Jelajah Gunung Salak, Penuh Pesona Penuh Misteri

0
6676
Gunung Salak

BOGOR, test.test.bisniswisata.co.id: “Manusia cuma bisa menjejak puncak, tapi tak pernah bisa menaklukan gunung.” (Gasten Rebuffat- The Great Alpinist/ ahli mountaineering, 1921-1985, Prancis)

Tulisan ini tertera pada sebuah papan yang ditempel di sebuah pohon di jalur pendakian Gunung Salak, Jawa Barat. Kalimat ini seolah mengingatkan para pendaki untuk tidak berlaku pongah dan sombong karena telah menjejakkan kaki di puncak gunung.

Alam tak pernah takluk meski jutaan manusia telah menjamahnya. Sebaliknya, manusia yang seharusnya bersyukur karena diberi penghidupan oleh alam, dan diberi kesempatan menikmati ciptaan Ilahi.

Bukan tanpa alasan papan tersebut dipasang di jalur pendakian Gunung Salak. Berbagai peristiwa yang terjadi di gunung yang memiliki tiga puncak ini menjadi pembuktian bahwa alam tak pernah dapat sepenuhnya ditaklukkan manusia.

Daftar panjang pendaki yang hilang, dan pesawat jatuh merupakan beberapa isyarat untuk tidak pernah meremehkan alam. Belum lagi legenda yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, raja terakhir Kerajaaan Padjadjaran.

Sebagian masyarakat Tatar Sunda meyakini Prabu Siliwangi beserta Kerajaan Padjadjaran dan prajuritnya menghilang secara misterius di Gunung Salak setelah terdesak pengaruh Islam yang disebarkan anaknya sendiri, Kian Santang.

Terlepas berbagai peristiwa yang hingga kini masih misterius itu, Gunung Salak yang terletak di perbatasan Sukabumi dan Bogor ini masih memiliki pesona dengan banyaknya air terjun alami yang seolah mengelilingi gunung ini. Terdapat Curug Cigamea, Curug Seribu, Curug Ngumpet, Curug Pangeran, Curug Nangka, Curug Luhur, dan lainnya.

Selain itu sebagai gunung api strato tipe A, Gunung Salak memiliki sebuah kawah dengan luas yang cukup besar bernama Kawah Ratu. Deru suara uap, asap yang terus mengepul, bau belerang yang menyengat, dan pepohonan yang mengering menandakan kawah yang berada di pinggang Gunung Salak ini masih aktif.

Untuk menegaskan hal itu, beberapa papan dipasang oleh petugas Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebagai peringatan kepada pengunjung akan bahaya menghirup gas yang dikeluarkan karena dapat menyebabkan kematian.

Meski demikian, puluhan hingga ratusan orang setiap harinya mengunjungi kawah yang berada di ketinggian 1.437 mdpl ini. Sekadar untuk menikmati keindahan pemandangan dan aktifitas geologi di Kawah Ratu, atau melintasi kawah ini saat mendaki ke Puncak Salak.

Bahkan, pada hari-hari tertentu seperti akhir pekan, beberapa pengunjung ada yang nekat mendirikan tenda dengan jarak sekitar 100 meter dari area kawah.

Untuk sampai area Kawah Ratu yang masih berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, pengunjung dapat beristirahat dengan mendirikan tenda atau menyewa penginapan di Desa Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor sebelum memulai pendakian melalui Gerbang Gunung Bunder atau naik melalui gerbang di Desa Pasir Reungit.

Dengan jarak sekitar 5 km Gunung Bunder menuju Kawah Ratu dapat ditempuh sekitar 3 jam bagi yang terbiasa mendaki. Sedangkan jika melalui Pasir Reungit dengan jarak sekitar 3,6 km, Kawah Ratu dapat ditempuh sekitar 2 jam.

Sementara jika melalui Sukabumi, jalur pendakian dapat dimulai dari Bumi Perkemahan Cangkuang, Cidahu dengan jarak sekitar 4,5 km.

Puncak Salak I dengan ketinggian 2.211 meter di atas permukaan laut (m.dpl) lebih rendah dibanding tetangganya Gunung Gede (2.958 m.dpl) atau Gunung Pangrango (3.019 m.dpl), namun Gunung Salak dikenal sebagai gunung yang memiliki karakter jalur lebih terjal dengan pepohonan yang rapat.

Hutan lebat yang menutupi tubuh gunung membuat kontur tidak mudah terlihat. Jalur yang terjal dengan dipenuhi bebatuan membuat jalur menuju Kawah Ratu sulit dilalui terutama jika hujan turun. Medan yang cukup sulit ini justru membuat Gunung Salak kerap menjadi lokasi pelatihan dan pendidikan kelompok-kelompok pecinta alam.

Semua kesulitan dan cerita mengenai gunung yang namanya berasal dari kata Salaka atau perak dalam bahasa Sanskerta ini tak terasa begitu menapaki jalur pendakian.

Melalui gerbang Pasir Reungit, sepanjang jalur pendakian, pengunjung akan disuguhi hijaunya pepohonan, beningnya Sungai Cikuluwung dan suara kawanan burung penghuni Gunung Salak.

Setelah perjalanan sekitar satu jam lebih, aroma belereng mulai tercium. Bau belereng yang semakin menyengat menandakan pengunjung harus mulai menggunakan masker karena akan tiba di Kawah Mati I dan Kawah Mati II, sebelum akhirnya tiba di Kawah Ratu sekitar setengah jam kemudian.

Sesampainya di Kawah Ratu, rasa lelah melewati jalanan terjal yang terkadang licin terbayar tuntas. Namun gas berbahaya yang dihasilkan membuat pengunjung tak dapat berlama-lama menikmati fenomena alam yang menakjubkan ini.

Dari Kawah Ratu, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju Puncak Salak I dengan waktu tempuh sekitar 3 jam, dan kembali ke Gunung Bunder atau ke Cidahu, Sukabumi.

Apapun pilihannya, pendaki harus selalu mengingat perjalanannya bukan untuk menaklukkan alam, tetapi menikmati dan mensyukuri karunia-Nya.

Misteri Kampung Setan

Bagi pecinta alam maupun warga sekitar nama kampung setan di Gunung Salak, bukan sekedar guyonan belaka. Gunung yang memang jarang dikunjungi wisatawan karena dianggap angker. Berbeda dengan gunung Gede-Pangrango yang setiap tahunnya dikunjungi oleh ratusan pendaki, gunung Salak hanya didaki kurang dari separuhnya.

Keangkeran gunung Salak makin kuat karena di puncak tertingginya terdapat sebuah makam. Menurut kabar yang beredar, makam tersebut adalah makamnya Mbah Gunung Salak. Nama tersebut barangkali perlu ditelusuri lagi kebenarannya.

Di wilayah makam itu sendiri tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa dibawah makam tersebut bersemayam jasad Mbah Gunung Salak. Yang ada hanyalah sebuah peringatan yang ditulis dalam bahasa Jawa ngoko (kasar). Peringatan tersebut menyatakan supaya pengunjung (pendaki) berperilaku sopan dan yang perempuan dilarang mendekati makam.

Ada juga kabar, makam tersebut sebenarnya hanya bikinan seseorang. Tidak ada jasad siapapun didalamnya. Makam itu dibuat semata-mata hanya untuk memberi kesan mistis. Angker. Dengan tujuan agar tidak banyak para pendaki yang datang.

Ternyata berhasil bila melihat jumlah pendaki per tahunnya. Kalau melihat bukti, catatan, atau dokumen sejarahnya yang kurang valid dan hanya didasarkan cerita dari mulut ke mulut, bisa jadi kabar tentang kebohongan itu benar. Siapa yang berani menjamin keotentikannya, bila cuma didukung oleh pernyataan lisan yang sulit sekali ditelusuri asal-usulnya.

Makam lain pendukung keangkeran gunung Salak adalah makam Pangeran Santri. Bila turun dari puncak menuju desa Girijaya atau mulai mendaki dari desa tersebut, kita akan melewati komplek makam Pangeran Santri. Lokasinya yang tinggi di lereng gunung dengan susunan pepohonan menjulang rapat semakin menjadikan tempat tersebut sunyi senyap. Tidak ada suara kehidupan manusia selain dua orang juru kunci dan binatang hutan yang ada disekitar makam tersebut.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut, gunung Salak memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Hutannya yang masih lebih perawan bila dibandingkan gunung Gede-Pangrango menjadi imbalan tak ternilai yang dapat diperoleh pendaki.

Kita akan bisa menikmati sinar matahari pagi yang berpendar cemerlang menembus lebatnya rimbunan dedaunan. Dalam perjalanan menuju puncak dari arah Wana Wisata Cangkuang, kawah Ratu terlihat jelas.

Sepanjang jalan kita akan menemui berbagai spesies tanaman, diantaranya kantung semar dan anggrek hutan jenis dendrobium. Kalau beruntung, kita bisa ketemu dengan elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang dengan gagahnya melayang-layang di udara.

Banyak hal menarik yang dapat kita jumpai di punggungan maupun puncaknya gunung Salak. Dan ini lebih menakjubkan dibandingkan isu kampung setan yang muncul karena keberadaan makam di puncak gunung dan lerengnya.

Bagi pendaki berpengalaman, iming-iming keindahan alam pasti lebih menarik daripada ketakutan tak beralasan terhadap kampung setan. Pun buat pendaki pemula, sangat disarankan untuk mendaki Puncak Salak I tanpa harus dihantui cerita kosong tersebut.

Juga beberapa misteri yang menyelimuti Gunung Salak, antara lain:

Mitos Prabu Siliwangi

Banyak mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain kawasan ini dianggap suci bagi kalangan masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir Prabu Siliwangi. Raja Padjajaran itu, sampai saat ini kuburannya pun belum diketahui letaknya.

Konon, Prabu Siliwangi menghilang di Gunung Salak untuk menghindari kejaran Kiai Santang. Prabu Siliwangi yang
bersembunyi di belantara kemudian terkepung. Anehnya, sang Prabu bisa meloloskan diri dengan mengapung ke udara. Tempat menghilangnya Prabu Siliwangi tersebut kemudian dinamakan ‘pengapungan’ yang berlokasi tidak jauh dari Kawah Ratu.

Tempat penyimpanan harta

Di kawasan Gunung Salak juga kerap disebut banyak menyimpan harta karun peninggalan Belanda. Harta itu berupa emas murni yang dimasukan di dalam peti. Dan peti-peti itu kemudian dikubur di empat titik terpisah di area Gunung Salak Bogor.

Harta tersebut sengaja di kubur VOC, karena takut diambil tentara Jepang yang masuk ke Indonesia 1942. “Mereka (VOC) takut emas-emas yang mereka kumpulkan direbut Jepang yang waktu itu berusaha mengusir Belanda dari Indonesia,” ujar tokoh masyarakat Cidahu, Sukabumi.

Setelah sukses menguburnya, mereka kemudian membuat peta penunjuk arah yang disertai tanda-tanda fisik lokasi. Waktu itu VOC berharap ketika mereka datang lagi ke Indonesia harta yang disimpan bisa diambil kembali.

Tapi kenyataanya setelah Jepang keluar, Indonesia kemudian merdeka tahun 1945. Akhirnya serdadu Belanda dan VOC tidak bisa masuk lagi ke Indonesia. Tentu saja harta-harta yang dikubur itu tidak bisa diambil kembali.

Kabar tentang adanya harta timbunan itu di Gunung Salak sempat beredar tahun 1953. Waktu itu, sejumlah warga Cidahu mendengar kalau harta karun itu di kubur di wilayah kaki Gunung Salak tersebut. Info yang mereka terima tanda fisik tempat penyimpanan harta itu adalah tembok yang tebalnya 120 centimeter persegi. Kini cerita harta karun masih misteri.

Kawah Ratu

Di kawahnya yang juga disebut “kawah ratu” masih terdapat sumber sulfur dan belerang baik berupa gas, uap ataupun kubangan yang panas dan mendidih. Kawah itu bisa dengan tiba-tiba mengeluarkan asap belerang yang meracuni paru-paru. Ada sederet peristiwa di wilayah tersebut yang korbannya meninggal dunia.

Karena kondisi tersebut, maka kawah Ratu juga dianggap sebagai lokasi yang keramat dan berbahaya oleh warga sekitar dan para pecinta alam.

Kabarnya, disekitar Kawah Ratu ada juga harta yang ditimbun. Alhasil, karena kabar tersebut, hampir seluruh warga Cidahu beramai-ramai mencarinya. Setiap ada tembok sisa peninggalan Belanda mereka hancurkan. Dalam beberapa bulan, tembok sisa pembatas perkebunan milik Belanda dengan penduduk pribumi saat itu, langsung ludes menjadi puing.

Sementara warga yang coba mencari harta itu di sekitar Kawah Ratu banyak yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak Bogor. Arwah-arwah inilah yang kabarnya bergentayangan di sekitar Kawah Ratu.

Kini kabar harta itu kemudian muncul kembali pertengahan 2006 lalu. Bajari saat sedang menunggu warung miliknya, didatangi tiga pria. Mereka mengaku berasal dari Jakarta. Bahkan salah satu diantaranya mengaku salah seorang cucu soekarno dari Guntur, anak sulung Soekarno.

Tiga pria itu menanyakan tentang beberapa tanda fisik, yang katanya tempat penyimpanan harta karun yang sempat
menghebohkan warga Cidahu 1953 lalu. Tanda-tanda fisik yang tertera di peta adalah berupa aliran sungai, pohon bambu, pohon damar dan sebuah tembok berukuran 120 centimeter persegi.

Namun oleh Bajari dikatakan tanda-tanda yang tertera di peta sudah tidak ada lagi. Ukuran wilayah yang tertera di peta tersebut juga sudah banyak yang bergeser sehingga sulit untuk melacaknya.

Menurut pengakuannya Bajari di sekitar Gunung Salak Bogor memang banyak harta yang ditanam oleh para pengusaha asal Belanda yang kabur sebelum pendudukan Jepang ke Indonesia. Alhasil kisah emas VOC membuat Gunung Salak Bogor semakin misterius.

Banyak makam dan petilasan

Di kawasan Gunung Salak ini juga terdapat banyak makam para raja. Menurut juru kunci Gunung Salak, H.Marsa, setidaknya ada 40 makam kuno yang berusia ratusan tahun. Selain makam, ada juga petilasan suci yang banyak tersebar di berbagai titik, seperti petilasan Prabu Siliwangi yang berada di kaki Gunung Salak, Bogor dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi.

Karena keramatnya lokasi tersebut, banyak warga yang meyakini bahwa tidak ada yang boleh melewati kawasan tersebut, terlebih dengan membawa rasa kesombongan atau keangkuhan.

Cuaca Kerap berubah

Gunung Salak sendiri memiliki cuaca yang sering berubah-ubah di puncaknya. Terkadang saat matahari terik, tiba-tiba turun hujan disertai kabut. Hal inilah yang sering membahayakan para pendaki gunung Salak. Selain itu seringkali terjadi kabut tebal di puncak gunung secara mendadak yang tentunya akan mempengaruhi penerbangan. Alasan-alasan tersebut membuat pesawat komersil jarang melintas di atas gunung Salak. Biasanya yang melintas hanyalah helikopter atau pesawat militer.

Tempat Pernikahan Manusia dan Jin

Ada yang menyebutkan bahwa Gunung Salak merupakan lokasi tempat pernikahan antara manusia dan jin. Namun apapun informasi yang dipercaya masyarakat sekitar lereng Gunung Salak, ternyata Gunung Salak memang layak untuk dikunjungi bagi wisatawan yng suka menjelajah alam. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.