Jakarta Bangun Destinasi Wisata Kuliner Rp85 Miliar

0
268
Aktifitas di Muara Angke

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Pariwisata Ibukota terus berkembang. Perkembangan kini membangun Resto Apung Muara Angke di Penjaringan, Jakarta Utara. Ini merupakan destinasi wisata kuliner bahari baru, yang ditargetkan mampu menyedot wisatawan yang gemar dunia kuliner bahari.

Dana pembangunan resto apung dari pelampauan koefisien lantai bangunan (KLB) dua perusahaan swasta, PT Keepland Investama. Pelaksana pembangunan adalah PT Astoria Perkasa Nusantara. Pembangunan resto ini diperkirakan memakan waktu sekitar 13 bulan. Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunannya Rp 85,175 miliar.

“Pembangunan resto apung ini jangan terlalu lama. Kalau bisa secepatnya, 11 sampai 12 bulan selesai. Selesai dibangun tolong dijaga dan dirawat agar tetap bersih,” kata Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat ground breaking pembangunan Resto Apung Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (20/8).

Resto Apung ini, lanjut Djarot, akan menjadi tempat wisata kuliner bahari favorit warga Jakarta dan wisatawan asing. Mengingat, Pemandangan laut yang indah diyakini dapat menarik wisatawan domestik, nasional bahkan mancanegara.

“Saya cuma tadi sampaikan kepada masyarakat di sini untuk mengubah image bahwa perkampungan nelayan, pasar ikan, dan pusat ikan bakar, makanan-makanan ikan, itu tidak identik dengan kekumuhan, tidak identik dengan bau menyengat yang tadi. Kalau semua dijaga dengan baik, kebersihan, keamanan dan kenyamanan maka orang banyak datang ke sini.,” ungkapnya.

Resto Apung Muara Angke akan memiliki bentuk menyerupai ikan pari dengan luas area 4.458 meter persegi dengan kontruksi bangunan dua lantai dan sembilan gazebo. Lokasi ini diperkirakan mampu menampung 29 pedagang hasil olahan laut dan sekitar 500 pengunjung. Para pedagang ikan bakar yang berada di Muara Angke akan dimasukkan ke restoran apung. Lokasi lama akan dijadikan tempat parkir.

Ide pembuatan pasar apung dimulai saat Jokowi terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2013. Dia meninjau Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke dan menginstruksikan pembangunan kembali Pujaseri Muara Angke yang lebih modern, bersih, dan tertata rapi. Lokasi itu pun menjadi Resto Apung Muara Angke.

Pada 2015, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selaku Gubernur DKI Jakarta menginstruksikan pembangunan Resto Apung Muara Angke sebagai salah satu tempat wisata kuliner serba ikan di Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan dana pelampauan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke seluas 64 hektare merupakan salah satu sentra ekonomi masyarakat perikanan dengan produksi 150 ton per hari. Sarana dan prasarana lain juga disediakan, seperti dermaga, tempat pelelangan ikan, cold storage, pasar grosir dan pujaseri.

Pujaseri mulai dibangun sekitar 1994, sejak saat itu tempat ini mulai dikenal para penikmat makanan untuk mendapatkan masakan ikan yang segar, enak dan relatif murah. Uniknya, restoran-restoran ini hanya menyediakan jasa memasak ikan. Pengunjung harus membeli ikan sendiri di pasar yang berdekatan, kemudian menyerahkan ke restoran untuk diolah sesuai keinginan.

Untuk mengantisipasi bau tidak sedap, Djarot mengatakan Pemprov DKI akan melakukan banyak cara. Misalnya, membangun IPAL serta menanam pohon-pohon rindang dan tanaman yang bisa menyerap bau tajam. Yang paling penting, pembuangan dan pengolahan sampah harus dikelola dengan benar. “Sisa-sisa ikan ini kan tajam ya, ini harus diolah yang baik sehingga tidak bau, waktu hujan tidak becek, maka drainase harus diatur, sekaligus gitu lho. Jadi tidak sepotong-potong,” kata dia.

Untuk mengoptimalkan destinasi wisata ini, Djarot mengatakan akan mengoptimalkan fungsi terminal Muara Angke. Bahkan, akan disediakan angkutan untuk malam hari. “Dulu Muara Angke itu buka sampai 24 jam lho, subuh-subuh ke sini orang. Tapi karena lingkungan sudah berubah, akhirnya orang malas. Ini yang harus kita benahi, kita ubah,” kata dia.

Kepala Bidang Perikanan Dinas KPKP DKI Jakarta, Liliek Litasari mengatakan, ‎dilokasi tersebut nantinya akan diisi sebanyak 30 pedagang yang khusus untuk membakar ikan. “‎Jadi konsepnya masyarakat datang berbelanja ikan di Muara Angke, nanti ke resto apung untuk diolah di sana. Biayanya Rp 20 ribu saja per kilogram,” ujarnya.

Nantinya, lanjut Liliek, masing-masing kios yang ada akan menawarkan konsep bakar ikan yang berbeda beda. Dengan begitu diharapkan masyarakat bisa datang membawa ikan yang telah dibeli dipasar untuk diolah dan menikmatinya di tempat tersebut. “Di situ juga nanti ada 100 pedagang souvenir dan otak-otak. Di lokasi juga sudah dilengkapi banyak meja untuk grup atau perorangan,” tandasnya. (NDIK)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.