Kain Nusantara, Identitas Budaya & Ciri Khas Indonesia

0
1133
Beragam kain Nusantara (Foto: www.ivegotago.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: SELEMBAR kain bagi Tukang kain Indonesia Josephine W Komara alias Obin bukan sekadar rangkaian pintalan benang atau lembaran penutup tubuh. Bagi Obin, kain adalah bagian dari identitas budaya Indonesia serta ciri khas Indonesia.

“Kain dari semua pelosok nusantara tidak bisa berdiri begitu saja tanpa budaya. Jangan angkat kain sebagai kain tanpa budayanya. Budaya adalah bagian dari kain, kain adalah bagian dari budaya,” kata Obin dalam bincang-bincang tentang kain nusantara di acara bertajuk “Kibaran Cinta Kain Nusantara,” di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, Sabtu (5/3).

Budaya itu terbentuk dari kebiasaan dan adat masyarakat setempat. Kedua unsur ini merupakan pelekat bangsa dari keberagaman yang ada. “Saya khawatir dengan semua orang mencari ilmu yang lebih maju, budaya ditinggalkan. Pada saat itu, hanya sosoknya saja yang diambil tapi rohnya ketinggalan,” ujarnya.

Padahal, tiap kain punya cerita unik sendiri. Kain tringkit, ikat, batik, ulos, dan kain lainnya punya arti berbeda dalam proses pembuatannya. “Ada kain double ikat dari satu desa Tenganan (Bali). Kain double ikat sudah ada di kampung itu sejak ratusan tahun lalu sampai kini. Tekniknya sulit dan harus mengikat dua kali,” kata Obin.

Kain double ikat ini juga dikenal dengan sebutan gringsing. Penamaannya diambil dari dua kata yakni gring dan sing. Gring berarti sakit, dan sing berarti tidak. Kain ini digunakan dalam sejumlah seremoni penolak bala.

“Tidak ada satu seremoni di dalam kehidupan manusia Indonesia, yang tidak menyangkut kain. Kain memiliki banyak makna, dan bukan hanya dari motifnya saja. Misal ulos dari Sumatera, ada makna reinkarnasinya, ada juga kain yang persembahan panen,” ucapnya.

Keberagaman Kain

Peneliti Kesenian dan Tradisi Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung Ratna Panggabean menjelaskan ada perbedaan penggunaan antara kain adat tradisional dengan kain kontemporer.

“Kain adat dulunya dibuat untuk kepentingan masyarakat, ada juga yang digunakan sebagai wujud rasa syukur yang diberikan juga kepada para petinggi. Kalau sekarang, untuk pendekatan ekonomi jadi ada nilai harga,” kata Ratna dalam diskusi tersebut.

Meski mengalami pergeseran nilai, kain Indonesia punya kekuatan yang wajib dipertahankan. “Kekuatan kain nusantara terletak di keberagamannya jadi jangan sampai diseragamkan. Ada batik Tasik, Garut, Cirebon. Ada juga tetanggaan tapi ada bedanya, batik Jogja dan Solo, itu batiknya beda. Keragaman ini adalah kekuatan kita,” ucapnya.

Selain dari corak, keberagaman juga terlihat dari teknik yang digunakan untuk menggambar motif dan mewarnainya. Dulu, kain nusantara tradisional dibuat menggunakan teknik rekalatar. Benang ditenun lebih dulu untuk diberi gambar lukisan, sulam, celup rintang, dan prada,” katanya.

Selain itu, ada corak kain yang disebut dengan rekarakit. “Rekarakit adalah pembentukkan corak bersamaan dengan penenunan kain, contoh songket, ikat, lungsin tambah, dan tenun manik,” ucapnya.

Ditambahkan, keragaman ini juga sekaligus menjadi penanda identitas seseorang. “Misal batik terang bulan, begitu kita lihat kainnya, kita bisa tahu dia siapa, latar belakangnya apa, budayaya apa,” ucapnya seperti dikutip laman CNNIndonesia, Ahad (06/03/2016).

Seluruh keragaman budaya ini, menurut Obin, harus dirawat. Caranya, dengan mengenakan kain asli Indonesia alih-alih membeli kain dari luar negeri. (*/C)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here