Kapal PLTD Apung I Terseret Tsunami Jadi Primadona Wisatawan

0
1657

BANDAACEH, bisniswisara.co.id: Kapal bekas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung I menjadi salah satu saksi bisu dahsyatnya gelombang tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya, sepuluh tahun lalu. Kapal yang berbobot 2.600 ton tersebut kini menjadi museum dan salah satu objek wisata yang dikelola Pemerintah Kota Banda Aceh.

Terbawa gelombang tsunami sejauh 3 kilometer dari pelabuhan Ulee Lheue, kapal milik PLN tersebut terdampar di sebuah kampung. Yakni Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Kapal berwarna krem dan hitam itu berdiri gagah dengan cerobong asap warna hitam menjulang tinggi.

Setiap sisinya, kapal yang memiliki panjang 63 meter, lebar 19 meter, dan tinggi 4,3 meter itu, berkibar bendera merah putih. Para wisatawan diperbolehkan naik ke atas kapal, yang sebelumnya menjadi generator penyuplai kebutuhan listrik Kota Banda Aceh.

Dengan trek anak tangga dan pelataran landai yang dibangun dari rangka baja itu, wisatawan bisa melihat keseluruhan bentuk kapal. Uniknya, bewisata di kapal tersebut tidak dikenakan biaya sepeserpun. Semua biaya operasional ditanggung penuh oleh pemerintah setempat. “Semuanya gratis,” kata salah seorang pengelola objek wisata ini, Syafrizal, Rabu (24/12/2014).

Meskipun gratis, kebersihan di lingkungan objek wisata nampak terjamin. Nyaris tidak ditemukan sampah di sekitar lokasi. Bahkan dalam rangka satu dekade memperingati tsunami, kapal tersebut tengah berbenah. Yang selama ini para wisatawan hanya melihat wujud kapal yang mangkrak, kini ditambah menjadi lebih menarik.

“Kita lagi pasang foto-foto, video layaknya bioskop, dan beberapa atribut atau properti kapal lainnya di dalam kapal,” ujar dia. Rencananya, tanggal 28 Desember 2014, para wisatawan bisa lebih menikmati monumen tersebut.

Penduduk asli Punge Blang Cut ini menambahkan, monumen kapal bekas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ini menjadi primadona bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Jumlah wisatawan yang berkunjung cukup banyak. Terlebih saat akhir pekan tiba, jumlahnya bisa mencapai ribuan.

“Tidak hanya wisatawan lokal saja yang datang, namun juga datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, warga negara Malaysia ikut menyaksikan langsung monumen tsunami tersebut,” papar seorang warga seperti dilansir laman Metrotvnews.com.

Selain itu, terdapat beberapa kapal yang juga menjadi monumen tsunami. Diantaranya ialah kapal yang ‘nangkring’ di atas rumah penduduk di kawasan Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kemudian, kapal milik PT Semen Andalas Indonesia (SAI). Terdampar di Kecamatan Lhok Nga, sekira 45 menit dari Banda Aceh. ***

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.