Kampung Teluk Seribu, Daya Tarik Wisata Balikpapan

0
818
Kampung nelayan warna-warni di Balikpapan

BALIKPAPAN, bisniswisata.co.id: Pariwisata Kota Balikpapan, Kalimantan Timur terus berbenah, mempercantik diri demi menggerakkan industri pariwisata. Kini kawasan kmapung Teluk Seribu, Kelurahan Manggar Baru, Kecamatan Balikpapan Timur disulap menjadi kampung warna warni sehingga menjadi daya tarik wisata baru di Kota Balikpapan.

Teluk Seribu ini juga disulap menjadi lokasi yang tepat untuk wisatawan yang gemar selfie, lengkap dengan gambar tiga dimensi. Para wisatawan juga diajak menikmati uniknya hutan mangrove dengan pemandangan monyet jenis bekantan yang nyaris punah.

Bila wisatawan mendarat di Bandara Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, bisa menggunakan taksi atau kendaraan umum lainnya ke Teluk Seribu. Dengan harga yang terjangkau. Di depan pintu masuk, wisatawan sudah disambut dengan mural dan gambar tiga dimensi yang cocok untuk diunggah di media sosial khususnya Instagram.

Di kawasan wisata tersebut, wisatawan bisa menikmati kuliner khas Balikpapan yang tersedia di warung-warung warga Teluk Seribu. Dijamin harga tak akan ‘digetok’ penjual, tak seperti yang terjadi di beberapa tempat wisata lainnya. Sekitar 200 meter menyusuri gambar keren tersebut, wisatawan sudah ditunggu kapal warga di ujung dermaga.

Kapal wisata bahkan kapal nelayan akan membawa wisatawan untuk menyusuri hutan mangrove yang berisi bekantan. Sekitar 45 menit, kapal sudah kembali merapat ke Dermaga Teluk Seribu. Lengkap sudah liburan wisatawan ke Teluk Seribu yang Instagramable, seperti foto kece dengan gambar 3D, kuliner asli Balikpapan dan jelajah kawasan mangrove.

“Selama ini kan Balikpapan atau Kalimantan Timur bersandar atau gerakan ekonominya dari migas dan batubara, sejak tahun kemarin kan terpuruk. Selama ini kita alpa memperhatikan sektor pariwisata, baru kali ini kita jualan pariwisata,” ujar Rizal Effendi, Wali Kota Balikpapan Kalimantan Timur dengan bangga.

Hingga kini, sambung Walikota, kehidupan warga di gang kecil itu terus menggeliat, bergerak memperindah kawasan itu. Termasuk belasan pelukis Balikpapan yang datang dari berbagai sudut kota, mereka kembali memulas sebuah dinding besar dan panjang dalam ganti yang merupakan pagar milik rumah susun.

Cadio Tarompo, seorang pelukis beraliran realis, meneruskan memulas dinding 4×6 meter di mulut gang. Ia menciptakan gambar 3 dimensi orang sedang memancing dengan ragam warna cerah. “Setiap hari sejak awal bulan, kerja di sini dari pukul 16.00 hingga nanti jam 24.00,” kata Cadio.

Aksi pelukis lain juga sama. Aji Pranyoto, di ujung dalam gang menyelesaikan gambar orangutan sedang selfie, Marty menggambar kupu-kupu raksasa, sedangkan Chacha mengawasi warga yang semakin banyak lalu lalang dan menyempatkan selfie.

Kebanyakan lukisan 3 dimensi, seperti: terowongan suram menuju laut bikinan Cadio, kedalaman suasana laut lukisan Surya Dharma, gambar sayap malaikat bikinan Chacha, dan lukisan abstrak Sairi.

Bahkan ada anak umur 7 tahun bernama Iffah dan Tory umur 13 tahun sanggup menggambar doodle di dimensi dinding 5×4 meter di pagar itu. Dan masih banyak lukisan lain. “Yang sudah selesai menutup lukisannya dengan terpal supaya aman sementara dari kerusakan. Dibuka saat peresmian besok,” kata Cadio.

Gang itu semacam lorong besar yang terbuka atapnya. Ukurannya terlalu sempit bila dilintasi dua mobil. Jalannya masih perpaduan semeninasi setengah hati dan pengerasan pasir.

Di satu sisi adalah jajaran kepadatan rumah warga kampung yang terbangun dari kayu dikelir cat warna warni. Sisi seberangnya adalah dinding pagar rumah susun, tingginya 4 meter dengan panjang 100-an meter. Dinding itulah yang menjadi kanvas bagi para pelukis untuk melukis.

Dinding memanjang sengaja dikemas penuh lukisan dan barisan rumah warna warni di seberangnya seolah menjadi gerbang panjang. Jalan gang itu sejauh 100 meter, menuju ke dermaga kecil di tepi muara Sungai Manggar di mana tertambat kapal nelayan bercampur dan kapal klotok.

Gang kecil penuh lukisan, dermaga, serta kapal-kapal itulah yang jadi pusat dari sebuah kampung di atas air yang belakangan dikenal sebagai Kampung Warna Warni.

Pemerintah sengaja mengemas kampung itu jadi penuh warna untuk menyambut wisatawan yang nantinya ingin berkunjung ke Teluk Seribu, sebuah destinasi baru wisata di kota ini.

Teluk Seribu sendiri sebenarnya hanyalah penamaan bagi sebuah kawasan di dekat hulu Sungai Manggar. Untuk menjangkau ke sana, bisa dengan menggunakan perahu klotok maupun speed. Pergi ke Teluk Seribu sejatinya sekaligus menikmati eksotika hutan mangrove di sepanjang pinggir sungai. Sebagaimana bakau alami, hutan juga menyimpan kekayaan satwa unik di sana dan tentu menarik siapa pun yang penasaran ingin melihat.

“Pemerintah rencananya akan meresmikan destinasi ini besok tanggal 28 Februari 2017,” kata Firdaus, Ketua Kelompok Sadar Wisata Teluk Seribu seperti dilansir laman Kompas.com, Kamis (02/03/2017),

Kegundahan 17 warga di 5 RT di bantaran muara sungai menjadi awal inisiatif kemunculan Teluk Seribu. Mereka membentuk Pokdarwis Teluk Seribu lalu menawarkan keindahan hutan mangrove sepanjang sungai ke pemerintah pada November 2016 lalu.

“Kami ingin membangkitkan masa jaya kampung ini saat kami masih saya kecil dulu,” kata Firdaus. Pilihannya adalah mengandalkan penawaran keelokan mangrove.

Gayung bersambut. Pemerintah tidak datang sendiri. Mereka membawa perusahaan cat Avian Paint yang menyumbang ribuan liter cat untuk mengubah suasana kampung di 5 RT menjadi ceria.

“Pemerintah membantu untuk menarik wisatawan biar makin banyak ke kampung ini untuk ikut merasakan Teluk Seribu nantinya,” kata Ketua RT 3 Manggar Baru, Mukhlis Sukarno.

Ratusan relawan didatangkan untuk ikut mengecat. Hampir semua warga juga ikut terpanggil. Mereka mengecat dinding, jembatan dan jalan kayu di atas air, pagar-pagar, hingga gubuk sekitarnya dengan warna dominan merah, kuning, hijau. Sekitar 250-an bangunan dicat mulai awal Februari 2017 hingga kini.

Kawasan itu pun serasa seperti baru, bersih, dan lebih ceria. “Jadilah kampung ini penuh warna warni. Kampung ini seperti pintu masuk wisata ke Teluk Seribu,” kata Mukhlis.

Belasan pelukis profesional Balikpapan menjadi relawan di sana. Mereka khusus menggambar media pagar ratuan meter di gang utama menuju dermaga, dengan gambar yang membangkitkan kearifan lokal. “Semua dikemas supaya bisa menjadi area selfie,” kata Cadio.

Kehadiran Teluk Seribu nanti menambah lagi destinasi wisata keindahan alam di Balikpapan. Pemerintah agaknya merancang kota ini mengandalkan bentang alamnya sebagai obyek wisata. Kebetulan, potensinya cukup banyak.

Kantong-kantong hutan mangrove alami cukup luas mudah ditemui di Balikpapan, terlebih di sepanjang sungai besar.

Wisatawan lokal ataupun mancanegara kerap datang demi menyusuri sungai hanya untuk menikmati hutan yang eksotis, terutama demi menyaksikan satwa unik monyet hidung belanda yakni bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan penghuni asli mangrove.

Pemerintah sebelumnya sudah mengembangkan potensi ini, seperti di Mangrove Center di Sungai Somber dan sebuah hutan mangrove kecil di balik Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Balikpapan di Kelurahan Margomulyo.

Selain hutan bakau, pantai dan hutan lain juga menjadi bentang alam bagi destinasi wisata Balikpapan. Sebutlah di antaranya Pantai Manggar dan Teritip di Kecamatan Balikpapan Timur, dan Hutan Lindung Sungai Wain di poros Balikpapan menuju Samarinda. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here