Hari Anak Internasional: Apakah Hak Anak Sudah Terpenuhi?

0
1168
Dunia dengan segala percepatan pembangunan ternyata juga menciptakan ketak amanan bagi anak- anak.

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id – PBB menetapkan tanggal 20 November sebagai Hari Anak Internasional dengan disahkannya Konvensi Hak Anak (KHA) pada 20 November 1989 melalui resolusi No. 44/25. Sekitar 192 negara yang telah meratifikasi KHA termasuk Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36, tanggal 25 Agustus 1990 dan semenjak 5 Oktober 1990 KHA berlaku di Indonesia.

Setelah 25 tahun disahkannya KHA dan diratifikasi oleh banyak negara, ternyata tidak menjamin hak anak terpenuhi. Masih banyak pelanggaran yang terjadi sehingga diperlukan perhatian dan aksi dari semua kalangan terutama pemerintah agar cita-cita dari KHA untuk memenuhi hak anak bisa tercapai. Demikian dikatakan Andy Ardian, Program Manager ECPAT Indonesia, kepada test.test.bisniswisata.co.id di Denpasar.

ECPAT Indonesia, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mencatat 365 anak-anak korban pedofilia di Bali dan sejak tahun 2013 ECPAT Indonesia telah memberikan pendampingan hukum terhadap 27 anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. Menurut laporan ILO tahun 2004, ada sekitar 7.452 anak yang melakukan aktifitas seksual komersil di kawasan Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sedangkan di kawasan Jakarta dan Jawa barat ada sejumlah 14.000 anak. Hal tersebut membuktikan bahwa hak-hak anak belum terpenuhi dan menunjukan bahwa anak perlu dilindungi agar terhindar dari kejahatan seksual.

Kasus penjualan anak yang diperkerjakan sebagai prostitusi, kasus kekerasan seksual anak di sekolah bertaraf international di Jakarta, kasus pedofil yang mengkoleksi phornography anak lewat internet (dilakukan seorang dosen). Kasus emon- remaja yang menyodomi ratusan anak di sekitar tempat bermain anak, bahkan sampai eksploitasi seksual yang terjadi di sekolah atau lembaga pendidikan berbasis agama. Kasus inses dan kekerasan seksual yang dilakukan di dalam rumah sendiri oleh anggota keluarga terdekat, apakah itu ayah, paman maupun saudara kandung. ‘’Tidak ada lagi tempat yang aman bagi anak. Sekarang bukan saatnya kita diam membiarkan atau malah menyangkal kondisi ini terjadi di sekeliling kita.” ungkap Andy Ardian, Program Manager ECPAT Indonesia, hari ini.

Hal tersebut jelas menunjukan bahwa anak dan orang muda sangat rentan menjadi korban eksploitasi seksual dan perlu mendapatkan perlindungan. ECPAT Indonesia bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri Belanda dan Koalisi 18+ mengadakan kampanye dengan tema “Bebaskan Anak dari Eksploitasi Seksual” pada Minggu, 23 November 2014 di Jakarta. Kampanye yang diharapkan mampu mendorong semua pihak terutama pemerintah agar membuat kebijakan yang ramah anak dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

ECPAT Indonesia didirikan tahun 2003 dengan nama sebelumnya Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersil (KONAS PESKA) dan resmi menjadi bagian ECPAT Internasional pada tahun 2005. ECPAT atau End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purpuses adalah jaringan global organisasi dan individu yang bekerja di semua tingkatan untuk membangun kerjasama antar masyarakat untuk membentuk sebuah gerakan sosial dalam menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak. (bisniswisata.co@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here