Infrastruktur Menuju Destinasi Wisata NTT Sangat Parah

0
626
Desa wisata Kampung Benah Bejawa NTT belum tersentug digitalisasi (Foto: dians999.wordpress.com)

KUPANG, Bisniswisata.co.id: Infrastruktur menuju lokasi destinasi wisata juga amenitas di kawasan wisata Nusa Tenggara Timur (NTT) masih sangat parah. Akibatnya pariwisata di NTT kurang berkembang sesuai harapan, dan tingkat kunjungan wisatawan belum memenuhi target yang ditetapkan.

Selama ini, Danas Pariwisata NTT mengalokasikan anggaran besar hanya untuk promosi destinasi wisata di NTT. Sayangnya belum didukung pembangunan infrastruktur menuju lokasi destinasi dan amenitas, ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata NTT Wely Rohimone di Kupang, Ahad (24/09/2017).

Amenitas, sambung dia, ialah fasilitas di luar akomodasi antara lain berupa rumah makan, toko cinderamata, dan mesin ATM. Selain itu, anggaran pembangunan pariwisata di Nusa Tenggara Timur dikenal sangat minim jika dibandingkan dengan provinsi lainnya.

Dijelaskan, alokasi anggaran untuk Dinas Pariwisata NTT 2017 dari dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp1 miliar yang diperuntukan untuk pembangunan infrastruktur, dan Rp19 miliar dari anggaran pendapatan dan belanjar daerah (APBD) yang sebagian besarnya dimanfaatkan untuk promosi.

Seharusnya dinas pariwisata provnsi dan kabupaten yang bertugas melakukan perencanaan dan promosi. Sementara untuk pembangunan infrastruktur untuk aksesibilitas ke destinasi wisata diserahkan dinas pekerjaan umum dan pengairan, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harapnya.

Diakui destinasi wisata NTT bervariasi dan punya kekhasan. Akan tetapi potensi besar itu belum dijadikan sektor unggulan terutama di kabupaten dan kota. Jika pariwisata dianggap mendatangkan devisa besar dan dijadikan sektor unggulan, pemerintah akan mengaloaksikan anggaran cukup untuk pembangunan amenitas dan infrastruktur.

“Ketersediaan anggaran untuk membangun amenitas tidak harus dari pemerinta pusat saja, tetapi juga harus berasal dari pemerintah provinsi dan kabupaten dan kota, juga pengusaha,” ujarnya, seperti dilansir laman MediaInonesia.com.

Menurutnya minat pengusaha berinvestasi di sektor pariwisata di NTT masih minim karena terbentur berbagai persoalan seperti biaya transportasi yang sangat mahal. Di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat misalnya, investor di sektor pariwisata masih didominasi asing.

Dicontohkan ongkos angkutan udara antarpulau di NTT lebih mahal jika dibandingkan dengan ongkos transporasi dari Kupang ke wilayah lainnya di Indonesia barat. Rata-rata pesawat yang beroperasi di daerah berbadan kecil dengan daya angkut kurang dari 100 orang.
Selain itu konektivitas antardestinasi wisata belum terhubung dengan baik. “Jika orang terbang dari Labuan Bajo ke Sumba, Dia mesti terbang ke Ende atau ke Kupang yang membuat ongkos transportasi jadi mahal,” ujarnya.

Kondisi pembangunan pariwisata NTT tersebut bertolak belakang dengan keinginan pemerintah daerah menjadikan daerah ini sebagai provinsi pariwisata. (*/MIO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.