KEIN: Pariwisata Bermodal Kecil, Hasilkan Devisa Begitu Besar

0
521
Wisata religi Prosesi Ritual Bakar Tongkang di Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir. Riau daya tarik wisata

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan pariwisata merupakan sektor memiliki potensi paling besar menjadi lokomotif pendorong perekonomian Indonesia, mampu memberikan kontribusi besar bagi negara melalui devisa yang dihasilkan. Dengan modal relatif kecil, pariwisata mampu menghasilkan penerimaan devisa bagi negara dan masyarakat yang begitu besar.

“Pariwisata ini dianggap paling punya potensi yang besar dengan kapital yang relatif tidak besar. Menteri Pariwisata bilang‎, anggaran kami kecil. Kalau kasih Rp 8 triliun, kita (pariwisata) jadi penghasil devisa terbesar. Dengan target 20 juta tourism itu berarti ada (devisa) US$ 20 miliar. Itu melebihi penerimaan dari migas yang mulai menurun,” ungkap Ketua KEIN, Soetrisno Bachir pada Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Roadmap Industrialisasi 2045 bidang Pariwisata di Jakarta, Rabu (5/10/2016)‎.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar), lanjut dia, menargetkan pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2016 sebesar 12 juta orang. Target ini meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2020. Dan, Indonesia akan terus berada di bawah Malaysia. Sebab, saat ini perolehan wisatawan Negeri Jiran mencapai angka 26 juta wisatawan per tahun.

“Dengan 20 juta ini mungkin bisa jadi (kontribusi penerimaan) nomor 1 di Indonesia. Tapi Malaysia sudah 26 juta, itu kita masih kalah. Malaysia mungkin sudah 40 juta dalam 10 tahun-20 tahun lagi, karena itu syarat mengejar agar pariwisata dikembangkan dengan baik, dibutuhkan roadmap industrialisasi dan harus kerja keras,” lontarnya.

Selain itu, pemerintah dan para pelaku usaha hendaknya mencontoh negara lain yang sukses dalam pengembangan pariwisata. Negara itu adalah Hungaria. S‎aat ini jumlah wisatawan yang datang ke Hungaria mencapai 40 juta per tahun. Padahal jumlah penduduknya hanya 9 juta jiwa.

‎”Kesuksesan Hugaria menarik wisatawan asing karena setiap daerah memiliki zonasi ‎pariwisata. Ada paket-paket, industri kecilnya yang dijual apa, hotelnya apa, budayanya apa. Itu beda-beda di masing-masing tempat. Jadi dalam zonasi, wisatawan mendapatkan pengalaman pariwisata yang berbeda-beda. Hal ini yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan asing tersebut,” paparnya

Bahkan, lanjut dia, pemerintah Hugaria melarang produk dari negara lain masuk‎ ke zona pariwisatanya. Ini sebagai upaya memperkenalkan produk lokal kepada wisman. “Mereka melarang di zona itu barang dari luar negeri. Misalnya di suatu tempat IKM tekstil, itu bajunya harus made in Hungaria, tidak ada Polo, Nike, McDonald, nggak ada,” ungkapnya.

Soetrisno mengajak stakeholder pariwisata untuk mengembangkan seperti ini di Indonesia. Jika pariwisata di negara ini mampu berkembang dengan baik, bukan hanya membawa keuntungan bagi sektor bisnis tetapi juga berdampak kepada masyarakat lebih luas. “Saya ajak untuk jadi agen-agen perubahan. Ini untuk kepentingan orang lebih banyak,” tandasnya.

Apalagi, tambah dia, Indonesia selain memiliki beragam lokasi yang bisa dijadikan tujuan wisata, juga memiliki beragam budaya yang menjadi potensi untuk mendorong sektor pariwisata. ‎Keragaman budaya tidak dimiliki negara lain di kawasan ASEAN. ‎”Kita punya budaya beragam, karena multiras, multi suku, itu kekayaan kita. Ini tidak dimiliki Thailand, Malaysia, apalagi Singapura. Tapi tourism mereka lebih besar dari kita. Kita juga punya manusia yang ramah-ramah, yang dulu tidak dimiliki oleh Singapura. Orang Singapura dulu kasar-kasar yang sampai oleh Lee Kuan Yew akhir dipaksa untuk senyum,” kata dia.

Agar sektor pariwisata Indonesia ini bisa berkembang dengan baik, lanjut Soetrisno, jangan hanya melihat pariwisata dari sisi alam, budaya dan sumber daya manusianya (SDM), tetapi harus diindustrialisasikan. Dengan demikian, diharapkan adanya banyak perbaikan di sektor pariwisata yang akan menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Indonesia.

‎”Tourism ini jangan dilihat dari alam, budaya, SDM saja, tapi harus di-industrialize. Industri bukan hanya manufaktur, industri ini kegiatan yang komprehensif di bidang pariwisata. Ini harus diindustrialisasikan. Nah untuk itu kita harus punya roadmap,” sambungnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.