Jakarta Hidupkan Kembali Wisata Jalan Jaksa

0
2617
Warga Negara Asing mengikuti lomba makan kerupuk di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta meminta sejumlah kawasan wisata di Ibukota agar dihidupkan kembali. Salah satunya kawasan Jalan Jaksa, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat yang belakangan dinilai tidak lagi menjadi lokasi wisata favorit bagi wisatawan mancanegara (wisman).

“Saat ini kawasan Jalan Jaksa rapi dan bersih. Tapi turis tidak tertarik ke sana, kenapa” kata Santoso, Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI Jakarta saat membahas rancangan KUPA dan PPAS Perubahan APBD DKI Jakarta Tahun 2016, Selasa (06/09/2016).

Menurut Santoso, simbol Ibukota di Jalan Jaksa yang dahulu kala terkenal dengan berbagai macam jajanan, namun kini sudah hilang. Keberadaan hotel yang ada di kawasan itu sendiri juga dinilai tak terlalu memberi kontribusi banyak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI. “Turis itu senangnya ada yang bakar sate, jualan makanan lokal. Kalau sekarang ditertibkan semua, mereka tidak tertarik ke sana,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Catur Laswanto menjelaskan, pihaknya tengah bekerja sama dengan Dewan Riset Daerah DKI Jakarta untuk mempromosikan kembali kawasan wisata Jalan Jaksa. “Kita masih kaji untuk menemukan konsep apa yang pas untuk kawasan itu,” tandasnya.

Tak bisa dipungkiri, Jalan Jaksa menyimpan catatan tentang kehidupan pariwisata di Jakarta. Sejak tahun 1969, kawasan ini sudah dikenal turis asing sebagai lokasi penginapan dengan tarif yang terjangkau. Seiring perkembangan kota, Jalan Jaksa yang semula merupakan gang, kini sudah berada di kawasan pusat Ibu Kota.

Era 1980-an, Jalan Jaksa mencapai kejayaan. Ada sekitar 20 hostel. Sejumlah kafe juga bermunculan. Jalan Jaksa tidak hanya menjadi tempat bagi turis asing, tetapi juga sudah menjadi tempat berkumpul ekspatriat di Jakarta. Setelah tahun 1998, orang Indonesia mulai melirik Jalan Jaksa sebagai alternatif tempat penginapan. Sebelumnya, lokasi ini tidak dilirik sama sekali oleh pengusaha lokal.

Saat ini, jumlah hostel tersisa 14 saja. Sebagian hostel sudah berpindah tangan ke pemilik modal yang lebih besar. Sejumlah rumah warga dibeli dan dijadikan hotel besar. Sekitar lima tahun terakhir, minimarket yang merangkap restoran mungil mulai beroperasi 24 jam. Akibatnya, kehidupan di Jalan Jaksa ikut berputar 24 jam. Juga tumbuh tempat laundry kilat untuk melayani kebutuhan turis dengan waktu kunjungan singkat.

Namun, ada pula rumah warga yang sudah beralih menjadi perluasan kantor-kantor di seputar Jalan Kebon Sirih. Sebagian penginapan di dalam gang juga ada yang beralih menjadi rumah kos untuk mengakomodasi kebutuhan pekerja di sekitar kawasan Jalan Kebon Sirih, Wahid Hasyim, atau seputar Jalan Medan Merdeka.

Perubahan wajah Jalan Jaksa juga berdampak. Semula tarif bermalam di Wisma Delima, misalnya masih Rp 40.000 per orang per malam atau Rp 85.000 untuk satu kamar per malam (untuk isi dua orang), imbas pertumbuhan hotel bintang satu atau dua dengan tarif Rp 200.000-Rp 350.000 per malam terasa juga.

Sayangnya, perhatian pemerintah daerah ke Jalan Jaksa masih minim. Lokasi ini belum menjadi bagian dari kampung deret atau kota tematik. Belakang muncul Festival Jalan Jaksa yang berlangsung tahunan untuk mengembalikan masa lalu Jalan Jaksa. Sayangnya, Festival ini cenderung monoton dengan menampilkan hal yang sifatnya umum. Saat Festival Jalan Jaksa Agustus lalu, seorang turis Perancis bernama Frank (27) memperhatikan cara pembuatan dodol betawi.

Dia berdiri bersama rekannya melihat pembuatan dodol itu hingga siap konsumsi. Saat mencicipi rasanya, dia merasakan sensasi lain. ”Rasanya mirip dengan makanan yang pernah kami makan, tetapi cara pembuatan dan bahan bakunya yang berbeda,” kata Frank.

Frank tidak tertarik dengan hal yang sifatnya umum, sesuatu yang mudah diperoleh di tempat lain. Namun, dia membutuhkan sesuatu yang khas, bersifat lokal. Hal seperti inilah yang seharusnya dikembangkan.Paling tidak, Jalan Jaksa menjadi ruang tamu yang menarik. Di mana para tamu dapat mencicipi sajian kuliner, budaya, dan kreativitas orang-orang Jakarta.
Kini Jalan Jaksa dihidupkan lagi, Mungkinkah? (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.