KEIN: Pariwisata Mampu Genjot Pertumbuhan Ekonomi Nasional

0
683
Kunjungan Wisatawan di Candi Prambanan (Foto: ww.kompas.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN ) berharap sektor pariwisata harus bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional hingga di atas 10 persen. Memang, saat ini sektor pariwisata menjadi salah satu bidang andalan yang dibidik dalam industrialisasi oleh pemerintah.

“Harapan itu wajar karena melihat jika sektor pariwisata berbeda dengan sektor industri lainnya. Sektor ini melibatkan pemangku kepentingan yang banyak, dan di dalamnya bisa meliputi pengusaha besar dan kecil,” papar Ketua KEIN Soetrisno Bachir pada Focuss Group Discussion (FGD) Pokja Pariwisata KEIN bersama Kemenpar di Ruang Rapat Menko Perekonomian Jakarta, Selasa (21/6/2016).

Selain itu, lanjut dia, pariwisata juga memberikan efek berganda. “Tidak banyak negara yang bisa mengandalkan sumber devisa dari sektor pariwisata. Karena itu, kami berharap agar sektor pariwisata bisa lebih cepat menggerakkan ekonomi dan sekaligus mendapatkan devisa,” tambahnya.

Dari hasil FGD ini, KEIN berencana membuat roadmap khusus sektor pariwisata hingga tahun 2045 bersama dengan Kementerian Pariwisata. Roadmap ini nantinya bukan hanya diusulkan kepada Presiden, namun juga kepada parlemen sehingga bisa terwujud dan industri pariwisata bisa menjadi andalan.

“Kami yakin jika pariwisata bisa menjadi sektor yang sangat kuat dalam situasi bangsa ke depan yang pasti akan banyak menemui tantangan. Justru di pariwisata didukung situasi geografis di Asia Pasifik, di kawasan Timur juga. Belum lagi potensi wisatawan dari kawasan Timur Tengah, ditambah lagi negara kita dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Selain itu, kita memiliki sumber daya alam maupun kebudayaan yang komplit,” lontar Soetrisno Bachir.

Dilanjutkan, KEIN melihat hal itu sebagai sebuah tantangan bersama dan perkembangan itu harus segera dipercepat. Menurut Soetrisno, KEIN bertugas menyampaikan dan memberikan masukan roadmap tersebut kepada presiden. “Apalagi industri pariwisata ini juga sesuai dengan program yang diarahkan Presiden Jokowi, di mana kita bisa memaksimalkan dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka yang mempunyai pendidikan rendah,” pungkas dia.

Donny Oskaria, anggota KEIN menambahkan pariwisata Indonesia bisa melampaui Malaysia dan Thailand dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu bisa tercapai bila negara ini mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan industri pariwisata. “Jika dilihat pariwisata Indonesia dalam 5-10 tahun mendatang diharapkan bisa mengalahkan Thailand dan Malaysia. Kalau kita selalu menjaga momentum pertumbuhan dan menjaga momentum euforia pemerintah daerah yang mulai antusias di pengembangan pariwisata,” ujar Donny

Menurut dia, bila pertumbuhan bisa terjaga bisa ikut mendorong percepatan pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Bahkan, pariwisata dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengatasi kesenjangan dengan cara menciptakan lapangan kerja. “Saya yakin sektor ini bisa mempercepat pertumbuhan dan berkualitas (atasi kesenjangan). Sehingga saya rasa sektor ini tepat,” pungkas dia.

Pada Mei 2015, World Economic Forum (WEF) mengumumkan Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia naik ke peringkat 50 dari 141 negara setelah menempati peringkat 70 di 2013. Adapun pada 2019, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional diharapkan bisa mencapai angka sebesar 8 persen, dengan besaran devisa hingga Rp 240 triliun.

Tahun 2019, pariwisata diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta wisman dan pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta. Indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.

Menteri Pariwisata Arif Yahya hadir sebagai narasumber dalam FGD mengatakan, pariwisata telah menyumbangkan 10 persen PDB nasional pada 2015. Dengan nominal tertinggi di ASEAN yang disusul Thailand, Malaysia dan Filipina. “Karena itu, pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata adalah yang tertinggi, yaitu 13 persen dibandingkan pendapatan dari sektor industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang bahkan pertumbuhannya negatif,” ujar Arif Yahya.

Selain itu, tambah dia, pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau sebesar 8,4 persen secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri. Bahkan dalam penciptaan lapangan pekerjaan, pariwisata tumbuh 30 persen dalam waktu 5 tahun. “Pariwisata juga dianggap menciptakan proyek lapangan kerja dengan modal termurah yaitu dengan US$ 5.000 untuk satu pekerjaan, dibanding rata-rata industri lainnya sebesar US$ 100 ribu per satu Pekerjaan,” tandasnya. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.