Ikan Pari Manta, Jadi Daya Tarik Wisata Bahari

2
2319
Ikan pari mantan (Foto: Rio Sudrajat PS's blog - Universitas Jember)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wisata bahari bawah laut di Indonesia memang luar biasa, bahkan terus dikembangkan. Kementrian Kelautan dan Perikanan menwarkan destinasi wisata bahari bagi penyelam atau Diving dengan menyaksikan keanggunan dan keelokan ikan pari manta (Manta birostris). Ikan raksasa ini dikenal sangat jinak, tidak memiliki racun dan tidak berbahaya termasuk ekornya. Bahkan biota laut ini sangat istimewa karena memiliki kharisma kuat.

“Para penyelam yang bertemu Pari Manta di bawah laut, pasti akan terpesona dibuatnya. Manta itu fisiknya besar dan lebar. Bahkan bisa mencapai 7 meter lebarnya. Sangat besar. Tapi, walau besar, dia sangat jinak. Yang istimewa, Pari manta ini bisa mengetahui ada manusia dan bisa berinteraksi dengan kita. Dan ini menjadi daya tarik wisata bahari yang harus dikembangkan dan ditawarkan ke wisatawan,” papar Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dalam keterangan tertulis, Ahad (27/11/2016).

Menteri Susi melanjutkan jika dilihat dari sisi ekonomi, model pemanfaatan pari manta melalui kegiatan wisata bahari bisa menjadi alternatif yang menjanjikan. Aktivitas pariwisata bahari berbasis Pari Manta yang berkembang akan memberikan manfaat secara ekonomi tidak hanya kepada pelaku wisata, namun juga bagi masyarakat nelayan.

Hasil studi yang dilakukan sejak tahun 2013, Indonesia memiliki pariwisata berbasis ikan pari manta terbesar ketiga di dunia, dengan estimasi nilai total pertahunannya mencapai US$ 15 juta. Ikan Pari Manta yang unik, menarik dan khas ini berada di Taman Wisata Perairan (TWP) Nusa Penida Kabupaten Klungkung-Bali, yang setiap ekor Ikan Pari Manta apabila dibiarkan hidup hingga 40 tahun dapat berkontribusi hingga Rp 9,75 miliar melalui wisata bahari.

Di lain sisi, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia ini yang memiliki dua jenis spesies manta yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris) yang dapat menjadi daya tarik wisata.

Menteri Kelautan dan Perikanan menambahkan kini ikan pari manta dilindungi di Indonesia sehingga pihaknya mengapresiasi operasi tangkap tangan terhadap penampung insang pari manta di Lembata, Nusa Tenggara Timur. “Pari manta merupakan jenis biota laut terancam punah di wilayah Indonesia. Ini diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Pari Manta,” tegas menteri.

Dengan aturan itu, ujar dia, berarti bahwa penangkapan dan perdagangan pari manta serta bagian-bagian tubuhnya tidak diperbolehkan sama sekali. Dari hasil operasi tangkap tangan di Lembata, NTT, ditemukan barang bukti berupa 25 kilogram insang pari manta yang diduga diperoleh dari 30-40 ekor pari manta yang berhasil diamankan petugas Kepolisisan Resor (Polres) Lembata.

Adapun pelaku didakwa melakukan tindak pidana menampung hasil laut tanpa izin dan menampung bagian tubuh satwa yang telah dilindungi di Indonesia. Saat ini, pelaku masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik dari Polres Lembata.

Berdasarkan informasi awal, jaringan perdagangan insang pari manta berada di Jawa, Makassar, dan Kupang. Susi juga menegaskan, pelanggaran terhadap izin pengumpulan hasil perikanan terancam hukuman 8 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar.

Hingga November 2016, Kementerain Kelautan dan Perikanan (KKP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Bea Cukai tercatat telah melakukan 35 kali operasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan insang dan produk dari pari manta di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Makassar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Sebanyak 20 kasus telah vonis, 13 pelaku dihukum penjara dan denda sampai dengan Rp 50 juta rupiah.

Secara internasional kedua jenis pari manta tersebut saat ini terancam punah, di mana IUCN (Aturan Internasional Konservasi Alam) memasukkannya dalam kategori ‘rentan’, dan Konvensi Perdagangan Internasional tentang Spesies Terancam (CITES) memasukkannya dalam Apendiks II yang berarti ikan pari manta belum terancam punah tetapi bisa punah jika perdagangannya tidak terkontrol. “Jadi artinya bahwa jenis ikan ini masih dapat diperdagangkan secara internasional namun harus melalui kontrol yang ketat,” tambahnya.

Ancaman utama penurunan populasi pari manta menurut Brahmantya, selain disebabkan oleh degradasi lingkungan juga oleh tingginya permintaan terhadap insang pari manta. Dari aspek biologis ikan pari manta juga rawan mengalami ancaman kepunahan. “Ikan pari manta dapat mencapai umur 40 tahun, ini berarti 1 ekor ikan pari manta hanya mampu menghasilkan paling banyak 6-8 ekor anakan saja selama hidupnya,” jelasnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.