Hotel Indonesia Group Harus Menangkan Persaingan

0
620

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Direktur Operasional Hotel Indonesia Group (HIG), Satria Pringgondani menilai tantangan besar menghadang IG selaku operator hotel. Mereka harus berbuat sesuatu menjadikan HIG menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dan tak boleh kalah memghadapi persaingan

“Nah, untuk memenangkan persaingan dengan operator-operator hotel yang lebih dulu hadir dan lebih besar, perlu terobosoan. Salah satunya dengan sinergi. Nantinya HIK cenderung ke virtual holding, operasional dan market client,” papar Satria dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (01/10/2016).

Dilanjutkan, kelak bergabungnya Hotel Indonesia Natour, Patrajasa dan Aeorowisata akan menambah aset mereka. Setidaknya ada 100 hotel yang akan beroperasi di bawah jaringan HIG. 100 hotel tersebut merupakan hotel yang dimiliki oleh anak-anak perusahaan BUMN. Awalnya, Holding Hotel ini memiliki 26 hotel yang merupakan aset tiga BUMN yang bergabung.

HIG yang digagas Kementerian BUMN merupakan penggabungan tiga BUMN yang memiliki lini bisnis berbeda. Rencananya HIG akan menjadi jaringan hotel nasional terbesar di Indonesia. Karena meski saat ini Hotel Indonesia Natour sudah merupakan jaringan tetapi kalah dengan jaringan hotel lain.

“Fakta adanya HI di Jakarta, di Bali dan di Yogyakarta. Tetapi ketinggalan jauh dari Accord dan Starwood. Jaringan hotel swasta ini menguasai,” ungkapnya usai serah terima jabatan General Manager (GM) PT Inna Garuda Unit 5 dilakukan. GM yang lama Iskandar Zulkarnaen Gumay memasuki masa pensiun digantikan Agus Arif Wibawanto.

Kali ini, GM yang baru sudah berasal dari Holding Company Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang perhotelan PT Hotel Indonesia Group (HIG). Holding ini belum lama diresmikan oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno.

Holding ini merupakan penggabungan dari PT Hotel Indonesia Natour, PT Aerowisata dan PT Patrajasa. Mereka nanti akan menjadi operator dari hotel-hotel yang dimiliki oleh anak perusahaan BUMN-BUMN di Indonesia.

Diakuinya, awal diresmikan, ada dua BUMN yang menyerahkan hotel mereka untuk dikelola. Masing-masing PT Pegadaian memiliki 9 hotel di bawah bendera PT Pesonna dan sebuah hotel lagi, Manohara Hotel di dekat Candi Borobudur milik PT Taman Wisata Candi (TWC).

Sehingga sebagai bekal awal, mereka akan mengelola 36 hotel dengan jumlah kamar sekitar 2.400 unit. “Nanti kalau ada 100 hotel maka kamar yang dikelola ada sebanyak 5.445 unit. Tantangan cukup besar,” paparnya.

Satria menandaskan, virtual holding akan memberi ruang kepada seluruh elemen untuk berkembang. Saat ini, sudah ada 36 hotel yang bernaung di bawah HIG dan nantinya akan bertambah menjadi 100 buah hotel.

Percepatan dimulai untuk mengalahkan kompetitor, karena saat ini jaringan kompetitor sudah sangat banyak. Ia mencontohkan jaringan Hotel Accord Group sudah mencapai 96 hotel.

Dengan bertambahnya jumlah hotel maka cakupan wilayah kerja mereka juga menjadi lebih besar. Current pax sudah bisa lintas perusahaan karena setiap SDM bisa bekerja di perusahaan lain yang masuk dalam holding. SDM yang ada bisa memilih bekerja di Hotel Indonesia Natour, Aerowisata ataupun Patrajasa.

“Tambahan destinasi juga terjadi. Beberapa destinasi saat ini akan bertambah menjadi 20 destinasi dari 36 hotel,” ujarnya.

GM yang baru, Agus Arif Wibawanto menandaskan karena tantangan lebih besar, maka tingkat kompetensi SDM juga harus ditingkatkan. Pihaknya berencana meningkatkan standar kompetensi SDM yang bernaung di bawah jaringan HIG. Agar mereka mampu memenangkan persaingan di industri perhotelan yang sudah sangat ketat.

“Di Yogyakarta akan ada tiga hotel di bawah naungan HIG. Inna Garuda Hotel, Kyriad Pesonna Tugu dan Kyriad Pesonna Malioboro. Dua hotel terakhir milik PT Pegadaian yang baru saja beroperasi,” ungkapnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here