yang lebih dikenal dengan Keramat Manula yang lokasinya  di Pugung Lemong Kabupaten Pesisir Barat dan merupakan makam dari tokoh penyebaran Islam di daerah Pesisir Barat dan wafat sekitar 1525 Masehi. Beliau menyebarkan Agama Islam melalui jalur laut.

Waktu setengah hari untur tour kota di Krui memang tidak cukup karena itu saya putuskan datang lagi pada saat berlangsungnya kompetisi internasional Krui Surfing Contest di Tanjung Setia pada 25-31 Juli 2016 mendatang yang telah menjadi agenda tahunan. Gairah Bupati Agus Istiqlal yang belum genap empat bulan memimpin kabupaten ini juga salah satu daya tarik untuk kembali ke Krui.

Tentu saja untuk kunjungan kembali saya lebih suka menyesuaikan kedatangan dan keberangkatan dengan jadwal Susi Air tiap Rabu daripada menempuh perjalanan darat. Sebagai traveller lolita yang usianya lolos lima puluh tahunan, kenyamanan perjalanan juga menjadi prioritas. Sampai jumpa kembali Krui, tempat seseorang mendapatkan peace of mind…(Hilda Ansariah Sabri)

1 KOMENTAR

  1. Saya suka pantai dan gunung, sy suka tulisan Bu Hilda tentang Krui. Bagus dan ingin nyoba wisata ke Krui.
    Ibu sudah pernah k P Bawean? Sy ingin sekali membaca tulisan IBU tentang P Gili d Bawean yg juga bagus pantai dan terumbu karangnya. Ayo Bu…semangat.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.