Hari Untoro: Pemerintah Daerah Agar Lestarikan Kluster Bangunan Bersejarah

0
697

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pemerintah daerah perlu membuat kluster untuk kawasan kota lamanya sehingga menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung disamping melestarikan seni, budaya dan seni arsitektur yang menjadi aset kota, kata Hari Untoro Drajat, Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata, hari ini.

“Di setiap daerah umumnya ada kawasan kota tuanya yang bila mendapat perhatian pemerintah daerahnya masing-masing  bisa menghasilkan produk wisata sejarah dan budaya. September lalu ketika ada Homestay Fair dan Worshop Oldtown 2015 di Muntok, Bangka, ternyata di kota tempat pengasingan Presiden RI pertama Bung Karno ada tiga kawasan bangunan Pecinan, Melayu dan Eropa,” ungkapnya.

Hari mengatakan adanya ke tiga kawasan itu membuat identitas Muntok sebagai kota penuh sejarah  dan memiliki potensi pariwisata yang cukup tinggi untuk mengembangkan wisata sejarah dan budaya. Apalagi Muntok bukan hanya kota pengasingan Bapak Bangsa tetapi juga berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, salah satu dari 10 Provinsi yang tercatat dalam keanggotaan Indonesia, Malaysia, Thailand – Growth Triangle ( IMT-GT)

“Kawasan kota tua bukan hanya di Muntok, kita lihat bagaimana Bandung, ibukota Jawa Barat sukses  melestarikan gedung-gedung tua di kawasan alun-alun Bandung hingga Jalan Braga. Bangunan  bersejarah lainnya Gedung Merdeka tempat KTT Asia- Afrika 1955 atau Gedung Pakuan yang kini menjadi Rumah Gubernur Jawa Barat. Di Indonesia, selain Bandung, kota-kota lainnya yang bisa dikembangkan menjadi kluster situs Eropa, Pecinan, Melayu juga bisa di Semarang dan kota –kota lainnya,”

Kemampuan melestarikan kluster-kluster arsitektur lama di kotanya membuat sang Walikota Ridwan Kamil mampu mempercantik ruang-ruang terbuka di kawasan itu sehingga wisatawan terus mengalir berkunjung dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Menurut Hari Untoro, memasarkan wisata budaya dan sejarah di kawasan regionalpun memiliki pasar yang besar karena Muntok berada di provinsi Bangka Belitung adalah anggota dari segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand  (IMT-GT) yang dibentuk atas inisiatf kerjasama sub regional tahun 1993.

“Kota Muntok sudah saatnya menjadi kota inspirasi bagi negara lain dalam upaya mengembangkan potensi pariwisata bertema sejarah,” ujarnya.

Lewat kerangka kerjasama IMT-GT ini  maka disepakati untuk saling melengkapi ekonomi dengan kedekatan geografis dan hubungan dekat sejarah, budaya dan bahasa. 14 provinsi di Thailand Selatan, 8 negara bagian di Malaysia dan 10 provinsi di Indonesia masuk dalam kerjasama pertumbuhan ini.

“Dengan total pasar 72 juta (2006) dan luas tanah seluas 602,293.9 kilometer persegi, potensi pertumbuhan dan pengembangan untuk daerah ini sangat besar. Di Muntok lalu kami bahas tentang upaya mempromosikan wisata homestay yang nantinya akan membentuk jaringan program homestay antar negara anggota IMT-GT ini,” kata Hari Untoro.

Untuk pengembangan destinasi homestay, pemerintah daerah harus mengemas kegiatan apa yang dapat dilakukan wisatawan setelah datang berkunjung. Di Muntok, kata Hari Untoro, wisatawan dapat mengikuti wisata sejarah mengunjungi kluster wilayah Pecinan, Kampung Melayu dan  bangunan Eropa yang menjadi  situs kota tua.

“Saya berharap Pemda Wonosob juga mengembangkan hal yang serupa karena daerah pegunungan ini sejak jaman Belanda sudah menjadi tempat peristirahatan. Banyak tumbuh homestay dan inisiatif dan peran serta masyarakatnya besar sehingga banyak kearifan lokal yang dihidupkan kembali seperti upacara potong rambut gimbal dan  festival  lainnya,”.

Hari Untoro Drajat yakin produk wisata budaya dan sejarah harus terus ditingkatkan diantara negara anggota ASEAN yang bertekad ingin menjadi tunggal (single destination) sehingga bisa meningkatkan  kunjungan wisatawan intra-ASEAN maupun mancanegara,” tegasnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.