Indira Abidin: Ayo berwisata, ‘belanja pengalaman’ untuk bisa dilayani dan melayani

0
1261
Masjidil Haram, tujuan wisata spiritual Indira dan suami dan putri tercinta yang tidak pernah bosan dikunjunginya. (foto: you tube)

JAKARTA,test.test.bisniswisata.co.id: Libur Lebaran baru saja berakhir, kini rata-rata keluarga di Indonesia berkutat menghadapi rutinitas kegiaran sehari-hari. Meski tidak sempat mengunjungi obyek-obyek wisata bersama suami dan anak, Indira Abidin merasa senang karena liburannya dilewatkan di rumah bersama keluarga besar dan penuh silaturahmi.

“Lebaran menemani mama dan papa saja karena di rumah banyak tamu. Alhamdulilah putri semata wayang, Hana Nabila juga menikmati liburan di rumah bersama keponakan-keponakan lainnya. Kami lagi menabung juga untuk bisa umroh sekeluarga,” kata Indira Abidin, Managing Director PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR), sebuah perusahaan yang bergerak dibidang industri periklanan dan komunikasi.

Berwisata yang kini menjadi bagian dari gaya hidup memang tidak pernah dilewatkan keluarga kecilnya. Setiap tahun Indira akan mengkhususkan waktu untuk berlibur bersama suami dan anak karena selain momen kebersamaan dan perasaan bahagia yang dilalui bersama, juga karena wisata menjadi ajang belanja ‘pengalaman’ baik secara spiritual maupun yang berdampak pada kebugaran jiwa dan raga.

“Berwisata sebenarnya ajang edukasi yang fun bagi anak karena bisa belajar tentang sejarah, keragaman budaya, sistem pemerintahan, politik bahkan belajar tetang perkembangan Islam di suatu negara,” ungkap Indira.

Istri dari Siraj El Munir Bustami, praktisi hukum yang juga suka berwisata ini mengatakan lewat berbagai media maupun kegiatan wisata, dia juga berupaya mengenalkan sejarah Islam pada putri tunggalnya agar memiliki prioritas utama untuk mencintai Allah SWT.

Itulah sebabnya, bukan hanya saat berwisata, ketika memiliki kebersamaan untuk pergi menonton film, Indira juga mengupas negara atau lokasi film, budaya dan pesan moral yang tersirat dalam jalur cerita film tersebut. Putri dari Miranti dan Indra Abidin, pendiri Fortune Indonesia Tbk ini juga mengajarkan anaknya mandiri dan penuh demokrasi sehingga ikut menentukan kemana keluarga ini tujuan wisata.

Wanita yang aktif menulis dalam blog pribadinya ini menuliskan bahwa kalau seseorang mencintai karena Allah artinya mencintai dalam kebaikan sehingga ketika berinteraksi dengan anggota keluarga, saudara, kerabat, mitra kerja maka orientasinya akan saling mengingatkan dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran.

“Mencintai karena Allah itu tidak mudah. Kalau ada yang kita rasa salah dan kita ingin membantu meluruskan kadang kita takut mengingatkan. Kita takut hubungan itu rusak.Lebih luas lagi, kalau kita ingin mewujudkan tujuan yang Allah berikan pada kita, menjadi khalifah Allah yang berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, membawa berkah bagi semesta, maka kita harus mengingatkan orang yang lebih banyak lagi untuk berbuat kebaikan dan kesabaran,” .

Prioritas mencintai Allah SWT berdampak pula pada pemilihan tempat-tempat wisata yang mendekatkan diri pada sang Khalik. Meski keputusan memilih tempat wisata bukan pada dirinya sendiri namun tadabur alam lebih banyak dilakukan. Memilih wisata di kawasan resort pegunungan menjadi pilihan.

“Kalau di gunung itu udaranya dingin dan seluas mata memandang warna hijau. Di gunung kita juga bisa melihat keindahan kota dari atas, seru rasanya menikmati suasana seperti itu apalagi filosofinya juga mendalam dalam kehidupan sehari-hari,”

Indira menikmati semua momen kegiatan wisata dengan baik dan berusaha menjelaskan filosofi tadabur alam itu pada Hana Nabila bahwa berada diantara keindahan alam itu manusia hanyalah makhluk kecil, salah satu ciptaan Allah.

Memandang ke atas, ada langit biru dan matahari yang gencar bersinar dan patut disyukuri. Kalau malam penuh bertabur bintang karena udara di atas pegunungan bersih sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang. Sementara ketika di rumah sendiri diantara hutan beton Jakarta, sulit melihat bintang di langit.

Menurut Indira daerah pegunungan sangat cocok untuk melakukan edukasi dengan fun, karena dengan melihat keindahan kota di bawah lebih mudah menjelaskan bahwa di bawah sana masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kelaparan dan penyebab lainnya.

“Berwisata di kawasan resort bukan sekedar untuk menikmati fasilitas yang ada, tapi mendekatkan diri pada Allah itulah yang harus kita maknai. Sebenarnya berwisata ke tepi laut juga sama saja membuat kita merasa kecil tak berarti di tengah deburan ombak, di pinggir samudra tak bertepi tapi banyak pilihan jatuhnya pergi ke kawasan pegunungan lagi,” ungkap sulung dari tiga bersaudara ini.

wajah ceria dan optimistis Indira Abidin pasca menderita kanker  ( foto: dok pribadi)
wajah ceria dan optimistis Indira Abidin pasca menderita kanker ( foto: dok pribadi)

Wanita kelahiran Bandung, 29 Oktober 1969 ini mengaku pola perjalanan wisatanya juga kerap dipengaruhi oleh perjalanan bisnis yang memungkinkan untuk berwisata bersama keluarga setelah agenda utamanya selesai.

Maklum jabatannya di Fortune PR,  anak perusahaan dari Fortune Indonesia  Tbk membuatnya sering melakukan perjalanna dinas di dalam maupun luar negri. Apalagi perusahaan yang dikomandaninya ini tergolong pemimpin pasar di dunia industri periklanan dan komunikasi. Indira juga menjabat sebagai Corporate Secretary di Fortune Indonesia Tbk, induk dari PT Fortune PR tersebut

“Kalau wisata di dalam negrikan mudah di jangkaunya dan banyak sekali pilihan penerbangannya. Tidak usah pakai rencana panjang bisa langsung terbang. Nah kalau ke luar negri kan harus agak dibela-belain terutama soal waktu harus klop semua nih anggota keluarga. Jadi tidak heran kalau kerap juga melakukannya dadakan, paling lama tiga bulan sebelumnya. Prioritas liburan mendatang ya umroh dulu deh bertiga bersama suami dan Hana,” tuturnya semangat.

Indira yang pernah didiagnosa menderita kanker payudara pada 2012 ini telah mengalami beragam perjalanan spiritual dan sampai pada kesimpulan patut bersyukur mendapatkan penyakit yang menakutkan itu hingga akhirnya justru mendatangkan kebahagiaan dan mampu melawannya hingga dinyatakan sembuh.

“Sekarang aku punya pengalaman menyembuhkan kanker dan bisa menginspirasi masyarakat sedunia. Apalagi aku bisa temukan jalan yang mudah, murah dan efektif sehingga aku bersyukur dan terus bersyukur ..,” papar Indira.

Dunia pariwisata Indonesia

Kaya dengan pengalaman spiritual dan perjalanan wisata yang selalu justru makin mendekatkan keluarganya pada sang pencipta, Indira juga punya beberapa pandangan tentang pentingnya pemerintah mengembangkan pariwisata nasional.

Di bidang yang digelutinya sekarang yaitu kehumasan sangat terkait erat dengan dunia pariwisata.Bidang humas, sudah berkembang dengan sangat pesat, apalagi dengan adanya media sosial. Semakin banyak kesempatan yang terbuka untuk dunia humas Indonesia dan praktisinya untuk mengikuti perkembangan tersebut dan tidak sekedar menjadi penonton.

“Kita harus jadi pemain aktifnya juga. Orang yang sukses di dunia humas sekarang adalah orang yang memang bisa mengikuti perkembangan dan bahkan bisa menciptakan perubahan dengan perkembangan – perkembangan itu,” tutur Indira.

Hal yang sama juga berlaku bagi kalangan industri pariwisata Indonesia yang memiliki peluang besar untuk tumbuh di masa depan seiring dengan meningkatnya kelas menengah dan  minat masyarakat Indonesia menjelajah negeri sendiri serta  makin menariknya Indonesia bagi wisatawan asing.

Peluang ini tentunya harus ditangkap para pelaku usaha di industri pariwisata. Salah satu strategi yang bisa dijalankan adalah dengan pemasaran secara digital. Para pelaku industri pariwisata Indonesia harus mampu menangkap kesempatan ini dan membangun industri pariwisata secara strategis. Kompetensi komunikasi pemasaran digital wajib dibangun untuk bisa menang bersaing apalagi negara-negara tetangga sangat agresif menjual destinasinya.

Maklum Indira bukan hanya fasih bicara soal agama, spiritual dan kehumasan tapi perusahaan yang dipimpinannya terbukti piawai menangani pencitraan paska bom Bali dan dia kerap tampil di forum internasional seperti Indonesia E-Tourism Summit (IETS) 2013 di Bali.

Indira mengatakan ulasannya di forum internasional tahun itu sampai sekarang masih valid  karena 65% wisatawan mencari ide berwisata melalui pencarian informasi di sosial media, 52 persen pengguna Facebook sangat dipengaruhi oleh foto-foto teman-teman dalam jaringan Facebook-nya untuk menentukan tempat wisata, 33 persen wisatawan mengubah rencana awal mereka setelah melihat foto-foto tersebut.

“ Jadi, kita harus mampu membangun reputasi media sosial, menarik hati mereka agar mereka menggunakan layanan atau datang ke destinasi yang kita miliki, dan kemudian menceritakan kisah-kisah menarik melalui foto atau video di dunia virtual,” jelas dia.

Dia berpandangan, garda terdepan dalam dunia pariwisata kini adalah situs. Menurut Indira, para pemilik usaha wisata harus tampil menarik dan unik melalui situs sebagai wajah usaha di dunia virtual. Situs kemudian harus dipromosikan melalui strategi optimasi mesin pencari, pemasaran melalui email, dan media sosial yang terintegrasi dengan baik.

Indira juga mengingatkan para praktisi wisata Indonesia untuk menjaga kepuasan tamu dan menangani keluhan dengan baik. “Hubungan dengan tamu yang tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal di media sosial. Semua pemilik usaha wisata harus memiliki kebijakan komunikasi melalui media sosial untuk mendorong seluruh karyawan menjadi duta bagi perusahaannya, dan mencegah mereka melakukan hal yang dapat merugikan merek usahanya di dunia virtual,” ungkapnya serius.

Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang bisa menjadi frontliner dan menjaga kepuasan tamu selain harus mendapat siraman rohani yang terus menerus maka cara jitunya adalah mendorong para karyawan untuk berwisata. Prinsip kemudahan akses, kenyamanan, rasa aman harus dialami sendiri oleh para pekerja di lingkungan industri wisata sehingga akhirnya mereka akan sadar sendiri mengapa hospitality menjadi harga mati.

“Ayo jangan pelit, semua orang bisa berwisata kok, saya mau umroh sekeluarga juga menabung dulu..karena wisata religi juga bagian dari “belanja pengalaman” tandasnya mengakhiri obrolan chatting ( [email protected]).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.