Hiu Paus Jadi Destinasi Wisata Baru di Gorontalo

0
2038
Wisata Hiu Paus di Gorontalo (foto: http://jatengpos.co.id)

MANADO, test.test.bisniswisata.co.id: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan pemanfaatan potensi wisata hiu paus (Rhincodon typus) dengan paradigma konservasi yang menerapkan upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan terbuka luas.

Paradigma konservasi penting untuk diutamakan, mengingat hiu paus menjadi salah satu hewan yang dilindungi sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18/2013. Meski dilindungi, pemanfaatan potensi ekonomi hiu paus secara non-ekstraktif diperbolehkan, seperti pemanfaatan hiu paus sebagai target destinasi wisata.

“Wisata hiu paus, harus dikelola secara bijaksana dan dilakukan sesuai pedoman yang diterbitkan KKP sehingga aktivitas wisata bisa dilakukan secara lestari dengan tetap memperhatikan aspek konservasi,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam keterangan pers, Minggu (15/5/2016).

Susi mendukung potensi wisata hiu paus di Provinsi Gorontalo, dengan memberikan beberapa bantuan ke kelompok masyarakat di Kabupaten Bone Bolango. Salah satunya, melalui pemberian paket bantuan alat snorkeling dan buku pedoman wisata hiu paus kepada kelompok masyarakat sadar wisata.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Brahmantya Satyamurti mengatakan masyarakat Gorontalo di Kabupaten Bone Bolango merupakan pihak yang sangat penting dalam menjaga dan memajukan potensi wisata hiu paus.

“Wisata hiu paus juga perlu dipantau masyarakat sekitar. Bagaimanapun, kita tetap dapat mengembangkan wisata ini tanpa harus mengganggu kenyamanan hiu paus di habitatnya. Jangan sampai jumlah kapal pengunjung di lokasi wisata membludak dan memicu stres pada hiu paus,” ujarnya.

Hiu paus merupakan jenis ikan terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang total sekitar 12 meter hingga 18 meter. Ikan hiu paus merupakan jenis ikan yang dapat mencapai usia 60 tahun, bahkan 100 tahun.

Hiu paus baru mencapai matang kelamin pertama kali pada usia sekitar 25 tahun dengan jumlah anakan 1 ekor untuk setiap periode reproduksi. Spesies ini dianggap hanya sedang melakukan migrasi sementara di perairan tersebut.

Begitu pula dengan masyarakat yang hobi memancing ikan, mereka sering melihat hiu paus di Teluk Tomini. Dari hasil pengamatan hingga Mei 2016, terdapat 13 – 14 individu hiu paus yang terpantau di perairan Botubarani.

Sejak 11 hingga 14 Mei 2016, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (BPSPL) Makassar, Ditjen PRL KKP melaksanakan Bimbingan Teknis Pemandu Wisata Selam dan Sosialisasi pengenalan sistem informasi database ikan di lindungi (SI DIDI).

Bimbingan teknis ini bertujuan memberikan pemahaman bagi para pemandu selam agar kegiatan wisata hiu paus dapat dilakukan secara bertanggungjkawab. Selain itu, pemandu dikenalkan dengan tata cara monitoring hiu paus yang selanjutnya dapat di input dalam sistem database Si DIDI. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.