Gubernur Bali: Travel Warning Australia Berlebihan

0
1034
Turis Australia di Bali

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id: Gubernur Bali Made Mangku Pastika menilai travel warning atau peringatan kunjungan yang dikeluarkan Pemerintah Australia bagi warganya yang hendak melakukan kunjungan ke Bali, sebagai kebijakan yang berlebihan.

“Ya agak berlebihan. Ya memang sih hak negara masing-masing untuk mengatur warga negaranya. Tetapi saya kira, kita, di Bali khususnya, tidak ada masalah apa-apa,”’ kata Gubernur Pastika di Denpasar, Rabu (7/1/2015).

Pastika menyebutkan, meskipun Bali pernah mengalami dua kali menjadi sasaran terorisme, namun kini Bali sudah mampu menjaga wilayah dengan baik. “Keamanan baik, masalah kesehatan juga baik, semuanya baik,” tegasnya.

Ditanya apakah ada pengaruh dari travel warning itu terhadap tingkat kunjungan wisatawan Australia ke Bali? Pastika menyatakan kebijakan itu tidak berdampak signifikan.

“Enggaklah, tidak terlalu banyak di Bali. Apalagi Bali bagi orang Australia merupakan rumah kedua. Apalagi kalau di sana (Australia) lagi dingin, semua juga ke sini, di pertengahan tahun,” tambah Pastika seperti diunduh laman Kompas.com.

Mantan Kepala Polda Bali ini juga membantah tegas anggapan yang menyebut bahwa wilayah Legian Kuta yang menjadi “hotspot” ancaman terorisme. “Begini ya, kita tidak bisa bilang ‘datanglah ke Bali’, tapi kita sendiri tidak bisa jaga. Tidak boleh begitu. Sesuai dengan kondisi objektif kita, realitasnya jelas kok, zaman sekarang kan tidak bisa bohong, bisa dilihat. Kalau semuanya baik, lancar, tidak ada masalah, kenapa mesti takut?” kata Pastika.

Sebelumnya, Pemerintah Australia mengeluarkan travel warning atau peringatan kedatangan bagi warganya yang bepergian ke Indonesia. Mereka meminta warga negaranya untuk ekstra hati-hati menyusul informasi intelijen terkait potensi serangan teroris di Indonesia.

Peringatan tersebut di-posting pada situs resmi Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT). “Pada 3 Januari 2015, Pemerintah AS memperingatkan potensi ancaman terhadap hotel-hotel dan bank-bank terkait AS di Surabaya,” demikian pernyataan dalam situs resmi DFAT Australia yang di-posting pada Senin ( 5/1).

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengatakan warga Australia harus selalu waspada saat bepergian ke luar negeri, khususnya di wilayah aktivitas terorisme di Indonesia. “Kami terus menerima informasi yang mengindikasikan teroris merencanakan serangan di Indonesia yang bisa terjadi kapan saja,”.

Kelompok teroris, menurut Bishop, masih aktif di seluruh Indonesia meskipun telah beberapa kali digerebek polisi. Polisi terus melakukan operasi terhadap kelompok-kelompok tersebut dan menyatakan secara terangterangan bahwa tersangka teroris yang masih buron kemungkinan mengincar untuk menyerang sasaran negara-negara Barat.

“Anda harus berhati-hati di tempat khusus yang pengamanannya rendah dan menghindari tempattempat yang diketahui kerap menjadi sasaran teroris. Warga Australia juga diminta untuk menghindari tempat protes, demonstrasi, dan aksi massa.”

Bishop, mengatakan saat ini Australia terus memantau situasi keamanan di Indonesia dengan sangat ketat. “Kita memang memiliki pengalaman tragis di Bali di masa silam yang menyebabkan banyak warga Australia yang tewas. Selalu diperlukan kewaspadaan saat bepergian ke luar negeri,” kata Bishop di Kota Perth, Australia. Bishop mengimbau warga Australia yang hendak bepergian dan berlibur di Bali untuk melengkapi diri dengan asuransi.

“Jika Anda tak mampu bepergian ke Bali dengan asuransi perjalanan, sebaiknya Anda memikirkan ulang rencana perjalanan tersebut,” tambah dia.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.