Karawo, Kain Sulam Khas Gorontalo Diminati Wisman

0
5947
Kain sulam Karawo Gorontalo

GORONTALO, test.test.bisniswisata.co.id: Gorontalo punya kain yang unik, menarik dan artistik. Namanya kain karawo – dibuat dengan teknik sulam. Mengutip situs resmi Pemerintah Gorontalo, kain karawo dikerjakan pada kain menggunakan benang polos maupun warna-warni. Proses pembuatannya dengan cara mengiris, mencabut benang dari serat kain yang sudah jadi. Lalu disulam dengan jarum dan aneka ragam benang sesuai motif yang diinginkan. “Istilahnya cabut benang. Bisa juga dengan benang emas,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Kusnan Sudrajat.

Istimewanya pembuatan kain ini dilakukan secara manual, dengan menggunakan tangan. Tak heran jika dalam pembuatannya memakan waktu yang lama. “Satu begini kadang dua minggu baru jadi,” ujar Kusnan sambil menambahkan kini di Gorontalo ada dua jenis karawo. Ada sulaman karawo biasa dan sulaman karawo ikat. Biasanya harga karawo ikat lebih mahal.

Selain waktu, sambung dia, pengerjaanya butuh banyak tenaga. Paling tidak diperlukan tiga orang dengan tugas berbeda. Orang pertama bertugas membuat pola, dengan menggambar di atas kertas grafik. Orang kedua bertugas pengiris atau pengurai benang pada kain yang akan dibuat sulaman karawo. Ini dilakukan sesuai pola yang diinginkan. Orang ketiga bertugas penyulam kain yang sudah diurai benangnya.

Sebenarnya sudah jarang masyarakat melakukan sulam karawo di Gorontalo. “Kini pemerintah daerah berusaha memicu mereka untuk melestarikan warisan budaya yang telah ada. “Sekarang lagi digalakkan keterampilan karawo di rumah-rumah. Bahkan ada festival ya. Namanya Festival Karawo,” kata Kusnan.

Festival yang biasanya digelar pada akhir tahun ini berbentuk karnaval. Akan ada orang-orang yang memakai baju-baju berbagai model yang diaplikasikan kain karawo. Selain itu, ada juga parade menyulam, lomba foto karawo, sampai lomba motif karawo. Berkat adanya festival ini, masyarakat jadi kembali bersemangat membuat dan berkreasi dengan karawo. “Bahkan sekarang dikombinasikan dengan batik,” ujar Kusnan.

Selasa kemarin, sekitar 500 perajin karawo se Gorontalo melakukan sulam karawo massal di lapangan Taruna Kota Gorontalo. Ternyata, event ini mendapat sambutan luar biasa dari wisatawan asing asal Kazakhstan, Sudan, kroasia, Meksiko, Armenia, Mozambik, Loas, Uni Emirat Arab, Azerbaizan, Polandia, Pakistan, Bangladesh dan Swiss yang diundang khusus ke acara ini.

Vardan Sargsyan, seorang delegasi asal Armenia mengatakan kesan pertama melihat sulam tersebut adalah cara atau proses pembuatan karawo sangatlah detail. “Ini kegiatan yang sangat membutuhkan imajinasi tinggi, sangat sulit namun memiliki identitas,” jelas Vardan.

Ida Syaidah, istri dari Gubernur Gorontalo Rusli Habibie mengatakan, kegiatan ini merupakan program nyata Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

“Dengan gerakan peduli kain khas karawo ini, kami bisa mengumpulkan 500 perajin karawo untuk menyulam karawo secara massal. Kami mengajak masyarakat Gorontalo agar lebih mengenal dan mencintai karawo serta lebih paham lagi tentang karawo agar tidak lagi dipandang sebelah mata karena proses pembuatan karawo sangatlah sulit,” papar dia. (redaksibisniawisata@gamil.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.