Kawasan Wisata Puncak Hadapi Masalah Sampah Wisatawan

0
864
Kawasan wisata Puncak Bogor (Foto: hingga.com)

BOGOR, test.test.bisniswisata.co.id: Kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini menghadapi persoalan sampah yang berserakan di sekitar warung pinggir jalan akibat aktivitas pengunjung wisata. Keberadaan sampah ini, menyebabkan kawasan Puncak sudah tiga kali masuk catatan hitam oleh wisatawan mancanegara karena tidak menyajikan keindahan, kebersihan dan kenyamanan.

“Sampah liar ini belum terakomodir dengan maksimal, karena keterbatasan armada pengangkut sampah. Juga kesadaran wisatawan sangat rendah tentang kebersihan, terbukti mereka meninggalkan sampah tanpa beban, tanpa punya rasa bersalah dan berdosa yang merugikan orang lain harus membersihkan,” papar M. Teguh Mulyana, Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) di Puncak, Rabu (19/10/2016).

Lebih memprihatinkan lagi, sambung Teguh, kawasan puncak sudah masuk daftar hitam bagi wisman. Untungnya, sejumlah wisatawan asing asal Timur Tengah , Jepang, negara Eropa bahkan Amerika tetap mendatangi kawasan Puncak setiap tahunnya.

Dijelaskan, sebagai organisasi yang dibentuk berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat Nomor 15/1995 dan SK Bupati Bogor Nomor 9/2001, Kompepar wilayah Puncak memiliki tugas mensosialisasikan program nasional Sapta Pesona. “Sapta Pesona yakni menciptakan pariwisata yang aman, tertib, bersih, indah, sejuk, ramah dan kenangan,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan persoalan sampah yang tidak sesuai program Sapta Pesona yakni kebersihan, tertib dan indah. “Kemenpenpar memiliki program-program pengendalian sampah, salah satunya merapihkan sampah-sampah yang ada di jalan, kita angkut dan kita buang ke TPA,” katanya sambil menambahkan sampah-sampah itu sebagian ada yang diolah masyarakat menjadi benda daur ulang. Yang menjadi kendala sampah basah yang belum terkelola dengan baik.

Kepala UPT Kebersihan Ciawi, Sofian Khaerudin menyebutkan, ada 19 unit mobil pengangkut sampah yang bertugas setiap hari mengangkut sampah di jalur Puncak, termasuk Ciawi, Cigombong, Cijeruk dan Megamendung. “Jalur Puncak ada lima unit truk sampah yang beroperasi setiap hari. Satu unit ini menampung 7 kubik sampah, jika dikali lima jumlahnya mencapai 35 kubik,” katanya seperti dilansir laman Antara.

Sofian menambahkan, persoalan sampah tidak hanya menjadi tugas pemerintah, sinergitas dari semua pihak yakni masyarakat dan swasta diharapkan dalam mengendalikan sampah yang dapat mengancam kerusakan lingkungan.

“Selain sebagai objek wisata, Puncak juga menjadi barometer pengendalian banjir di Jakarta. Karena kalau kawasan konservasi Puncak rusak oleh sampah, akan berpengaruh bagi wilayah hilir dengan meluapnya permukaan Sungai Ciliwung,” katanya. (*/AC)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.