Harianto Tian: Cahaya Cinta Pesantren, Film Pendidikan Melatih Remaja Cinta Pariwisata & Budaya

0
3001

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Film Cahaya Cinta Pesantren yang produsernya dikomandani ustad Yusuf Mansur bisa dinikmati masyarakat mulai 12 Januari 2017, ungkap Harianto Tian, produser film itu, hari ini.

Bersama ustad Yusuf Mansur penulis buku The Power of Action ini bukan hanya mengangkat citra pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua ditanah air tapi juga menampilkan keindahan alam Danau Toba dan keragaman budaya terutama atraksi silat lokal oleh salah satu pemainnya, pelantun Kesempurnaan Cinta, yaitu Rizky Febian yang juga putra komedian Sule.

“Tahun lalu film baru kelar, jadi kami mengadakan nonton bareng untuk berbagai komunitas untuk menangkap ide marketingnya” tambah Harianto Tian.

Peluncuran resmi film ini di awal tahun 2017 rasanya tepat karena lokasinya di Danau Toba, salah satu dari 10 destinasi pariwisata utama Indonesia yang pembangunannya di pacu dan mendapat prioritas utama oleh pemerintah.

Kalau tahun lalu, aksesibilitas udara untuk mencapai Danau Toba masih dominasi lewat darat, maka kini Garuda Indonesia sudah melayani penerbangan dengan rute Jakarta menuju Bandara Silangit, Sumatera Utara, begitu juga rute sebaliknya

Film yang lokasinya dibuat di Medan dan Danau Toba ini juga menyuguhkan keragaman suku dan budaya di Indonesia karena para pemain juga menyelipkan bahasa Batak dan Bahasa Karo yang jauh berbeda meskipun sama-sama bahasa lokal di Sumatra Utara.

Itulah sebabnya sebagai film pendidikan para orangtua dapat membimbing anak-anaknya menonton sambil mengajak buah hatinya cinta tanah air seperti yang dilakukan Harianto Tian, pemuda Singkawang yang menjadi salah satu tokoh lahirnya film ini.

“Dibalut dalam sinematografi yang indah kita bisa menghadirkan keindahan pariwisata, perbedaan kesukuan dan film yang begitu menyentuh dan bermakna melalui film Cahaya Cinta Pesantren. tambah Harianto Tian.

Pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama Islam terkadang dianggap sebagai tempat yang penuh batasan dan kaku bagi sebagian generasi muda karena itulah di film inilah penonton bisa menikmati seluk beluk anak-anak muda yang menempuh pendidikan di pesantren.

Inilah Film tentang pendidikan, sosial dan cinta. Cerita keluarga, Persahabatan, romantisme dan seluk beluk anak-anak muda yang menempuh pendidikan di pesantren. Hal ini divisualkan dalam gambar-gambar yang dinamis, membentuk mosaik yang jalin menjalin.

Film religi pertama yang diproduksi Fullframe Pictures Indonesia ini menggaet sutradara muda berbakat Raymond Handaya melibatkan para pemain antara lain Yuki Kato, Febby Blink, Vebby Palwinta, Silvia Blink, Rizky Febian, Elma Theana, Tabah Penemuan, Zeezee Shahab, Fachri Muhammad serta Wirda Mansur.

Ceritanya mengangkat kisah kehidupan seorang anak nelayan di danau Toba bernama Shila, anak perempuan yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA Negeri favorit di daerahnya namun tidak lolos.

Keterbatasan biaya orang tuanya tidak mungkin menyekolahkan Shila di SMA Swasta. Awalnya Shila menolak namun atas bujukan orang tuanya jadilah Shila santri di Pesantren Al-Amanah. Dunia pesantren yang disiplin ditambah jadwal pelajaran dan kegiatan yang seakan tiada henti membuat Shila mesti berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Di pesantren Shila bersahabat dengan Manda, Aisyah dan Icut. Tapi dengan Manda, Shila merasa paling dekat. Karena keduanya tidak betah tinggal di pesantren tanpa sepengetahuan yang lain, keduanya pun kabur dari pesantren.

Tapi takdir membawa mereka berdua kembali ke pesantren itu. Manda mantap untuk menjadi santri di situ. Tapi Shila, masih belum yakin. Selain urusan pelajaran, sebagai gadis yang tengah puber, shila pun berurusan dengan perasaan. Ia jatuh hati pada Rizky, santri senior.

Shila berusaha menjalani kehidupan pesantren ditengah bermacam konflik. Mulai dari konflik yang membuat persahabatannya berantakan. “kepergian” orang yang ia sayangi, hingga ia sempat diancam akan dikeluarkan dari pesantren justru saat ia telah benar-benar jatuh hati pada pesantren itu.

Shila akhirnya berhasil melalui semua itu karena pesan ayahnya sebelum ia berangkat ke pesantren; “Kalau kita mencintai segala sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati”

Film Cahaya Cinta Pesantren adalah sebuah film Indonesia yang diangkat dari novel “Cahaya Cinta Pesantren” yang ditulis oleh Ira Madan. Yuki Kato sebagai tokoh sentral dalam film ini mengatakan dia banyak belajar bisa bertahan dengan segala aturan yang berlaku di pesantren.

Salah satunya adalah nilai kerukunan dan toleransi yang harus terus dipupuk selama hidup di pesantren. Yuki juga belajar tentang nilai persaudaraan dan bagaimana bisa menjalin kerukunan antara sesama siswa di pesantren. ( Hilda Ansariah Sabri).

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.