HIPPI Buka Akses Pengusaha Perempuan UKM Ke Mata Rantai Pasok Perusahaan Korporasi.

0
394

Ketua Umum HIPPI, Suryani SF Motik ( kiri) bersama narasumber sedang menyampaikan pandangannya dalam acara WBF 2017 di Graha Cimb Niaga Sudirman, Jakarta.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kesetaraan gender sangatlah penting bagi usaha yang dimiliki atau dipimpin oleh wanita. Apalagi mereka mengendalikan lebih dari US$20 triliun dalam pembelanjaan konsumen baik barang dan jasa setiap tahunnya.

“Tapi ironisnya hanya 1% dari usaha yang dimiliki atau dipimpin oleh perempuan yang bisa menjadi pemasok dalam memenuhi kebutuhan barang dan jasa tersebut. Rendahnya akses bagi perempuan pengusaha untuk dapat masuk ke pasar mata rantai pasok itulah yang menjadi penyebabnya,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Suryani SF Motik.

Berbicara pada pembukaan Women’s Business Forum 2017 di Financial Hall Graha Niaga, hari ini ( 22/3) sekaligus memperingati Hari Perempuan Internasional, Suryani mengatakan perlu berbagai upaya bersama agar kebijakan pemerintah, ekonomi dan perniagaan lebih berpihak pada perempuan.

“Persoalannya bukan hanya kesetaraan perempuan tapi akses ke korporasi itu yang jauh lebih penting karena itu kami menggandeng International Finance Corporation (IFC), anggota dari kelompok Bank Dunia, HIPPI, International Trade Centre (ITC) dan Indonesia Global Compact Network (ICGN),” jelasnya.

Di Forum WBF, pihaknya mempertemukan pengusaha/pimpinan wanita dengan perwakilan dari perusahaan besar seperti Sarinah, Hypermart, Ranch Market, Unilever, Adaro Energy, Wardah, Martina Berto, RS Bunda, dan PT Yummyfood sehingga mereka miliki akses langsung sebagai pemasok.

Kesetaraan Gender merupakan hal penting yang perlu dicapai demi kemajuan dan kelanggengan usaha yang dipimpin maupun dimiliki perempuan. Hal ini mengingat lebih dari setengah UMKM di Indonesia dimiliki atau dipimpin oleh kaum hawa itu.

“Oleh sebab itu masuk ke pasar mata rantai pasok menjadi sangat penting. Kami sangat berharap adanya kebijakan perusahaan maupun pemerintah yang peka terhadap aspek gender dalam pengadaan barang dan jasa, baik yang dilakukan oleh korporasi maupun oleh pemerintah,” katanya.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 UMKM dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Yogya, Bandung, dan Bali untuk meningkatkan wawasan, menjalin jejaring dan mencari peluang usaha dengan lebih dari selusin perusahaan besar di Indonesia.

Besarnya minat peserta karena HIPPI tawarkan solusi atas kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia dengan korporasi Internasional untuk perkuat usaha dari para pengusaha perempuan itu sendiri.

“ Kita dorong mereka yang hadir untuk menperluas jejaring, lebih percaya diri mengikuti organisasi yang peduli pula pada masalah perempuan. Karena itu dari pihak pengusahanya sendiri harus pro-atif manfaatkan momentum ini,” kata Suryani SF Motik.

Para pendukung acara dan penyelenggara berfoto bersama usai acara ( foto-foto: Hilda Sabri Sulistyo

Program She Trades, misalnya, merupakan suatu program dari mitra HIPPI yaitu International Trade Center ( ITC) yang mendukung terbukanya akses pengusaha perempuan masuk dalam mata rantai pasok korporasi.

Michelle Kristy, wanita Indonesia yang menduduki jabaran Project Manager She Trades di lingkungan Indian Ocean Rim Association ( IORA) mengatakan programnya bukan hanya menjangkau UMKM tapi utamanya bisa bersaing di tingkat internasional.

“Para pengusaha wanita agar manfaatkan program She Trades ini karena kami baru saja membimbing pengusaha travel agent Indonesia asal Bandung ke Internationale Tourismus- Börse Berlin ( ITB Berlin), sebuah bursa wisata terbesar di dunia agar bisa lebih luas jejaring usahanya dan bisa bersaing,” kata Michelle Kristy.

Sementara itu, Rachel Freeman, IFC Asia Advisory Manager of Financial Institution Group mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil studi IFC, perempuan di Indonesia menjalankan lebih dari setengah perusahaan kecil dan sepertiganya dari perusahaan menengah.

“Oleh sebab itu, kami percaya bahwa kebijakan pemasok yang inklusif dan mengedepankan keberagaman, seperti sistem pembelian yang peka terhadap gender akan meningkatkan peluang bagi perusahaan yang dimiliki perempuan,” kata Rachel dalam pidatonya.

Josephine Satyono, Executive Director Indonrsia Global Compact Network (IGCN), mitra HIPPI lainnya yang mendukung acara ini mengatakan secara umum kalangan swasta paham pentingnya kesetaraan gender karena itu jangan hanya sampai di tingkat kesadaran.

“Bagi kami kesetaraan gender artinya juga kesamaan dalam akses bisnis jadi buka akses mata rantai pasok pengusaha wanita ke perusahaan internasional,” kata wanita yang akrab di panggil Jossy ini.

Women Business Forum 2017 ini menurut Munadah, Head Procurement PT Paragon Techologi and Innovation mewakili Wardah Cosmetic, kegiatan ini sangat positif dan terbukti meski bertemu dengan beragam usaha masih tetap bisa bersinggungan dengan kebutuhan perusahaannya.

“Ada beberapa perusahaan yang berhubungan dengan Travel dan MICE ternyata bisa melengkapi kebutuhan kegiatan incentive karyawan. Ada koperasi dari Bandung yang bisa memasok bahan baku dan ada MBrio yang bergerak di food safety tapi juga memberikan jasa Cosmetic Safety,” kata Munadah.

Pihaknya akan menindaklanjuti pertemuan dan membahas secara internal untuk bisa menfasilitasi para pengusaha perempuan Indonesia mengingat Paragon sebagai perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai produk skin care, hair care, dan kosmetik dengan brand sendiri, seperti : Wardah, Putri, Make Over, dan sebagainya. (Hilda Sabri Sulistyo)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.