Gernasta lahir memberikan ‘rukh’ pariwisata di nusantara maupun mancanegara

0
956
Keindahan yang tersembunyi dari Batutumongga, di lereng Gunung Sesean, Toraja Utara yang dijuluki negri di atas awan di posting di WA Gernasta Nasional oleh Lana T. Koentjoro.

Perkumpulan Masyarakat bernama Gerakan Nasional Sadar Wisata ( Gernasta) dalam dua bulan terakhir telah terbentuk di 21 provinsi dan 14 negara diwakili Gernasta Internasional, perwakilan dari Diaspora Indonesia di mancanegara. Pertumbuhannya yang demikian cepat menjadi perhatian redaksi test.test.bisniswisata.co.id. Berikut wawancara dengan Kris Budihardjo, Ketua Pembina Dewan Pengurus Nasional Gernasta.

Kris Budihardjo, Ketua Pembina Dewan pengurus Nasional ( DPN) Gernasta. ( foto : dok.pribadi)
Kris Budihardjo, Ketua Pembina Dewan pengurus Nasional ( DPN) Gernasta. (foto : dok.pribadi)

Nama Perkumpulan ini menekankan Sadar Wisata, mengapa demikian ?

Dalam pembangunan kepariwisataan memerlukan dukungan dan keterlibatan seluruh stakesholder atau pemangku kepentingan di bidang pariwisata baik pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat. Nah dalam gerakan sadar wisata itu motor utamanya adalah masyarakat oleh karena itu Gernasta sebagai perkumpulan masyarakat yang harus menerapkan sadar wisata dimana unsur-unsur utamanya adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan. Baik sebagai wisatawan maupun menjadi tuan rumah kita harus sadar wisata kok.

Apa kunci sukses Gernasta sebagai sebuah gerakan masyarakat

Kunci suksesnya bagi masyarakat yang ingin atau sudah bergabung adalah harus sadar wisata. Ini syarat utama karena kalau sadar wisata maka dimanapun kita berada atau berdomisili kita akan mencintai daerah dimana kita tinggal. Saya ke Toraja, Ke Papua maka saya mencintai daerah wisata di lingkungan dimana saya berada. Kehadiran Gernasta di berbagai daerah di awali kecintaan dan kebanggaan atas potensi wisata daerahnya masing-masing maka berkumpulah individu-individu yang peduli dan paham dengan potensi pariwisata lalu terbentuk grup Whatts App Messenger ( WA) di mobile selular disambung menjadi pertemuan-pertemuan dan diskusi hingga akhirnya terbentuk pengurus di berbagai daerah. Semua itu bisa terjadi dasarnya adalah karena diawali dari kekuatan cinta ! rasa memiliki selain itu yang berlaku adalah konsep tutorial sebaya maksudnya belajar bersama, berdiskusi bersama tidak ada yang saling menggurui.

Mengapa Kecintaan dan kebanggaan pada daerah wisata menjadi penting ?

Lah kalau kita cinta dan bangga akan daerah kita kan punya rasa memiliki jadi saling menginformasikan lalu saling mempromosikan sehingga akhirnya dari rasa cinta itu muncul upaya dikalangan anggotanya sendiri untuk mengeksplor daerah-daerah wisata potensial tapi masih tersembunyi.

Di WA grup setiap hari muncul tempat-tempat wisata yang masih tersembunyi bahkan pemerintah mungkin belum tahu. Muncul usaha-usaha untuk mempromosikannya dan bagaimana supaya bisa diakses karena dimanapun manusia di dunia ini kalau mau berwisata syaratnya harus aman dan nyaman.

Jika melihat pertumbuhan sebagai sebuah perkumpulan masyarakat yang demikian cepat apa tidak ada rasa khawatir nanti banyak kepentingan yang ikut masuk dan mendompleng

Kepentingan kita adalah membuat masyarakat menjadi sadar wisata mulai dari presiden hingga ke seluruh lapisan rakyatnya. Mereka yang bergabung untuk kepentingan di luar pariwisata akan tersisihkan dengan sendirinya. Oleh karena tujuan kami hanya yang positif untuk pariwisata bukan politik atau kepentingan lainnya. Ada budaya yang terbangun dari setiap group WA yang ada jadi kalau mau punya kepentingan di luar itu cari komunitas lain saja. Artinya seleksi alam akan terjadi karena anggotanya adalah 3 in 1, ada birokrat, pelaku wisata, profesional dan individu yang cinta pariwisata.

Jadi tidak perlu ada filter, kalau mau mendompleng atau menunggangi silahkan asal untuk keuntungan bersama dalam mengembangkan pariwisata Indonesia. Selama tidak merusak kepentingan pariwisata monggo saja bergabung.

Bagaimana Gernasta menempatkan dirinya dalam pengembangan pariwisata nasional ini ?

Kami ingin Gernasta ada di semua Kabupaten di Indonesia, kalau dalam sebulan saja lahir 5-10 organisasi Gernasta di daerah maka kita ingin dari 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota ada Gernasta. Tapi tidak perlu dipaksakan juga keberadaannya karena kami fokus pada masalah sosial yang berhubungan dengan rasa aman dan nyaman.

Saya rasa pembagian tugasnya sudah jelas karena kita membangun kesadaran masyarakatnya, sedang pemerintah yang membangun hardware seperti fasilitas infratruktur maupun industri pariwisatanya. Kami bergerak tidak dengan dana pemerintah apalagi sampai minta-minta pada pemerintah.

Kalau rakyat sudah cinta dan memiliki sadar wisata maka menemukan cara penggalangan dana serta solusi sendiri. Jadi salah kalau ada yang beranggapan Gernasta ada dan berharap ingin mendapat kucuran dana dari pemerintah. Soal dana bisa belajar dari cara kerja relawan ketika Pilgub atau Pilpres Presiden Jokowi .

Apakah lahirnya Gernasta karena ingin mengawal atau membantu Presiden Jokowi mencapai target kunjungan 20 juta Wisman tahun 2019 nanti ?

Keberadaan kami tidak ada hubungannya dengan target-target yang dicanangkan presiden Jokowi. Cara pandangnya adalah menyambut baik keterbukaan dan kepedulian kepala negara yang telah menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak perekonomian bangsa.

Presiden serius membangun 10 destinasi wisata baru di luar Bali dan setiap tahun akan ada daerah-daerah lain yang disiapkan untuk tujuan wisata baru . Gernasta fokusnya pada kesadaran masyarakat jadi pada praktek kehidupan. Kalau kepala negara sudah menjadikan sebagai penggerak ekonomi kan yang harus menikmatinya langsung justru rakyat sebagai ujung tombak pariwisata.

Kita sudah mendengar dari para anggota Gernasta di DIY Yogyakarta dan Bali banyaknya praktek memalak yang ditujukan pada wisatawan dalam dan luar negri. Kuliner minuman tradisional di kaki lima tapi ditodong bayar harga Rp 275 ribu untuk 10 orang. H arga parkir bus wisata Rp 200 ribu, masuk Pura Agung Besakih di todong sumbangan jutaan rupiah. Padahal Bali dan Yogja saat ini adalah destinasi favorit.

Nah teman-teman Gernasta di daerah itulah yang akan menyadarkan masyarakat dan pelaku pariwisata setempat bahwa kalau tamu dipalak maka orang akan kapok datang. Kalau nanti tidak ada yang datang lagi bagaimana nasib priuk nasimu ? kami fokus pada menanamkan kesadaran pada masyarakat bahwa multiplier effect atau dampak berganda pariwisata ini besar sekali. Kalau ada yang menuai keburukan maka buntutnya akan panjang karena itu melayanilah dengan baik,

Kementrian Pariwisata gencar promosi di mancanegara, bagaimana pandangan bapak mengenai promosi yang efektif  ?

Promosi yang efektif sebenarnya adalah penyebaran berita dari mulut ke mulut atau bahasa jawanya getok tular dan bahasa internasionalnya komunikasi world of mouth ( WOM). Gernasta lahir karena kekuatan dari WOM ini didasari kecintaan pada tanah air. Percaya ucapan temannya lalu dari individu-individu menjadi kelompok yang membesar jadi tingkat daerah sehingga akhirnya kami membentuk Dewan Pengurus Nasional ( DPN).

Promosi wisata luar negri saya percaya masih tetap efektif hasil dari mulut ke mulut, oleh karena itu Gernasta hadir agar wisatawan lokal maupun mancanegara merasa puas berkunjung ke destinasi wisata di Indonesia, sesuai dengan butir-butir Sapta Pesona yang saya sebutkan diawal dalam menerapkan sadar wisata.

Kalau wisman puas datang ke Indonesia maka akan bercerita dari mulut ke mulut dengan teman maupun keluarga. Buat saya media luar ruang, TV maupun viral communication lainnya hanya untuk reminder atau mengingatkan. Promosi paling ampuh ya tetap dari mulut ke mulut karena itu promosi dalam negri jangan diabaikan juga apalagi kalau menilai promosi luar negri adalah segalanya.

Jadi konkritnya bagaimana Gernasta bisa bermitra dengan stakeholder pariwisata seperti pemerintah, siapa melakukan apa ?

Kita menyadarkan orangnya jadi fokusnya ke praktek kehidupan dan orang yang suka pariwisata, suka traveling atau cukup paham saja dengan pariwisata di negri ini jumlahnya jutaan orang. Membangun jiwa itu urusan Gernasta. Jadi ‘rukh’ nya pariwisata itu ada di Gernasta sedangkan pemerintah tugasnya membangun raga. Apa sih raganya pariwisata kan fasilitas, infrastruktur dan promosinya.

Kami Ini organisasi masyarakat bukan partai bukan pula asosiasi yang memiliki kepemimpinan makanya kalau di daerah jadi Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Pusat. Kalau Gernasta sesuai namanya maka kami ini perkumpulan masyarakat oleh karena itu adanya Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Pusat ( DPN) di pusat. Memimpin dan mengurus itu jauh berbeda. Namanya juga pengurus maka yang terlibat di dalamnya harus mau melayani, memfasilitasi anggotanya bukan cuma memberi komando.

Kami masih terus menata organisasi dan sebagai Ketua Pembina tentunya akan ada rambu-rambu dan kode etik yang harus ditaati untuk melayani kepentingan anggota dan aturan yang fleksibel. Yogyakarta telah kita tetapkan menjadi Center of Excellent Gernasta dan dijadwalkan peluncuran pada 21 Mei 2016 oleh Presiden Jokowi. Pariwisata membutuhkan leadership jadi kalau beliau berkenan langsung menjadi figure nasional maka ketergantungan pada sumber daya alam terutama minyak bisa beralih ke pariwisata sebagai sumber utama devisa negara. Kita tidak butuh slogan tapi aksi nyata. ( hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.