Hari Batik, Momentum Introspeksi Memahami Karya Anak Negeri

0
581
Batik kian mendunia

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Oktober 2009 menjadi salah satu momen bersejarah dalam kebudayaan Indonesia. Bulan itu, batik diakui UNESCO, Badan Dunia untuk Pendidikan, Ilmu dan Kebudayaan, sebagai mahakarya kebudayaan bukan benda dan lisan umat manusia.

Tujuh tahun telah berlalu, sejak penetapan batik sebagai harta warisan umat manusia. Batik pun sudah bukan lagi menjadi barang asing dalam keseharian kehidupan modern mulai anak-anak hingga lansia, dari bentuk tradisional hingga modern.

Ternyata perayaan Hari Batik Nasional dianggap creative director Iwan Tirta Private Collection, Era Soekamto, harus lebih dari sekadar hari menggunakan batik atau mengenang pengakuan batik oleh dunia internasional.

“Hari batik sebenarnya bisa jadi titik poin untuk evaluasi dan instrospeksi oleh semua orang. Kini, semua orang ingin tahu tentang batik dan itu bagus, namun tetap harus menjadi lebih baik dari sebelumnya,” kata Era Soekamto, seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Ahad (02/10/2016)

Kini makin banyak orang bukan hanya ingin tahu lebih tentang batik namun juga mengembangkannya. Bagi wanita yang sudah mengenal batik sejak dekade ’90-an ini, keinginan harus diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batik.

Batik, banyak disalahartikan sekadar beraneka motif atau corak dalam sebuah kain. Padahal, batik sejatinya bisa bermakna dua hal menurut Era. Batik adalah teknik dengan canting dan malam atau lilin, dan batik berupa makna yang terkandung di dalamnya.

“Sekarang euforianya semua orang bikin batik, itu tidak masalah. Namun bukan berarti membuat batik daerah lalu dilakukan dengan cara cetak atau print,” kata Era. “Ke-dua, makna yang terkandung di dalamnya. Kalau batik asli, ia mengandung makna transedental.” paparnya.

“Motif yang ada di batik itu punya pesan khusus untuk bangsa Indonesia agar maju dan batik adalah peninggalan dari peradaban yang lestari, yaitu peradaban yang dekat dengan Tuhan,” kata Era.

Era sudah mempelajari batik bukan hanya dari 13 ribu motif peninggalan mendiang maestro batik Iwan Tirta, namun ia juga mengenal batik yang mengisahkan makna, sejarah, dan hekikat dari peradaban ketika batik itu dibuat.

Bagi Era, batik sejatinya adalah kitab yang berjalan. Ia merekam makna hidup yang kemudian merujuk pada pemahaman akan pencerahan tentang ketuhanan.

“Jadi sebenarnya yang dipelihara itu adalah sebuah peradaban yang besar dan dekat dengan Tuhan. Nah, masalahnya, banyak sejarah yang terpotong, pengaruh dari luar negeri, sehingga orang lebih cenderung merujuk ke luar negeri. Dan inilah kondisi pasar saat ini,” kata Era.

“Batik bukan sekadar bagus. Pengembangan batik harus tetap diimbangi edukasi agar batik lestari sesuai pakemnya dan menjaga pakem itulah yang penting sekali. Untuk sekadar personal statement dalam fesyen tidak masalah, asal ingat pakem.” tambahnya. (*/C)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.