Kampung Flory, Desa Wisata Edukasi Wajib Disambangi

0
818
Kampung Floey, desa wisata di Sleman

SLEMAN, Bisniswisata.co.id: Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus menggenjot pariwisata dengan menghadirkan sejumlah objek wisata unik. Kali ini, ada Kampung Flory yang mengandalkan budi daya sektor pertanian, perikanan dan perkebunan-menjadi daftar objek wisata yang wajib dikunjungi saat ke wilayah Yogyakarta.

Kampung yang berdiri di atas lahan kurang lebih seluas 4 hektare itu terletak di Dusun Jugang, Pangukan, Kecamatan Tridadi. Lahan itu dibagi ke dalam 3 zona. Zona 1 Taruna Tani dengan seluas 1 ha. Di sana terdapat bidang usaha tanaman hias, tanaman buah dan kuliner.

Zona 2 Dewi Flory seluas 1 ha. Kawasan itu sebagai desa wisata yang menyajikan jasa penginapan (homestay), outbond dan pelatihan kewirausahaan agrobisnis. Dan yang terakhir, zona 3 Agro Buah dengan luas 2 ha. Di sana menyajikan wisata petik buah langsung, wisata edukasi dan pelestarian lingkungan.

Menurut Bendahara Wisata Kampung Flory Sutrisno Widiyanto, desa wisata itu didirikan agar bisa memikat kembali generasi muda untuk tertarik ke dunia pertanian, karena bidang tersebut mampu memberikan kesejahteraan.

“Kampung Flory dirintis sejak dua tahun lalu sebagai pusat pembibitan dan budi daya tanaman buah unggul serta tanaman hias. Semua bibit itu untuk memasok kebutuhan tanaman di DIY. Kami ingin bisa menjadi sentra bibit tanaman hias dan buah-buahan di DIY,” katanya seperti dilansir laman otonomi.co.id, Selasa (04/04/2017).

Diharapkan Kampung Flory bisa menjadi maskot wisata unggulan baru di wilayah DIY. Upaya itu sudah mulai nampak hasilnya. Jadwal kunjungan di bulan April sudah cukup padat. Sejumlah sekolah menjadwalkan untuk outbond di Kampung Flory.

Di sini, mereka bisa belajar mengenai dunia pertanian, mengenal jenis tanaman, bagaimana perawatannya, hingga cara menata tanaman hias di pekarangan rumah. Tak hanya itu, ada juga taman edukatif, tanaman buah atau bunga dalam pot (tabulampot), sayur mayur, dan tanaman obat keluarga.

“Pohon-pohon besar yang ada di sini, pun kita beri plang jenis namanya. Tak lupa, kami juga menyediakan ‘memedi’ (hantu) sawah, jumlahnya ada 31. Memedi itu untuk menonjolkan bahwa di sini merupakan dunia pertanian,” ujarnya.

Sutrisno mengungkapkan, edukator dan fasilitator di Kampung Flory sudah mendapat banyak pembekalan. Jadi pengungunjung tidak usah khawatir akan kemampuan kinerjanya. “Kami sudah dapat pembekalan dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman. Serta, dapat bantuan juga dari Provinsi DIY,” katanya.

Wisata Kampung Flory dibuka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 21.00. Tanpa ada hari libur, kecuali ketika libur besar. Di sini juga ada masakan khas `iwak kali`(ikan sungai), jadi pengunjung bisa menikmati kuliner juga. “Harga masih standar untuk harga makanan di sebuah restoran di kawasan wisata,” ujar dia.

Salah satu petugas piket Sekretariat Kampung Flory Atun, mengatakan bahwa Kampung Flory memberikan fasilitas homestay desa wisata yang lengkap. Ada dua macam homestay di sana, live-in di rumah warga sebanyak 10 unit, dan homestay ayem-ayem di kawasan Kampung Flory ada 4 unit.

“Selain itu, di sini juga disediakan tempat untuk acara pertemuan, ada limasan berkapasitas 200 orang di sekretariat, satu unit joglo limasan kembar berkapasitas 300 orang dan dua unit omah kampung berkapasitas 80 orang. Kemudian ada 22 unit kamar mandi,” ucap Atun. Fasilitas parkir kendaraan juga sangat luas. Bisa menampung empat bus besar, 60 mobil, dan 100-an sepeda motor. (*/oco)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.