Jumlah Hotel di Yogyakarta Over Suplai

0
639

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Jumlah hotel di Yogyakarta saat ini melebihi kapasitas, over suplai bahkan melebihi jumlah wisatawan yang datang ke kota pariwisata dan budaya. Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mendesak agar pemerintah daerah membuat kebijakan baru terkait masalah hotel.

“Pembangunan hotel baru di Yogyakarta dan Sleman layak dihentikan agar iklim bisnis perhotelan di Yogya tetap terjaga. Biar berkembang, hendaknya pengusaha diberi kesempatan untuk membangun hotel di daerah lain seperti Kulon Progo,” tandas Ketua PHRI Yogyakarta, Istijab di Yogja.

Saat ini, lanjut dia, hotel baru di Yogja dan Sleman terus bertambah. Meski satu sisi jadi kabar menggembirakan, karena bisa membuka lowongan kerja baru. Namun bagi industri perhotelan menjadi bumerang.

Mengingat tingkat hunian hotel yang sebelumnya mengalami kontraksi. Belum lagi adanya hotel yang ‘memaksakan’ diri dengan membuat fasilitas tidak sesuai kualifikasi bintangnya, jelasnya.

Dikatakan, dibangunnya bandar udara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo menjadi sebuah harapan baru. Kalangan perhotelan berharap adanya bandara baru ini, jumlah wisatawan yang datang bisa bertambah banyak.

Apalagi kapasitas bandara baru di Kulon Progo didesain jauh lebih besar dibanding bandara Adisutjipto. Kapasitas bandara baru nanti di tahun pertama bisa mencapai 15 juta penumpang. Kini, jumlah penumpang bandara yang masuk ke Adisutjipto sekitar 6,4 juta orang dalam setahunnya.

“Harapan kami dengan bandara baru, jumlah wisatawan bisa meningkat dua kali lipat dibanding saat ini. Kami memang sangat berharap bandara baru tersebut segera terealisasi,” ujarnya, seperti dilansir laman Sindonews, Sabtu (05/11/2016).

Karena bandara baru itu, saat ini PHRI bersama pemerintah mencoba mengarahkan investor yang ingin mendirikan hotel ke Kulon Progo. Harapannya dengan pembangunan di Kulon Progo maka iklim bisnisnya bisa terjaga untuk beberapa tahun mendatang. “Kami berharap pemerintah juga memberikan berbagai kemudahan di wilayah,” ucapnya.

Dilanjutkan, saat low season, tingkat hunian di Yogya terutama di luar ring I (dekat Malioboro) sangat rendah. Untuk hotel berbintang, hanya 40-50% rata-rata huniannya. Hotel non bintang di bawah angka itu malah bisa mencapai 30%. “Sembari menunggu realisasi bandara baru, harus ada inovasi agar tetap bertahan. Harus lebih kreatif lagi,” sarannya. (*/SC)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.