Jumlah Penumpang Udara Naik, Load Factor Turun

0
688

MONTREAL, test.test.bisniswisata.co.id: International Air Transport Associaton (IATA) mencatat jumlah penumpang angkutan udara global sepanjang Februari 2016 tumbuh 8,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Jenderal dan CEO International Air Transport Associaton (IATA) Tony Tyler mengklaim, kinerja trafik penumpang pada dua bulan pertama tersebut, menjadi paling terkuat sejak 8 tahun terakhir ini.

“Meski begitu, pada saat bersamaan, pertumbuhan kapasitas justru lebih tinggi, yakni 9,6%, sehingga menyebabkan rata-rata load factor mencapai 77,8% atau turun 0,7% dari periode yang sama tahun lalu,” kata Tony dalam keterangan tertulis, Kamis (14/4/2016).

Tony menuturkan, IATA belum mengetahui secara pasti penyebab menurunnya kinerja rata-rata tingkat keterisian kursi tersebut. Meski begitu, lanjutnya, turunnya kinerja load factor tersebut perlu untuk menjadi perhatian.

Pada saat yang sama, jumlah penumpang internasional sepanjang Februari tumbuh 9,1% dengan kapasitas kursi pesawat yang tumbuh 9,9%. Adapun, tingkat keterisian kursi mencatatkan penurunan 0,6% menjadi 76,6%.

Sepanjang Tahun 2015, IATA mencatat tingkat kecelakaan pesawat jet komersial dunia turun 30% menjadi 1:3,1 juta penerbangan dari rata-rata lima tahun lalu sebelumnya sebesar 1:2,17 juta penerbangan.

Direktur Umum dan CEO International Air Transport Association (IATA) Tony Tyler mengatakan kinerja keselamatan angkutan udara sepanjang 2015 cukup baik. Menurutnya, penggunaan angkutan udara akan kian aman dalam jangka panjang.

“Meski begitu, kita terkejut dengan jatuhnya Germanwings 9525 dan Metrojet 9268. Tidak ada cara yang mudah untuk mengatasi kesehatan mental dan keamanan yang terjadi pada tragedi tersebut,” katanya.

Berdasarkan data IATA, kinerja keselamatan seluruh wilayah, kecuali Amerika Utara mencatatkan kinerja yang membaik ketimbang rata-rata lima tahun yang lalu. Wilayah Timur Tengah-North Afrika dan Asia Utara menjadi yang paling aman, atau zero accident.

Disusul Eropa dengan tingkat kecelakaan 1:6,66 juta, Asia Pasifik sebesar 1:4,76 juta, Amerika Utara 1:3,12 juta, Amerika Latin dan Karibia 1;2,56 juta, negara-negara pecahan Uni Soviet 1:531.914 dan Afrika 1:286.532 penerbangan.

Tony menilai industri penerbangan tidak akan berdiam diri dan terus bekerja keras untuk meminimalisir risiko terjadinya kejadian serupa di masa mendatang. IATA sendiri memiliki enam poin strategi keselamatan yang akan dilakukan.

Pertama, mengurangi risiko operasional seperti kehilangan kontrol dalam penerbangan, kondisi landasan pacu dan kontrol penerbangan di medan yang sulit. Kedua, meningkatkan kualitas dan kepatuhan melalui program audit.

Ketiga, mengadvokasi peningkatan infrastruktur penerbangan melalui pendekatan navigasi berbasis kinerja. Keempat, konsisten dalam mendukung pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan.

Kelima, mendukung perekrutan dan pelatihan yang efektif dalam meningkatkan kualitas dan kepatuhan melalui program IATA seperti pelatihan kualifikasi dan inisiatif. Keenam, mengidentifikasi dan menangani isu-isu keamanan yang muncul. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.