Insiden Lion Air & Air Asia Akibat Kecerobohan Pengelola Penerbangan Nasional

0
565

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pengamat penerbangan Chappy Hakim menilai insiden salah menurunkan penumpang yang dilakukan Lion Air dan AirAsia bukan kesalahan sepele dan ini kesalahan fatal yang sangat serius. Kedua peristiwa itu membuktikan belum baiknya industri penerbangan di Indonesia.

“Ini pertama kalinya terjadi di dunia. Dunia penerbangan Indonesia tercoreng kembali dengan dua peristiwa memalukan,” tegas Chappy Hakim saat diskusi kesalahan penurunan penumpang di Jakarta, Sabtu (21/5/2016).

Lion Air pada 10 Mei 2016 menurunkan penumpang rute internasional dari Singapura di pintu kedatangan domestik di Bandara Soekarno-Hatta. Akibatnya para penumpang tak melewati pemeriksaan imigrasi.

“Ironisnya peristiwa ini baru diketahui setelah ada seorang penumpang menyampaikan di media sosial. Peristiwa di Bandara Soekarno-Hatta itu pun baru terungkap setelah empat hari dari saat kejadian itu berlangsung,” ungkap Chairman CSE Aviation.

Lebih parah lagi, sambung Chappy, Kementerian Perhubungan sebagai National Aviation Authority justru mengetahuinya dari media sosial. “Ini benar-benar merupakan sebuah kesalahan fatal yang sangat serius, dan memalukan,” tegasnya.

Enam hari kemudian, insiden serupa dilakukan maskapai AirAsia di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali pada 17 Mei 2016. Akibatnya 47 penumpang tak masuk melalui gerbang keimigrasian.

Ditegaskan, kesalahan fatal pada suatu bandara international, menurut regulasi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), yang bertanggung jawab dan memiliki wewenang di situ, adalah airport authority.

Kenyataannya di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, selain ada airport authority adalah perpanjangan kewenangan Kementerian Perhubungan, juga pengelola bandara (PT Angkasa Pura), dan di Bandara Soekarno-Hatta ada Polres Metro Soekarno Hatta International Airport (SHIA).

“Jadi, ada tiga institusi yang berkepentingan dan menangani masalah keamanan. Selayaknya ketiga institusi sama- sama bertanggung jawab terhadap unsur keamanan, namun kok masih terjadi penumpang pesawat rute internasional masuk tak melewati imigrasi sesuai standar prosedur kedatangan internasional,” ucapnya prihatin.

Menurutnya, saat ini seluruh negara di dunia menghadapi tantangan global common threat, yaitu terorisme serta bahaya peredaran narkotika. Kedua persoalan ini dirasakan sebagai ancaman bersama yang membayangi keamanan nasional di pentas global.

“Kita masih ingat aksi teroris yang paling mengemuka sepanjang sejarah, berupa pembajakan pesawat terbang yang meruntuhkan menara kembar kebanggaan Amerika Serikat (AS), yang kemudian dikenal sebagai insiden 9/11,” katanya.

Peristiwa itu membuat AS tidak lagi merasa cukup aman dengan memiliki Pentagon (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Marinir, dan Coast Guard). AS juga tidak merasa nyaman, walaupun memiliki Central Intelligence Agency (CIA) dan Federal Bureau of Investigation (FBI).

Karena itu, AS kemudian membangun institusi baru yang bernama Department of Homeland Security. Khusus di bidang transportasi, mereka membentuk institusi baru yang diberi nama Transportation Security Administration (TSA).

Lembaga inilah yang kemudian membuat semua orang yang bepergian di kawasan AS menjadi tidak nyaman lagi, karena dilakukan penjagaan ketat dan bahkan super ketat pada setiap orang yang keluar dan masuk di wilayah yurisdiksi AS.

Soal bahaya narkoba, Indonesia belakangan ini sudah dilihat bukan lagi menjadi negara transit, tetapi sudah menjadi negara tujuan, dan bahkan negara produsen.

Karena itu, peristiwa di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai menjadi sangat penting dan sekaligus sangat fatal, karena penumpang dari luar negeri bisa keluar tanpa melewati imigrasi dan prosedur standar kedatangan penumpang dan barang internasional.

“Sebenarnya peristiwa ini adalah sebuah hasil dari kecerobohan dalam pengelolaan penerbangan nasional yang sudah berlangsung sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu,” ucapnya.

Pertumbuhan penumpang yang sangat pesat tidak segera diiringi dengan menyiapkan sumber daya manusia penerbangan, seperti pilot, teknisi, dan ATC controller. Juga ketertinggalan dari berbagai infrastruktur pendukung operasi penerbangan di Tanah Air.

“Tak bisa membedakan Kesenjangan itulah yang kemudian menampilkan amburadulnya dunia penerbangan kita. Kesemrawutan lalu lintas udara, terutama di Bandara SoekarnoHatta tidak diatasi dengan baik, dan justru dipindahkan begitu saja ke Lanud Halim Perdanakusuma,”.

Lebih parah lagi, yang terjadi kemudian, adalah penambahan rute-rute baru penerbangan di Lanud Halim Perdanakusuma ternyata berbuah tabrakan dua pesawat pada April 2016.

Puncaknya di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai orang sudah mulai tidak bisa lagi membedakan penerbangan internasional dan penerbangan domestik Bila kita dalami lebih jauh lagi, realitanya Indonesia sejak 2007 masuk dalam kelompok negara yang dinilai belum mampu memenuhi persyaratan International Aviation Safety Standards dari ICAO.

“Kita tengah berusaha keras untuk memenuhi persyaratan tersebut dan di samping itu sebenarnya belakangan ini kita juga tengah berusaha untuk dapat kembali menjadi member council di ICAO,” tandas purnawairawan bintang empat.

Di sisi lain, Indonesia juga tengah berjuang melaksanakan instruksi presiden untuk dapat mengambil alih penyelenggaraan flight information region Singapura yang letaknya mencakup sebagian besar dari wilayah udara kedaulatan Indonesia di kawasan perbatasan yang kritis.

“Dengan kejadian yang sangat parah dan memalukan ini, dipastikan upaya dan perjuangan yang tengah kita lakukan bersama itu semua, dapat menjadi sia-sia belaka bahkan dapat menjadi sangat kontra produktif,” sambungnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here