Indonesia Tak Takut Ancaman Boikot Australia

0
1123

Jakarta, test.test.bisniswisata.co.id: Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla menegaskan pemerintah Indonesia tidak takut dengan ancaman Australia soal pemboikotan warganya untuk datang ke tanah air jika dua orang warganya, anggota sindikat narkoba Bali Nine Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, jadi dieksekusi mati.

JK mengatakan sebagai sebuah negara berdaulat, hukum yang sudah diputuskan di Indonesia tidak akan berhenti di tengah jalan. “Kalau segi ancaman tentu kita tegas saja bahwa ini hukum kita seperti itu,” kata JK, usai membuka Munas PHRI 2015, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (17/2).

“Ya bisa saja ada dampak tetapi itu risiko dari prosedur negara yang berdaulat,” imbuh dia.

JK melanjutkan apa yang dilakukan Indonesia sama sekali tidak mengganggu kedaulatan hukum di Australia. Ia mengakui hukuman mati akan dipelajari kembali penerapannya. Pengkajian itu nantinya akan memakai masukan dari Negara Kangguru tersebut.

“Sama kita tidak mengganggu hukum di Australia. Memang hukum mati juga tentu sekarang lagi dipelajari dan bagaimana pelaksanaannya. Kita pertimbangkan saran-saran dari Australia tetapi kita tidak pertimbangkan ancamannya. Jadi pertimbangkan saran-sarannya,” tutur dia.

JK juga merespon pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menentang keras eksekusi mati tersebut. Menurut JK, peringatan itu diberikan pada semua negara tanpa terkecuali, tidak hanya Indonesia.

“Tentu, Ban Ki Mon sebagai Sekjen PBB kan memberikan peringatan banyak hal ke negara-negara apapun, ke Syria, ke Pakistan, ke mana pun. Di Indonesia inikan hukum Indonesia. Di Amerika pun masih ada hukum mati, jangan lupa,” tegas JK.

Khusus untuk Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang tak suka dengan sikap Indonesia, JK menjelaskan tiap orang boleh saja tidak senang dengan keputusan hukum yang sudah diketuk. Namun, hal itu tetap harus dilaksanakan. “Ya semua orang boleh tidak senang, tidak senang tetapi hukum kan di atas dari pada pandangan-pandangan itu,” ucap JK.

Terkait dengan langkah kuasa hukum 2 terpidana mati Bali Nine tersebut yang akan menempuh jalur Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), JK mempersilahkan langkah hukum. Ia memastikan seorang wakil presiden tidak bisa ikut campur urusan hukum. “Nanti tunggu hakim aja. Wapres tidak bisa campur tangan di PTUN,” tandas JK.

Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott sebelumnya menyampaikan permohonan kepada Presiden Jokowi untuk lebih responsif dalam menanggapi desakan yang belakangan ini dilakukan pihaknya.

“Jutaan warga Australia sangat kecewa dengan apa yang akan terjadi pada 2 warga kami di Indonesia,” ujar Abbott.

Abbott juga menyinggung soal apa yang terjadi jika ada warga Indonesia yang terancam hukuman mati di negara lain. Dia berharap Jokowi memikirkan hal itu.

Desakan dari Ban Ki-moon itu disampaikan oleh juru bicara PBB Stephane Dujarric. Menurut dia, Ban sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi soal hal itu.

“Ban telah mengungkapkan keseriusannya atas hukuman yang dilakukan di Indonesia. PBB dengan tegas menolak eksekusi mati,” ujar Stephane Dujarric.

Menpar Yakin Ancaman Tidak Efektif

Kesempatan sama, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan ancaman Australia yang meminta warganya untuk memboikot dan tidak berlibur ke Bali tidak akan mempengaruhi kunjungan wisata wisatawan asal Negeri Kangguru tersebut ke Pulau Dewata.

“Saya akan buktikan kalau ancaman ini tidak akan mempengaruhi statistik kunjungan wisman Australia. Hubungan antara rakyat Australia dan Indonesia sangat baik dan kami akan mempertahankan hal itu,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa pariwisata merupakan hubungan antar manusia (peope to people) dalam lingkup sosial dan kultural. Turis Australia masih membutuhkan Indonesia, khususnya Bali, sebagai salah satu destinasi wisata yang populer dikunjungi.

Apalagi, menurutnya, berlibur sudah menjadi kebutuhan utama (primer) bagi warga Australia lantaran pendapatan per kapita rakyat Negara Kangguru tersebut sudah lebih dari US$10.000.

Meski ada desakan dari Menteri Luar Negeri Australia agar warganya memboikot Bali, Arief yakin masih banyak warga Negeri Kangguru tersebut berwisata dan berinvestasi di Bali. Kendati demikian, dia tetap mewaspadai kemungkinan dampak ke sektor pariwisata menjelang eksekusi mati kepada dua terdakwa kasus narkotika asal Australia.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Disbudpar Bali dan pelaku-pelaku usaha di sana. Eksekusi mati ini kan ranahnya hukum, tentu saya berharap tidak ada dampak signifikan ke sektor pariwisata,” lanjutnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan Australia yang berkunjung ke Indonesia pada Desember 2014 mencapai 105.816 orang. Turis asal Negeri Kangguru tersebut berkontribusi sebesar 11,59% dari total wisman Desember, yakni 915,3 ribu kunjungan wisman.

Belum Ada Pembatalan Kunjungan

Kesempatan terpisah, Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia (ASITA) Bali, I Ketut Ardana mengatakan sampai saat ini belum ada pembatalan kunjungan wisata ke Bali. Jika memang ada pembatalan, pasti pihak kami akan diberitahu, tapi hingga saat ini belum ada.

“Bahwa pemberitaan eksekusi mati duo “Bali Nine” yaitu Muran Sukumaran dan Andrew Chan cukup menarik perhatian banyak media, apalagi pihak pemerintah Australia juga turun tangan untuk memohon pengampunan keduanya. Saya yakin situasi tersebut tidak berdampak buruk bagi dunia pariwisata di Bali. Apalagi, melihat kasus-kasus terdahulu yang sempat menghancurkan sektor pariwisata yaitu ketika terjadi bom Bali,” ujarnya.

Dikatakan, memang ada gejolak sedikit, tapi tidak berpengaruh sekali. Karena kita juga bisa meihat kejadian terdahulu saat ada bom Bali, tetap saja kunjungan wisatawan asal Australia banyak. Mereka (wisatawan Australia) menganggap Bali ini rumah keduanya kok, mereka nyaman di sini.

“Terkait isu boikot Bali dari media sosial Australia, saya justru bertanya-tanya, apakah yang menyerukan boikot itu sudah tahu betul tentang Indoneia atau Bali? Kita tidak tahu, isu itu apakah dimunculkan oleh orang Australia yang tidak tahu betul tentang Indonesia dan tentang Bali? Mungkin saja ada yang tidak suka dengan Indonesia,” ungkapnya. (*/bowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here