Jimmy Gunawan; Alaya, Rumah Bagi Wisatawan Selama Berada di Pulau Dewata

0
1810
Suasana kolam renang Alaya Resort Hotel Ubud, Bali, kental dengan nuansa alam Indonesia. (foto: repro Alaya)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id; Wajah Jimmy Gunawan, CEO AIM Hospitality Group, Bali, penuh senyum saat jumpa makan pagi disebuah hotel di kawasan Sarinah, Jakarta. Senyumnya memang bukan tanpa alasan karena sebelum kami bertemu berita bahwa Alaya Resort Kuta mendapat penghargaan sudah tersebar.lagi

“Baru enam minggu beroperasi, Alaya Resort Kuta sudah meraih penghargaan sebagai Bali Leading New Resort. Senang sekali rasanya karena kedua resort kami bergantian mendapatkan penghargaan jadi total ada tiga penghargaan sekarang,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Jimmy memang patut berbangga karena Alaya International Management ( AIM) Hospitality Group yang menjadi induk dari Alaya Hotel and Resort di Ubud dan di Kuta Bali serta sejumlah brand lainnya seperti Villa de daun, Tanaya Bed & Breakfast, DaLa Spa, Alaya Grounds, Petani dan Tan’s Pastry berhasil menggunakan sebanyak mungkin bahan lokal dan menerapkan standarisasi pelayanan yang baik sehingga berbuah manis.

“Istri saya Michelle Tanaja sejak kami mulai bekerja bareng selalu menekankan standar operasional prosedur kerja ( SOP) dan pelayanan yang beriorientasi pada kepuasan pelanggan. Jadi kegigihan dan amanah menjalankan apa yang sudah menjadi komitment bersama inilah yang membuat hasilnya membanggakan,” tambah bapak dua anak berumur 7 tahun dan lima tahun ini.

Jimmy memang tidak mau bekerja biasa-biasa saja begitu pula dalam membangun hotel-hotelnya. Selain mengusung konsep hijau dan mengedepankan keasrian lingkungan, Jimmy memanfaatkan bahan baku lokal untuk mengisi berbagai interior ruangan.

“Saya tidak ragu memanfaatkan bambu untuk interior ruangan hingga ke kolam renang atau memanfaatkan topi caping petani untuk interior lobby. Buat orang Indonesia yang biasa melihat bambu mungkin berkesan murahan tapi di mata wisatawan mancanegara justru berbeda dan erat kaitannya dengan budaya sehingga mereka lebih mengapresiasi,” ungkapnya.

Alaya Resort Kuta dan Alaya Resort Ubud sendiri di desain oleh architects Grounds Kent, dari Perth, Australia yang sudah sering memenangkan penghargaan internasional karena proyek-proyeknya dimancanegara yang kental dengan keunikan budaya setempat.

Untuk urusan seni landscape kedua hotel dipercayakan pada Made Wijaya dan patung-patung yang menghiasi ruangan karya Pintor Sirait. Sedangkan untuk interior Da La spa ditangani oleh Zohra Boukhari, interior decorator kelahiran Maroko.

Menyebut kota Perth, ibu kota negara bagian Australia Barat darimana arsitek yang membangun hotelnya berasal memang memiliki kesan yang mendalam karena Jimmy remaja yang ketika itu berusia 16 tahun pernah tinggal selama dua tahun menyelesaikan masa sekolah ditingkat SMA di kota itu.

“Perth itu negara bagian terbesar di Australia dan dikenal sebagai kota pelajar maupun kota wisata. Saya yang besar di kawasan Darmo Permai Surabaya minta pada orangtua agar bisa sekolah disana. Akhirnya oleh orangtua yang menjadi distributor buah-buahan impor saya dikirim kesana untuk menyelesaikan SMA,” ungkap Jimmy mengenang masa remajanya.

Tinggal di homestay dari pasangan David Thomas dan Schevoghn yang asli Perth, Jimmy beruntung tinggal bersama mereka karena pasangan yang baru menikah itu memperlakukannya sebagai anak sendiri dan membimbingnya untuk bergaul dan bersosialisasi dengan baik sesuai dengan ajaran agama.

“Waktu itu banyak pelajar Indonesia yang tinggal bersama di apartemen dan tidak lagi fokus belajar hingga gagal. Saya sempat ingin pulang ke tanah air karena di tempat kost ( homestay) semua kebutuhan sehari-hari harus dilakukan secara mandiri. Tidak bisa menyuruh pembantu lagi atau minta tolong orang lain. Tapi karena saya yang minta sekolah di luar negri jadi pantang pulang sebelum selesai sekolah,”

Selesai SMA tahun 1998, Jimmy dihadapkan dua pilihan untuk kuliah namun orangtua sudah tidak mampu membiayai secara penuh karena di tanah air terjadi peristiwa Mei 1998 di susul krisis moneter. Jimmy nekad untuk melanjutkan hidup di Australia dan pindah ke Sydney.

“Kesempatan kerja terbuka apalagi sudah tamat SMA jadi saya cari uang buat biaya kuliah. Dalam seminggu saya kerja 60 jam di dua tempat yaitu di 7 Eleven dari Senin-Jumat dan di Subway pada akhir pekan. Uang pertama yang saya peroleh pada minggu pertama mencapai 600 dolar Australia, membuat saya tambah semangat bekerja hingga akhirnya bisa kuliah di bidang akunting dan keuangan untuk strata satu serta kuliah strata dua dibidang pemasaran ( marketing),” lanjutnya.

Menurut Jimmy, ketika bekerja di 7 Eleven dia piawai membaca situasi dan gerak tubuh dari konsumen yang masuk toko apalagi yang berniat mencuri. Begitu juga ketika bekerja di Subway yang berdekatan dengan café para gay, Jimmy jadi paham dan mudah mengenali karakteristik pria-pria gay.

Siapa sangka ketika sekarang menjadi pengusaha, kepiawaiannya membaca bahasa tubuh ( body language) inilah yang membuatnya kini juga mahir dalam mencari eksekutif untuk duduk dalam jajaran pimpinan di jaringan usahanya.

Di Sydney, Jimmy sempat tinggal bersama teman di apartemen tetapi perilaku teman sekamarnya ini membuat saat malam natal dia dilarang masuk apartemen oleh pengelola dan terpaksa mengungsi. Rupanya selain selain uang sewa tidak dibayarkan, Jimmy juga kehilangan barang-barang membuatnya kapok berbagi kamar dengan orang lain.

Besoknya Jimmy melamar sebagai office boy ke sebuah peruhaan pengembang property yang dimiliki warga keturunan China asal Malaysia. Selain langsung diterima bekerja, oleh pasangan pemilik perusahaan yaitu Shah Yee dan Adeline Yee, Jimmy bahkan boleh tinggal di rumah anak sulung mereka sehingga terbebas dari biaya kost.

Karirnya diperusahaan itu cemerlang karena sambil kuliah, dipercaya sebagai akunting yang dijalaninya selama lima tahun. Dalam kurun waktu itu adik-adiknya dari Surabaya menyusul kuliah di Australia bahkan Jimmy mampu menyewa apartemen milik bosnya sehingga bisa tinggal satu atap bersama tiga orang adiknya.

“Sekarang Shah Yee dan istrinya sudah seperti orangtua sendiri juga karena kami saling berkunjung . Siapa sangka kalau ketika kecil ditanya cita-cita saya suka berucap pingin bangun hotel maka oleh kedua orang tua angkat saya ini yang banyak membangun apartemen telah membimbing saya masuk ke dalam bisnis property terutama hotel seperti yang saya jalani sekarang,” kata penggemar otomotif ini.

Jimmy Gunawan, C EO AIM Hospitality
Jimmy Gunawan, C EO AIM Hospitality

Sempat tinggal selama 8 tahun di Sydney dan menyelesaikan kuliah strata duanya di bidang pemasaran ( marketing), Jimmy akhirnya merasa jenuh dengan rutinitasnya dan memutuskan untuk pulang ke tanah air.

Kebetulan teman akrabnya di Perth, Michelle Tanaja juga memutuskan untuk pulang ke tanah air. Sampai di Indonesia, keduanya tidak berminat untuk bekerja di perusahaan orangtua. Ayah dan Ibu kandungnya yang distributor buah impor tidak sepenuhnya menyerahkan bisnis hingga Jimmy merasa menjadi pengangguran.

Michelle yang kembali ke Bali karena orangtuanya memang punya bisnis di Bali dan Surabaya seperti hotel dan restoran. Dia memilih untuk membenahi bisnis hotel sang papa.Namun lama kelamaan dia mulai pusing menangani berbagai persoalan yang muncul dalam hal operasional maupun sumber daya manusianya.

“Jadilah saya yang tidak betah dengan hawa panas dansuasana kawasan industri Surabaya hingga akhirnya ke Bali dan bekerja di property calon mertua. Michelle ketika itu sudah mulai membenahi manajemen bisnis hotel milik papanya yaitu Villa De Daun, Kuta, Bali,” ujarnya mengawali kiprahnya di bisnis hospitality.

Suatu malam ketika sedang makan bersama keluarga Michelle inilah terjadi ledakan bom Bali dua . Kebetulan restoran tempat Jimmy dan keluarga Tanaja makan berdekatan dengan tempat kejadian sehingga mereka semua terlempar akibat dasyatnya ledakan dan hawa panas yang ditimbulkannya.

Ibunda Jimmy yang tengah menengok adik-adiknya di Sydney dan papanya di Surabaya melihat   tayangan televisi internasional bahwa Jimmy menjadi korban ledakan bom yang beritanya mendunia.

“Alhamdulilah saya dan papanya Michelle luka ringan dan boleh langsung pulang setelah mendapatkan perawatan. Namun peristiwa ini membawa hikmah yang luar biasa dan saya langsung melamar Michelle, teman sekolah sejak SMA.Saya tidak mau kehilangan waktu dan enam bulan kemudian kami menikah di Bali dan kini dikarunia dua anak,” ungkapnya.

Jimmy menilai dia sudah dikasih kesempatan hidup untuk kedua kalinya oleh Sang Khalik, oleh karena itu sisa hidup yang dijalananinya sekarang membuatnya lebih fokus pada keluarga, bisnis dan lebih memaknai hidup dengan berupaya berbuat kebaikan setiap hari dan melakukan pemberdayaan masyarakat.

“Jaringan hotel Alaya harus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya karena arti dari Alaya adalah RUMAH. Jadi rumah bagi tamu yang menginap, bagi karyawan dan mitra-mitra kami termasuk masyarakat di sekitar dan barulah rumah bagi pemilik perusahaan in,” jelas penggemar wisata petualangan ( adventure) ini.

Memberikan pelayanan bagi semua yang terlibat dalam bisnisnya dimulai dengan sentuhan personal. Tamu yang menginap di Hotel Alaya misalnya, untuk makan pagi disediakan sejumlah menu yang dimasak langsung oleh koki hotel.

Dia juga memberikan minuman segar dengan pilihan juice buah yang diolah langsung dari buah segar serta beragam minuman kopi yang diolah langsung dari biji kopi asli dari berbagai daerah terutama kopi Bali.

Makan pagi merupakan ‘amunisi’ untuk beraktivitas sepanjang hari oleh karena itu pihaknya ingin semua orang terutama tamu-tamu bahagia mengawali pagi dengan makanan sehat.

Dia teringat sejak kecil kedua orangtuanya selalu memberikan juice segar sebelum berangkat sekolah. Hasilnya Jimmy besar dengan kesadaran penuh untuk hidup sehat, menghargai alam semesta dan banyak memanfaatkan produk lokal untuk menunjang bisnisnya.

Melewati waktu luang dengan keluarga, Jimmy mengaku asyik menemani istri belanja atau mencari barang-barang kerajinan untuk menghiasi interior hotel. Dia sendiri kerap mendatangi pabrik marmer di Bandung, atau produsen bahan baku material lainnya yang digunakan untuk bangunan hotel maupun property lain yang tengah digarap..

Mencari tahu langsung dari sumbernya membuat keluarga kecilnya sering melakukan wisata petualangan tidak terduga dan mendapatkan hal-hal baru yang bersifat edukasi bagi kedua putra dan putrinya.

Dia juga menekankan pada mereka bahwa hubungan yang berkelanjutan dengan sang pencipta alam semesta, dengan sesama manusia dan menjaga kelestarian alam. “Jadi sebagai pebisnis, manajemen hotel kami ingin mendapatkan tamu-tamu loyal, repeater guest yang akan datang kembali seolah-olah Alaya adalah rumah kedua bagi mereka.

“Pada anak-anak hal-hal seperti inilah yang ingin saya wariskan karena bisnis bukan hanya berorientasi pada keuntungan tapi sejauh mana kita bisa berbagi dan membuat keluarga besar yang happy..,” katanya dengan polos. Makan pagi kami berakhir karena Jimmy sudah ditunggu jadwal pertemuan lainnya. Au Revoir Jimmy, sampai jumpa lagi. ( hildasabri@yahoo.com).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here