Jelang Festival Bakar Tongkar, Pembuatan Replika Kapal Dikebut

0
133
Replika kapal yang akan dibakar dalam Festival Bakar Tongkang pada 17 hingga 19 Juni 2019

BAGAN SIAPI-API, bisniswisata.co.id: Festival Bakar Tongkang tinggal menghitung hari. Event tahunan yang sudah menjadi kalender pariwisata bakal berlangsung di kota Bagan Siapi-api, Rokan Hilir, Provinsi Riau, pada 17 hingga 19 Juni 2019.

Festival juga dikenal dengan nama Go Gek Cap Lak dalam bahasa Hokkien. Dengan kata lain Go berarti ke-5 dan Cap Lak berarti ke-16, sehingga ritual tersebut dirayakan setiap tahun pada hari ke 16 bulan ke 5 sesuai Kalender China.

Bakar Tongkang diartikan membakar kapal yang terakhir. Sebuah tradisi untuk memperingati keputusan penting pendatang Tionghoa pertama, yang meninggalkan tanah airnya dengan kapal dan menetap di Riau Sumatera.

Persiapan replika kapal yang bakal dibakar, hingga kini terus dikebut dengan pengerjaan siang malam. Tim Ho yang mengerjakan replika kapal, bekerja keras menyelesaikan pembuatan “Ki Hu Wong Ya,”.

Bersama lima tukang kayu lainnya, Tim dikejar dateline. Minggu malam ini kapal harus siap dibangun, sebab Senin harus disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King Bagan Siapi-api untuk diberkati lalu keesokannya diarak dan dibakar bersama-sama. Puluhan ribu orang termasuk wisatawan asing yang biasanya datang dari China, Malaysia dan Singapura bakal jadi saksi mata ritual bakar tongkang yang digelar Senin hingga Rabu 19 Juni 2019. mendatang.

Tahun lalu, ritual tahunan ini mampu menyedot 69 ribu pengunjung. Tahun 2019, Kementrian Pariwisata (Kemenpar) menggenapkan target menjadi 70 ribu wisatawan. Event massif pada tahun 2017 menyabet jawara sebagai atraksi budaya terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) ini, telah dihelat secara turun-temurun.

Tradisi Bakar Tongkang ini Sempat vakum oleh tekanan rezim orde baru. Namun, bangkit lagi pada tahun 2000. Sejak itu terus bergulir hingga kini dan tampil mengekalkan diri sebagai event paling ikonik, paling keren dan paling ngehits di wilayah Riau Sumatera.

Esensi ritual bakar tongkang sejatinya merupakan wujud penghormatan untuk memperingati milad Dewa Kie Ong Ya, yang diyakini sebagai dewa pelindung kota. Secara historis, ritual ini juga terhubung dengan hikayat asal-muasal Kota Bagansiapiapi.

Bagi warga Bagansiapi-api, yang mayoritas dihuni warga Tionghoa, ritual bakar tongkang menyiratkan makna jauh lebih sakral, ketimbang perayaan Imlek maupun Cap Go Meh.

Hampir seluruh warga Tionghoa dari seluruh penjuru negeri yang lahir di kota ini, “kembali” dari perantauan dan berkumpul bersama sanak saudara. Mereka melebur dalam gemerlap dan kemeriahannya. Dan tentunya menjadi daya tarik wisata yang luar biasa.

Hikayat Bakar Tongkang ini, Semula ada 3 kapal tongkang dalam ekspedisi. Namun hanya satu kapal yang mencapai pantai Sumatera. Dipimpin oleh Ang Mie Kui, kapal berhasil tiba di pantai Riau karena mengikuti kunang-kunang yang oleh warga lokal dikenal sebagai siapi-api. Mereka lantas memutuskan untuk menetap di sini dan bersumpah tidak akan kembali ke tanah air mereka.

Keputusan bersejarah para migran ini, ditandai membakar Kapal tongkangnya, yang kini setiap tahun dirayakan dengan membakar replika kapal tradisional Tiongkok di puncak festival.

Selama festival, dengan berbagai ritual serta doa oleh peserta di pura utama, biasanya diawali prosesi budaya, berbagai atraksi oriental yang berbeda seperti Barongsai juga panggung hiburan dari Medan, Singkawang (Kalimantan Barat) serta dari negara tetangga Malaysia, Taiwan, dan Singapura yang membawakan lagu-lagu Hokkien.

Puncak festival, yang merupakan pembakaran replika kapal besar, kerumunan dengan cemas mengantisipasi di mana tiang utama akan jatuh. Warga setempat percaya arah dimana tiang utama jatuh (apakah menghadap ke laut atau menghadap ke pedalaman) akan menentukan nasib mereka di tahun yang akan datang.

Jika tiang laut jatuh ke laut, mereka percaya keberuntungan akan datang sebagian besar dari laut, tapi ketika jatuh ke darat, maka keberuntungan tahun ini sebagian besar akan berasal dari daratan.

Replika kapal biasanya berukuran sampai 8,5 meter, lebarnya 1,7 meter dan beratnya mencapai 400Kg. Kapal itu akan disimpan untuk satu malam di Klenteng Hok Hok Eng. Kemudian diberkati lantas dibawa dalam sebuah prosesi ke tempat di mana kapal ini akan dibakar.

Prosesi tongkang juga melibatkan atraksi Tan Ki, dimana sejumlah orang menunjukkan kemampuan fisiknya yang luar biasa dengan menusuk diri dengan pisau tajam atau tombak namun tetap tidak terluka, agak mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang di Kalimantan Barat.

Sesampainya di situs tersebut, ribuan potongan kertas permohonan berwarna kuning akan dilekatkan pada kapal yang membawa doa dari orang-orang untuk nenek moyang mereka, sebelum kapal tersebut akhirnya dibakar.

Ritual ini juga merupakan manifestasi ucapan terima kasih oleh rakyat kepada para dewa Ki Ong Ya dan Tai Su Ong yang membawa nenek moyang mereka dengan selamat hingga sampai ke Bagansiapi-api. Para dewa Ki Ong Yan dan Tai Su Ong mewakili keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan, kebahagiaan dan kesedihan, serta keberuntungan dan bencana. Tertarik? (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.