Hadapi MEA, industri wisata beruntung karena negara Asean mengacu pada SKKNI

0
945
Silverius Y Soeharso (kedua dari kiri), Dekan Fakultas Psikologi Universsitas Pancasila sebagai penyelenggara temu ilmiah bersama para narasumber siapkan mahasiswa untuk mampu bersaing hadapi persaingan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

JAKARTA,test.test.bisniswisata.co.id: Menghadapi kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), industri pariwisata Indonesia beruntung karena standar kompetensi dan sertifikasi yang berlaku di kawasan masih tiga level lebih rendah dari Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI),  kata Muhammad Zuhri Bahri, M.Si, Direktur Standar Kompetensi dan Program Pelatihan, Kemnaker RI.

“Jadi standar dan sertifikasi yang berlaku di Asean menggunakan SKKNI sehingga kalangan industri wisata Indonesia beruntung karena kompetensinya jauh lebih tinggi. Sementara di kawasan Asean levelnya masih tiga tingkatan lebih rendah karena memikirkan Sumber Daya Manusia ( SDM) pariwisata dari Vietnam, Kamboja yang masih tertinggal,” ungkapnya mewakili Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri .

Berbicara pada Seminar Temu Ilmiah plus Call for paper yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila (FPUP) Jakarta, Jumat, Moh. Zuhri Bahri mengatakan bahwa SKKNI adalah uraian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan tertentu. Standar kompetensi kerja merupakan rumusan yang benar-benar dikerjakan di tempat kerja pada industri.

“Meski di sektor industri pariwisata, SDM kita lebih unggul namun tingkat persaingan tinggi sehingga harus ada manajemen daya saing yang akan dapat meningkatkan profesionalisme dalam pemberian pelayanan secara comprehensive,” tandasnya.

Arus globalisasi perekonomian dunia yang merebak ke segala sektor dan hampir merambah ke segenap kegiatan usaha tidak terkecuali telah dirasakan dampaknya pada bidang pendidikan dan pelatihan. Untuk itu para profesional ditekankan pada penguasaan kompetensi di masing -masing bidang agar dapat bersaing di tingkat lokal, regional, nasional bahkan di tingkat internasional.

“Di tahap awal pemberlakuan MEA, profesi psikologi memang belum masuk karena baru 8 profesi yang bisa bekerja ke negara-negara Asean seperti dokter gigi, apoteker, arsitek, akuntan, supplier, tourism dan perawat. Meskipun demikian profesi lain harus bersiap,” tegas Zuhri

Silverius Y Soeharso, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila sebagai penyelenggara temu ilmiah ini mengatakan pihaknya memang tengah menyiapkan mahasiswanya untuk mampu bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Temu Ilmiah bertajuk Meningkatkan Kompetensi  dan Karakter Bangsa Indonesia dalam Meningkatkan Produktifitas Menghadapi Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) ini diharapkan mendorong mahasiswa mampu mengembangkan dirinya untuk bisa mandiri dengan fokus pada bisnis dan punya kompetensi dibidang psikologi.

“Mereka diharapkan mampu membangun diri sendiri menjadi junior trainer, reseacher dan lainnya. Para mahasiswa juga harus mampu menyelenggarakan manajemen psikotes wawancara, obervasi dan penelitian dasar. “Intinya mereka harus mempunyai kompetensi dibidang psikologi baik hardskill maupun softskill,” ujarnya.

Pembicara kunci lainnya dari Seminar dan Temu Ilmiah ini adalah, C.Asri Budiningsih guru besar dalam bidang Ilmu Teknologi Pembelajaran pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negri Yogyakarta, dan Dr Rose Mini A.P M.Psi dari Universitas Indonesia yang memaparkan metode pendidikan karakter untuk meningkatkan daya saing SDM Indonesia.

Vinaya S.psi, Msi, Ketua Panitia Temu Ilmiah Nasional ini mengatakan di era pasar bebas Asean, persaingan SDM semakin tinggi sehingga dibutuhkan manusia Indonesia yang kompeten tapi juga berkarakter, menjunjung tinggi Pancasila, mudah beradaptasi dengan budaya dimanapun berada.

“Temu ilmiah ini berhasil menjaring 45 makalah dari berbagai fakultas dan universitas di seluruh Indonesia yang dipresentasikan langsung maupun lewat poster. Sebagian besar mengulas tentang karakter, produktivitas, kewirausahaan, tekhnologi pendukung produktivitas, media dan politik.

Paper Anastasia Sri Maryatmi dari Universitas Persada Indonesia, misalnya, membahas tentang tekhnologi Smartphone yang memiliki sisi negatif dan positif dari media yang memberikan kemudahan bagi manusia dalam berkomunikasi.

“Komunikasi interpersonal dalam keluarga misalnya, terhalang karena masing-masing anggota sibuk dengan smartphone meski berada dalam satu ruangan atau bahkan duduk bersebelahan. Jadi efektifitas komunikasi interpersonal harus tetap terjaga,” tandasnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.