Grebeg Besar Keraton Yogya Diminati Wisatawan Mancanegara

0
819
Grebeg besar Yogya (Foto: holidai - WordPress.com)

YOGYAKARTA, Bisniswisata.co.id: Upacara adat Grebeg Besar yang digelar Keraton Ngayogjakarta Hadiningrat pada Sabtu (2/9) dalam rangka perayaan hari Idul Adha 1438 Hijriah, berlangsung meraih. Selain dipadati sebagian warga Yogya juga sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang kebetulan ada di kota budaya ini.

“Grebeg Besar ini merupakan wujud sedekah dari Sultan HB X sekaligus sebagai simbol Manunggaling Kawula Gusti (hubungan Tuhan dengan manusia) dan hubungan Raja Keraton Yogyakarta dengan rakyatnya,” kata Adik Sultan HB X, GBPH Yudhaningrat yang sekaligus berperan sebagai panglima prajurit (manggala yudha) dalam acara itu di Yogyakarta, Sabtu (2/9) seperti dikutip dari Antara.

Prosesi ritual Grebeg Besar ini diawali dengan keluarnya iring-iringan pasukan prajurit Keraton Ngayogyakarta yang terdiri atas prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro yang dikomandani oleh Manggala Yudha GBPH Yudhaningrat.

Tujuh gunungan hasil bumi yang terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, pawuhan, dan dua gunungan jaler diarak ratusan prajurit dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Lima di antaranya diarak menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, dua gunungan lainnya menuju Kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Menurut Yudhaningrat, acara adat yang digelar setiap tahun itu juga bertujuan sebagai simbol kemakmuran Daerah Istimewa Yogyakarta. “Karena semua gunungan yang diarak berasal dari hasil bumi Yogyakarta,” kata dia.

Saat tiba di Halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, lima gunungan berisi hasil bumi langsung dikeroyok ratusan warga yang terdiri atas wisatawan maupun warga dari berbagai daerah.

Masyarakat dan turis asing menunggu sejak pagi hari untuk menikmati tontonan upacara tradisional turun-temurun tersebut meskipun harus berdiri berdesakan di tengah teriknya matahari. “Berebut isi gunungan dari Keraton selalu saya lakukan sejak dahulu setiap tahun,” kata Sri Widayati (67) yang berhasil mendapatkan isi gunungan berupa lima tusuk kue tradisional dari ketan.

Menurut warga Bantul itu, hasil bumi isi gunungan Grebeg Maulud itu amat penting karena dianggap memiliki manfaat menghindarkan keluarganya dari berbagai musibah. “Saya yakin dapat berkah dan mudah-mudahan terhindar dari marabahaya,” kata dia.

Berbeda dengan Sri Widayati, Subarjo (57) juga ikut dalam Grebeg Maulud itu akan memanfaatkan isi gunungan sebagai pakan ayam miliknya. “Biar ayam ternak saya tidak penyakitan,” terang Warga Kota Gede Yogyakarta ini.

Prosesi grebeg besar tahun ini tampak menarik perhatian sejumlah wisman, yang dengan sabar menunggu sejak awal hingga berakhirnya upacara tradisional itu dan mereka dengan antusias mengabadikan prosesi adat tersebut, baik melalui kamera maupun kamera video miliknya.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selama setahun menyelenggarakan upacara tradisional Grebeg Besar sebanyak tiga kali yaitu Grebeg Syawal diselenggarakan bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar bertepatan dengan hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ditempat terpisah, Eko Hadi Saputra, pemerhati pariwisata mengatakan, upacara tradsisional Grebeg Besar yang diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan kegiatan budaya yang masih menarik perhatian, baik warga Yogyakarta maupun (wisman).

Semestinya, kegiatan adat tradisional tersebut dapat dikemas menjadi paket wisata yang menarik. Apalagi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi bagian segitiga emas wisata Jateng-DIY yang sering menjadi tujuan utama kunjungan wisman.

“Upacara tradisional ini tidak saja diminati oleh wisatawan nusantara (wisnus), namun juga diminati oleh wisman yang tengah berkunjung ke daerah ini,” harapnya. (*/NDIK)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.